°Prologue°

39 7 1
                                        

Sambil dengerin ya
Kena kok di bagian akhir hehehe

***

Vanya POV

Suara - suara itu membuatku terbangun. Aku melihat ke arah dinding, jam berbentuk bulat itu menunjukan pukul dua belas malam. Aku melihat seseorang berdiri di luar jendela kamarku. Ketakutan segera menjalar ke sekujur tubuhku. Keringat mulai bercucuran dan tiba-tiba dia memasuki kamarku lalu,

"Aaa !!!" teriakku memenuhi kamar. Aku melihat dinding, jam menunjukkan tengah malam. Persis seperti mimpiku. Aku menarik selimutku hingga dada, mencoba untuk tidur kembali.

Tok Tok Tok, suara ketukan dari jendela. Aku melihat ada bayangan, bayangan yang besar. Aku takut, kemudian aku segera lari keluar kamar, dan.....

"SURPRISE!!!" ucap ayah, bunda, adik dan kakak sepupuku. Aku kaget, bukan main.

"Kalian, membuatku takut..." kataku sambil memeluk bunda. "Selamat ulang tahun, sepupu kecilku!" Reza, kakak sepupuku mengucapi selamat yang pertama, kemudian bunda, adik dan ayahku.

Jam satu lewat lima belas, aku kembali tidur.

***

Pagi tiba

Sinar matahari masuk melalui celah-celah gorden. Silaunya matahari membuatku terbangun. Aku melihat jam yang menunjukkan pukul tujuh pagi.

Aku turun kebawah, dan seperti biasa makanan sudah disiapkan.
Meja makan tertata rapi, tapi bukan hanya meja makan yang tertata tapi. Bahkan kedua orang tuaku juga sudah rapi, seperti akan pergi ke acara yang sangat penting.

"Kalian mau kemana?" tanyaku penasaran. Kak Reza baru saja keluar dari kamarnya dan sama denganku, ia kaget melihat ayah dan bunda sudah rapi.

"Ayah mau pergi, ketemuan sama Mr. James, mulai besok kalian bertiga akan pindah sekolah ke Asrama Bones" ucap ayah dengan tegas. Adikku yang baru saja keluar kamar langsung kaget mendengar perkataan ayah.

"Itu kan salah satu asrama menyeramkan Yah." Kata Vanka, adikku.

"Hal itu tetap tidak akan merubah keputusan Ayah. Lagian kan, kamu belum melihat asramanya."

"Kan Ayah sendiri yang bilang kalo pembunuhan, selalu terjadi di asrama itu" ucapku membela.

"Ini adalah keputusan yang terbaik sayang" kata bunda sambil mencubit pipi Vanka yang Chubby.

"Reza, kamu jaga rumah ya. Kalau begitu Bunda pamit dulu. Bunda sayang sama kalian semua." ucap Bunda meninggalkan kami.

Rasanya aneh melihat ibuku berpamitan seperti itu.

***

Aku pergi ke kamar dan melihat selembar surat yang kudapati satu minggu yang lalu.

Dear Vanya,

   Lama tak berjumpa. Apa kabarmu?

Oh ya, asal kau tahu. Ohh, hal ini sungguh konyol menurutku, tapi aku benar-benar merindukanmu.

Maaf, karena membuatmu pindah kota. Kumohon kembalilah ke kotaku, kota kelahiranmu. Kota dimana kita pernah menyatukan benang yang terputus.

Aku tidak mau kehilanganmu lagi. Zerg? It's an awesome city. Kuharap kau menyukai kota itu seperti 'Black City'.

I'll waiting for you.

Love, 
     Vano  

Aku juga merindukanmu, batin ku berkata. Dia, Vano. Mantan kekasihku.

***

Kami menunggu hingga jam delapan malam. Tapi orang tua kami tak kunjung datang. Saat jam tiga sore tadi kami menerima surat yang bertuliskan,

 Saat jam tiga sore tadi kami menerima surat yang bertuliskan,

¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.

Mudah ditebak. Pasti tulisannya ditulis dengan mesin ketik, tebakku.

Tiba-tiba, ada seseorang mengetuk pintu. Kupikir itu ayah dan ibu, tapi
"anak dari Mr. Riles ?" tanya orang itu panik, kami bertiga saling bertatapan. Kemudian kak Reza berkata,

"Ya, saya anak paling pertama. Ada yang bisa saya bantu ?"

"Orang tua kalian... mereka, kecelakaan"
Aku kaget, bahkan lebih kaget dari kejadian tadi saat jam dua belas malam.
"Saya akan mengantar kalian ke rumah sakit segera. Ayo!" ucap bapak itu.

***

Gmn??? Bagus gk?
Yaudah lanjut aja, kalo suka lanjutin bacanya yaaa :)

§aibønpat (HIATUS) Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora