Satu

539 10 0
                                        

Duuuh kan.. sudah malam gini dan aku malah gak bisa tidur karena omongan Calista tadi siang. Tuh anak bikin galau saja deh tengah malem gini! Ngapain sih, si Calista repot-repot maksa aku buat kenalan sama temennya Deva? Mana besok lagi! Langsung ketemu pula! Bikin kerjaan banget sih ih. Kan yang single aku, kok jadi dia yang repot?

Well, kenalin. Aku Wizela Ardinta, panggil saja Zela. Malam ini aku di buat uring-uringan oleh seorang sahabatku sejak zaman seragam putih-biru, namanya Calista. Dia dan sang pacar—Deva—berencana mengenalkan aku dengan salah seorang sahabat dekat Deva esok hari. Face to face. Horor, kan? Absolutely horor untukku.

Aku masih muda dan imut, masih duduk di bangku kelas 11. Aku bersekolah di salah satu sekolah menengah negeri yang letaknya tak begitu jauh dari rumah.

Kembali pada masalah malam ini, aku terus berusaha fokus pada PR yang ada di depan mata, yang sedaritadi aku abaikan karena pikiranku yang masih terfokus pada obrolan dengan Calista siang tadi. Aku berusaha kembali melihat soal yang kini sudah tak berbentuk. Arghhh!! Calista, aku takut!!

***

"Ya kenalan dulu saja gak apa-apa kok, Zel, kan yang penting deket dulu, baru entar gimana-gimananya ya terserah lo." ujar Calista.

Aku yang sedang duduk di teras rumah, menatapnya—mereka—sebal. Sebal karena sedaritadi mereka bawel. Sebal karena urusanku terlalu dicampuri mereka. Iya, tahu kok tujuan mereka baik, tapi kalau aku risih gimana?

"Iya, Zel, dia anaknya baik kok tenang saja, ganteng juga lagi." dukung Deva.

Aku menyipitkan mata padanya, "Kok lo bisa bilang kalau dia ganteng?" tanyaku curiga.

"Iiiih Zela! Jangan gitu dong sama pacar gue! Pacar gue normal tahu! Udah bagus dibantuin cari pacar kan. Kasihan tau gue ngelihat lo terus-terusan jomblo—"

"Single!" ralatku cepat.

"Yaudahlah apapun itu, pokoknya besok. Awas kalau lo sampai menghindar!" ancam Calista

"Lagian gue gak menghina Deva. Lo aja tuh yang negative thinking" elakku

***

Besoknya, di sekolah aku cuma duduk sambil bengong di kelas pada jam istirahat karena merasa bingung memikirkan nanti siang. Calista sudah merencanakan pertemuanku dengan teman Deva itu siang ini—sepulang sekolah. Masa kenalannya langsung ketemu sih, gak lucu banget. Gak tau kikuk apa? Kenapa gak coba komunikasi via chat dulu gitu? Aku menidurkan kepala di meja kelas dan menahan rasa lapar sambil menunggu Sava balik dari kantin.

"Zel, jangan lupa ya nanti kumpul. Jangan sampai gak dateng loh!" ujar Sava mengingatkan ketika kembali dari kantin.

"Kumpul? Kumpul apaan?" tanyaku bingung. Akibat masalah temennya si Deva jadi lupa segalanya kan nih.

"Iih kumpul acara ekskul, makan-makan. Masa lupa sih!" jawab Sava agak sedikit kesal.

Aku langsung duduk tegak dan mengembangkan senyum paling bahagia, "Oh iya! Thanks, Va! Sumpah lo malaikat penolong gue!" ujarku gembira.

Sava tampak bingung, tapi malas menanyakan hal ini lebih jauh dan hanya mengedikkan bahu lalu duduk dan memakan makanan yang tadi dibelinya dikantin. Hahahaha thanks God, you help me to escape this problem. Ini acara emang udah dari lama direncanakan dan aku harus datang dong pastinya. Sedangkan, pertemuan sama temennya Deva baru direncanakan kemaren jadi masih bisalah gak hadir. Wahahaha akhirnya ada jalan keluar juga supaya gak ketemu langsung sama temennya Deva.

Aku mencomot bakwan yang ada di sterofoam milik Sava. Sava langsung menyentil tanganku, "Eitts! Apaan lo main ambil-ambil saja bakwan gue!" protesnya.

Aku tersenyum lebar, "Laper, Va." sahutku melas.

Dream BoyWhere stories live. Discover now