Jika ditanya apa hal yang paling kuhindari didunia ini, aku akan jawab dengan lantang yaitu REUNI. Sebenarnya reuni itu acara menyenangkan, namun bagiku tidak. Itu kenangan mengerikan.
Aku takut. Hadir disana hanya akan membangkitkan memori masalalu yang amat buruk. Aku memang tidak bisa menghindar selamanya, namun keenggananku akan hal itu tetap besar. Dan sekarang undangan itu muncul. Menyentil keegoisanku.
Undangan reuni mampir ditangan mungilku. Bukan hanya sekedar undangan reuni, bahkan salah satu orang yang ada di dalam masa laluku muncul dengan senyum lebarnya.
Aku menatap dingin padanya, jujur saja aku muak melihat keberadaannya. Seakan tidak terpengaruh, dia dengan lancangnya menarik tanganku agar mendekat kearahnya.
Mataku membulat, ia memelukku. Pria ini memelukku, demi hashirama yang melawan madara. Orang ini masih gila, bahkan bertambah gila.
"aku merindukanmu, sangat merindukanmu. Aku sangat senang bertemu denganmu lagi, Jung Eunji" ucapnya yang terdengar gembira.
Tubuhku menegang, kalimat yang tidak pernah aku bayangkan terlontar dari bibirnya. Shit, kalau begini terus aku bisa luluh kembali.
Yak, kau bukan lagi Jung Eunji, kau Giselle Jung, kumohon jangan sampai terjebak lagi. Dia brengsek. Kau harus ingat, dia salah satu dari sekian banyak orang yang telah menyakitimu. Bangun Giselle Jung, don't weak like this.
Iya benar, aku tidak boleh lemah. Dengan kekuatan penuh, aku berusaha melepaskan pelukan itu. Dan berhasil, aku kemudian menatapnya tajam. "hentikan semua omong kosongmu, Park Chanyeol. Aku muak mendengarnya" balasku dengan suara tinggi.
Tanpa membuang waktu, aku melangkah menjauh. Teringat sesuatu, aku berbalik kembali. Aku masih bisa melihatnya diam.
"satu lagi, jangan mengikutiku terus. Aku tidak mau dan tidak akan pernah mau menghadiri acara bodoh itu, jadi berhentilah berharap" ancamku padanya. Setelah itu aku benar-benar pergi dari hadapannya.
.
.
YOU ARE READING
Reuni
General FictionReuni? apa aku sanggup menghadiri acara yang akan kembali menyesakkan dadaku. Kenangan lama yang tidak ingin kuingat akan muncul. Walau aku tidak yakin 'pria itu' akan datang, tapi tetap saja aku tidak ingin datang.
