01

24 0 0
                                        

Aku berjalan melewati koridor sekolah yang sudah sepi, tapi samar samar ku dengar suara gitar yang merdu. Aku berjalan pelan menuju suara merdu itu.

Benar saja, suara merdu itu ada didalam ruangan osis, Dani. Batinku.

"Belum pulang?" Tanyaku sembari menaruh tas yang ku gendong itu ke atas meja.

"Kenapa?" Jawabnya.

"Gapapa, ini kan ruang osis. Emang lu osis?" Tanya ku.

Ia menaruh gitar itu, lalu meninggalkanku.

"Banyak tanya. Ayo ikut gue"
Ajaknya yang sudah duluan keluar dari ruang osis.

Aku mengikuti langkahnya, ia melangkahkan kakinya ke tangga. Ya, sekarang kita sudah di rooftop sekolah.

"Ngapain kesini?" Tanyaku dengan nafas yang sedikit ngos-ngosan.

"Tau gak kenapa matahari itu panas banget?" Tanya Dani kembali.

Aku menarik 2 bangku bekas, untukku dan Dani duduk.

"Emmm karena suhu nya 15 juta derajat celcius" jawabku ngawur.

Dani hanya tersenyum, senyumnya itu membuatku mengernyitkan jidat.

"Pinter" ucap dani sambil mengusap usap kepalaku.

"Ga penting banget pertanyaan lu, balik yok? Udah jam 5 nih entar nyokap gue nyariin lagi" ajak ku.

"Yok, gue anter ya" tawarnya.

Aku hanya mengangguk pelan, tanda menyetujui ajakan Dani.

Setalah 10 menit dari perjalananku dari sekolah ke rumah, akhirnya kita sampai. Rumahku tepat di sebelah rumah oma nya Dani.

Aku bisa kenal sama Dani karena 7 tahun yang lalu ibunya Dani sering membantu ibuku membuat kue kering.

Tapi ibu Dani sudah meninggal, ia menjadi anak yatim piatu. Sekarang Dani tinggal dengan oma nya yang sudah berumur 71 tahun. Dani juga tidak punya saudara, ia anak tunggal.

Bisa dibayangkan betapa sepi kehidupannya. Sehari hari Dani hanya dikamar atau nongkrong bersama teman teman geng motornya.

Karena itu Dani terlihat dingin, tapi ia juga tetap perhatian kepada temannya. Bahkan ke aku dan ibuku juga.

Aku merebahkan badanku di kasur empuk ku, aku mengambil hp ku dari saku kananku. Ada 2 panggilan tak terjawab dari Nadin.

Nadin adalah sahabatku sejak SMP, tingkahnya yang terkadang seperti anak kecil membuatku gemas.

Aku menelfon kembali Nadin.

"Kenapa din?"

"Ven, lu tau gak?"

Iya namaku Viana Azzahra, tapi semua temanku menyebut namaku Vena.

"Apaan?

"Agung! Temen Smp kita dulu yang nembak elu sampe 10 kali. Tapi lu tolak!!"

"Iya kenapa?"

"Dia ngekost di kost gue OMG gue kaget banget. Dan dia inget gueeee"

"Lebay amat!"

"Satu lagi! Dia minta nomor lu!!!"

Cara ngomong Nadin emang tidak santai, bahkan ia kalau sudah ngomong seperti sedang nge-rap.

"Jangan dikasih please banget Nad!"

"Oke oke"

Akhirnya Nadin menyudahi telefonnya, aku duduk di kursi sambil mengetuk ngetuk meja belajar ku dengan 3 jariku.

Aku teringat kejadian satu tahun yang lalu, saat Agung menembakku yang ke 10 kalinya. Ia sangat putus asa, dan bahkan ingin memukulku dengan kursi kayu. Kejadia itu saat hari sabtu, saat setelah pulang sekolah. Untungnya Dani datang lalu menendang Agung hingga terjatuh. Kejadian itu masih sering terbayang bayang di pikiranku. Aku takut jika Agung menghubungiku lagi dan mengajakku bertemu.

"DORRRR"

"Aaaaa Kak Keviiiin"

Ia, dia Kevin pratama. Ia kakak laki laki ku satu satunya. Ia hanya beda 1 tahun denganku, sekarang ia kuliah di salah satu Universitas terbaik di Indonesia. Ia memang sedikit jahil, tapi ia juga sangat perhatian denganku. Bahkan teman temanku menyebutnya "kakak rasa pacar".

"Ngelamunin apasih? Ayo makan. Udah ditungguin mama tu dibawah" ucap kak Kevil sambil menaruh tangan kirinya di pundakku.

"Eng-enggak kok, yaudah ayo turun. Vien juga udah laper" jawabku dengan sedikit terbata.

Keluarga kecilku sudah berkumpul diruang makan, termasuk mba Yuyun. Pembantuku yang sudah bekerja disini selama 7 tahun.

"Gimana kabar Dani, De? Tanya ayahku.

"Baik kok, tadi Vien di anter pulang sama dia" jawabku.

"Papa suka sama Dani, walaupun orangtuanya sudah tidak ada. Tapi dia masih bisa jaga diri" Ucap ayahku sambil memotong ayam bakarnya.

Aku hanya tersenyum mendengar ucapan ayahku. 15 menit selesai makan malam dengan keluargaku, aku kembali ke kamar lalu mengotak atik handphoneku. Lalu 1 buah pesan masuk. Hah? Dani?. Aku buru buru membuka isi pesan itu.

Dani

Besok gue pengen beli baju.
Temenin ya!

Males :p

Aku menunggu balasan dari Dani, namun 1 jam sudah berlalu, tapi ia tidak juga membalasnya. Aku pun memutuskan untuk tidur, dan mematikan handphone dan lampu tidurku.








🦄🦄🦄
Hi, im back with new story wkwkwkkw!
Padahal yang 1 belum selesai.
Semoga suka yaaa!
Jangan lupa vote dan coment!
😘

First Love.Onde histórias criam vida. Descubra agora