Kenapa senja terdengar lebih romantis dari pada fajar.
Apa karena perpisahan lebih membekas dari pada pertemuan ?
Dua tahun sudah aisya terjebak dalam labirin nostalgia sebuah cinta yang pernah bersemi dihatinya.
Hari hari berlalu dan tak pernah sedikitpun aisya melupakan sang pangeran senja.
Iya pangeran senja julukan untuk lelaki yang pernah mengisi hatinya.
Pergi secepat jingganya langit senja.
Dellon namanya yang dua tahun lalu sempat mengisi ruang hati aisya.
Pertemuan yang tak sengaja di sudut kota kecil.
Saat itu pukul 17.30 aisya bergegas untuk pulang ke rumahnya mengingat jalan ke arah rumahnya agak sepi.
Sambil membawa setumpuk buku pelajaran yang lumayan berat aisya berjalan dengan cepat.
"Lumayan sepi juga jalanan tak seperti biasanya" gumam aisya.
aisya merasa ada yang mengikutinya dari tadi. Aisya mempercepat langkahnya sembari memegang erat buku di tangan nya.
Ketika aisya berlari kecil karena merasa ada yang mengikuti buku yang di genggaman nya pun terjatuh.
Aisya mengambil buku itu namun saat aisya hendak meraih buku itu di tanah ada yang menarik tangan aisya.
Tangan kekar berkeringat dan terdapat banyak tato pada punggung tangan nya.
Aisya seketika melihat sang pemilik tangan tersebut.
Aisya hendak menjerit karena yang memegang tangannya adalah orang asing yang menyeramkan dengan banyak tato di tubuhnya. Apalagi jika bukan preman.
"Hai manis, mau kemana" ucap manusia mengerikan itu. Aisya ketakutan badannya menggetar dan matanya berkaca kaca. Preman berotot itu pun tersenyum mesum pada aisya dan hendak menyentuh wajah aisya.
Dan tiba tiba "bug" tendangan keras mendarat pada pinggang sang preman. Aisya terduduk lemas ketakutan menutup matanya agar tak melihat apa yang terjadi. Suara hantaman terus terdengar sampai terdengar hantaman cukup keras yang membuat aisya semakin ketakutan. Aisya tidak mendengar apa apa lagi karena aisya menangis kencang ketakutan.
"Hai,permisi nona" suara lembut dan terkesan menenangkan itu datang dari depan aisya. Aisya sontak mengangkat kepalannya dan melihat ada tangan yang mengulur padanya.
"Sini ku bantu berdiri" katanya dengan lembut. Aisya pun menerima uluran tangan tersebut. Aisya menunduk dan masih saja menangis ketakutan.
"Hei, sudah tak apa kau aman" suara lembut itu berusaha menenangkan aisya. Aisya menghapus air matanya dan melihat sosok tinggi berkaos hitam aisya menengadahkan kepalanya untuk melihat wajah sang penolong tersebut. Wajah itu tersenyum manis kepada aisya.
"dellon" ucap sang pemilik wajah dengan senyum di pipinya.
Iya dellon lelaki yang memiliki tinggi 180cm bertubuh ideal dengan paras rupawan. Berhidung mancung dan gigi gingsul yang menambah manis senyumnya.
"Aa..aisya" ucap aisya sambil sesenggukan.
"Aisya ya. Ini sudah sore tidak baik berjalan sendirian, banyak orang yang tidak baik. Dimana rumahmu ?" Tanyanya sambil menggapai buku aisya yang berserakan di tanah.
"De.. dekat saja. Sekitar 50 meter dari sini" jawab aisya.
"Mari ku antar sampai rumah karena kau perempuan" katanya sembari memberikan buku buku aisya.
Aisya mengangguk dan mulai berjalan ke arah tujuan nya.
Saat di perjalanan hening tak ada yang berbicara.
"Kau tinggal di mana" ucap aisya berusaha memecah keheningan.
"Oh. Masuk ke gang sana" ucapnya sambil menunjuk gang disamping gang rumah aisya.
Hening.... tak ada lagi yang berbica.
Sampai aisya tiba di depan rumahnya "terimakasih banyak" ucap aisya.
Dellon hanya mengangguk dan tersenyum lalu beranjak pergi meninggalkan rumah aisya.
Aisya pun segera masuk karena langit sudah mulai gelap.
Bersambung part 2..........
YOU ARE READING
Merindu Penghujung Senja
Short StorySemua ini tentang mu yang pergi secepat senja. mungkin jika aku menemukan yang lain maka senja ku tak seindah senja yang lalu bersama mu
