Hemos actualizado nuestras Pautas de Contenido.
Consulta las pautas más recientes para seguir compartiendo historias de forma segura.

1. Raa dan San

22.5K 583 55
                                        

Kepada dunia, terbaringlah rahasia terbesar penghuninya. Mengalir bersama pusaran waktu yang senantiasa mencekik, dan berdentum bersama detak jantung bumi yang akan terus berjalan. Mungkin rahasia ini akan tersembunyi di dalam ceruk terdalam dan tersempit, namun bisa juga rahasia ini tersebar menjadi partikel-partikel udara yang kita hirup tiap saat. Bagi pengemis paling miskin, pemimpin negeri-negeri yang besar, para petualang, maupun pertapa. Bagi kakek senja di ujung usianya, bayi kecil, maupun seorang remaja.

"Aku bahagia," kata San. Sore yang cerah menerpakan cahayanya melalui jendela kelas, memberi pencahayaan yang sempurna baginya untuk sekadar duduk-duduk dan mengamati kehidupan yang menyemut di lapangan bawah.

"Apa yang kau bicarakan? Aku melihatmu melamun. Kau tahu apa yang terjadi saat kau melamun? Pikiranmu penuh akan sesuatu yang tidak dapat kau utarakan atau kau tuliskan, San," keluh seorang gadis muda di sebelahnya.
Mata gadis itu tampak sayu, lelah, dan seolah berkata 'aku sudahi saja - apapun yang sedang aku kerjakan bersama gadis bodoh ini', namun dari nada bicaranya, kau akan mengira ia adalah Ibu San. Segala macam kelembutan dan kekhawatiran bercampur aduk dalam suaranya.

"Oh, tapi aku sungguh-sungguh, Aif. Aku memang bahagia," sergah San, mengarahkan pandangannya lekat-lekat ke arah lapangan yang dipenuhi anak lelaki.

"Tidak perlu sihir di SMU ini, untuk melihatmu sedang bersedih," Aif akhirnya duduk di depan San, memberinya pandangan menuntut yang mengganggu San dari observasi kehidupannya.

"Kau salah mengira, Aif. Kali ini kau salah," ujar San, kini matanya menyapu citra menyeberangi lapangan, dan menjurus ke masjid kecil di sudut sekolah yang nyaris tersembunyi di balik pagar kawat yang tinggi.

"Apa?" Aif benar-benar keheranan dengan tingkah sahabatnya ini. Apa yang ia makan sehingga bisa segila ini?

"Aku benar-benar bahagia," kata San, tak setitikpun senyum muncul di bibirnya. Justru keningnya mengerut dalam dan bibirnya menipis. Menampakkan sebuah ekspresi yang tak seorangpun manusia pernah menamainya. Bahkan tidak San sendiri.

~

Lihatlah ia. Sosoknya yang tinggi tidak mungkin tidak menjadi perhatian di kerumunan yang bising itu. Meski itu merupakan hari paling panas sepanjang tahun - hari puncak musim panas di Maroko selalu terasa seperti neraka - San tidak akan pernah melupakan hari itu sepanjang hidupnya. Hingga berpuluh-puluh tahun berikutnya, San akan terus bertanya-tanya, apa jadinya hidupnya jika hari itu ia memutuskan untuk tetap duduk di kelas alih-alih bergabung dengan kerumunan dan melihatnya.

Raa.

Siswa dua tingkat di atas San. Yang selalu mendapat predikat "pembantu Tuhan" karena selalu menjadi orang pertama yang datang ke masjid setelah adzan berkumandang. Yang tidak pernah kelihatan bodoh karena selalu menjadi pembicara paling sempurna di khutbah shalat Jum'at. Yang langsung menunduk saat melihat gadis tercantik di sekolah, alih-alih bersiul seperti anak lelaki lain.

Mata San terkunci pada Raa. Raa yang sedang berjuang menembus kerumunan yang berdesing seperti sayap ribuan lebah. Lapangan SMU mereka sudah cukup panas karena tidak ada pepohonan di tepiannya. Jalanlah ke tengah lapangan bertelanjang kaki siang-siang, dan jika kau beruntung, sebelum sampai di tengah, telapak kakimu akan mengelupas dan kepalamu akan pening karena teriknya. Sekarang lapangan serasa tiga kali lebih panas karena kau tidak bisa geser sedikit saja tanpa menyenggol lengan atau menginjak kaki orang lain. Namun San tidak peduli.

San mengikuti Raa yang menyeruak ke tengah kerumunan yang melongok-longok penasaran. San pun masih belum tahu apa yang terjadi, dan dari tatapan bingung serta cemas Raa, San menduga ia pun juga tidak tahu. Kerumunan membuka sedikit, memberi sudut bagi San untuk mengintip.

Tampaklah seorang siswa yang terbaring menelungkup. Saat jantung San berdegup kencang mengira ia telah mati, bahu anak lelaki itu naik. Lalu turun. Dengan lambat dan lemah. Terlihat garis-garis hitam berminyak yang melintang dari kanan ke kiri, dari atas ke bawah, silang-menyilang . Beberapa langkah darinya, seorang siswi berlutut membelakangi San, badannya gemetar karena tangis, seolah ada gempa bumi yang mengguncang seluruh jiwanya. Di punggung gadis itu terdapat garis-garis hitam yang sama.

Di dekat gadis itu, berdirilah Pak Zar, guru SMU paling menyeramkan yang pernah ada. Wajahnya tegang dan amarah tergurat dari tiap kerutan di pelipisnya, jenggotnya yang memutih, keringatnya yang menetes satu-satu, dan tarikan napasnya yang memburu. Lengan kemeja putihnya tersingsing, dan San menyusuri lengan berurat itu hingga menemukan sebuah ikat pinggang tergenggam di telapak tangan Pak Zar. Rupanya garis hitam di punggung kedua anak itu adalah bekas cambukan.

San memandang ngeri kepada anak lelaki yang pingsan itu. Dan dari isakan gadis di sampingnya, San berasumsi bahwa sebentar lagi, gadis itu akan segera menyusul. Pak Zar mengangkat ikat pinggangnya lebih tinggi daripada sebelumnya, sepertinya bersiap untuk melayangkan pukulan terakhir yang mematikan.

Namun sedetik sebelum tangan beruratnya mengayunkan tali kulit itu, sesuatu terjadi.

🌹

Ini gimana caranya publish? Eh ini satu part kepanjangan apa kependekan, ya? MashaAllah ini aku malu mau nge-publish.. Eh kalo nanti ngga ada yang baca gimanaaa Ya Allah 😥
Itu reaksi saya mau publish story pertama di Wattpad. Mohon kritik dan sarannya, ya.😅 Feel free to chat me! Please please pleaseeee don't forget to comment and VOTE, therefore you already support a beginner and give her hope! 😆😆😆

Kapan Aku Pernah Berhenti [completed] Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora