1

21 4 0
                                        

Dia Erga Abimanyu. Laki-laki yang sedang bicara dengan teman-temannya. Pria populer, tampan, pintar, dan kaya. Dia juga baik pada siapapun. Dan apesnya, aku menyukainya.

Sedangkan aku. Aku hanya wanita biasa, kaya enggak, muka pas-pasan, populer juga karena "aneh" atau "lebih tepatnya sering enggak punya malu" kata Sika, teman sejati kemana pun dan dimana pun. Ada satu lagi sih, namanya Rinda. Anak bandung yang super duper baperan.

Jadi pengagum rahasia itu enak-enak sepet. Bisa liat kapan aja tapi harus pasang wajah bodo amat. Supaya orang-orang gak tau. Iya aku tau, harga diriku emang di atas segalanya guys bhahaha.

"San, udah ngerjain tugas mikro belum?" Aku menengok ke arah bersuara. Manusia ini, padahal tadi sudah line dan ku balas iya. Sekarang ngomomg langsung.

Aku hanya mengangguk lalu pura-pura melihat notice wattpad. Aku berayukur kepada pembuat wattpad karena aku bisa pura-pura dan membuat siapapun gak tau aku suka pada siapa.

Sika langsung duduk di sebelah ku dan menarik tas dan mengambil buku mikro ku. Kami sudah terbiasa dengan hal ini. Mungkin orang lain menganggap gak sopan. Tapi, heey, asalkan udah ijin dari masing-masing pemilik kan beres.

Sika mulai menyalin dan aku masih pura-pura membaca. Padahal aku ingin melihat Mas Erga. Kakak tingkat diatasku 3 tahun. Dan ketika aku menengok ke arah pintu masuk. Manusia gila satu lagi dateng.

"Saaan, Siiik, si Budi ngajak gue main coba. Temenin gue dooong. Plis yah" ku benturkan dahiku ke meja.

"Gue gak bisa Rin, Farid mau dateng ke sini soalnya ntar malem. Gue nyusul aja gimana. Sama si Santi aja. Dia kan jomblo" pacaran sama anak AKMIL bikin Sika memanfaatkan waktu semaksimal mungkin kalau pacarnya lagi libur.

Dan harapan satu-satunya adalah aku. Tentu saja aku. Gak punya pasangan. (Boro-boro pasangan, gebetan aja enggak.) dan aku gak punya acara ataupun tugas. Mau alasan belajar buat nyicil ujian paruh juga gak mungkin. Karena bagiku, ujian paruh adalah tryout hahaha. Dan mereka tau akan hal itu.

"Kemana emang ketemuannya" mau gimana lagi, lagian juga aku gak ada acara apapun.

Rinda langsung menyeret kursi dan duduk di depanku. Semangat yang begitu menggebu membuatku jengkel juga. karena tinggal aku sendiri yang masih belum ada pasangan. Betek maks.

"Dia sih ngajaknya nonton, tapi belum tau mau nonton di mana." seneng juga sih liat Rinda udah move on dari pria brengsek muka sok alim.

"Ya udah deh, asalkan jemput aja sih. Jangan lupa karena ini cuman aku yang nemenin, bayarin gue nonton sama makan. Titik gak ada koma apalagi tawar menawar." bodo amat kalau dibilang kejam deh. Demi harga diri dan kelangsungan jiwa.

"Astagfirullah, emang konco* ya, paling pintar memanfaatkan keadaan."

"I am." kataku sambil tersenyum cerah kearahnya."eh nontonnya di Transmart aja ya, aku males harus ke Semarang bawah."

Rinda hanya mengangguk sambil ngomel. Bahhaha emang enak. Gini-gini aku juga pengen kabur kalau seandainya manusia ini menyodorkan laki-laki yang aneh lagi.

Menurutku aneh. Karena mereka terlalu tinggi gengsi dan standar makan mereka di restoran mahal. Ogah banget lah sama cowok begini. Yang ada lama-lama aku jual ginjal kali. Pernah, pas aku ajak makan di masakan padang "bundo" mereka gak mau. Padahal enak banget. Katanya gak higienis, tempatnya kotor. Dan akhirnya aku mengalah untuk nemenin dia makan di The Hils dan besoknya aku harus puasa. Jancuk emang.
Dan aku memutuskan untuk cukup kita kenal disini aja.

•••••••

Baru jam 7 pintu kos sudah di gedor. Untung tadi pasang alarm. Dan akhirnya kita sampai di Transmart jam 8 karena aku mau sholat dan dandan. Supaya nanti aku pulang langsung cuci muka dan langsung tidur.

Waktu masuk ke mall, langsung aja disuguhi banyak orang. Bukan banyak, tapi penuh. Buset, ini mah bukan kayak mall lagi. Udah kayak tempat pembagian sembako. Biasalah, masih baru bukaan. Lagian juga malam weekend, pasti banyak yang ngajak anak-anak main.

Baru juga naik eskalator, si Budi udah nongol aja. Masang cengengesan di samping pak satpam yang selalu bilang "terima kasih sudah berkunjung". Bah, rasanya ingin sekali berkata kasar. Kenapa gak dari tadi sih, kan nanggung udah naik malah turun lagi. Mana ada diskonan make up lagi. Akhirnya Rinda dan Aku pun seperti orang bodoh. Setelah sampai atas malah belok ke eskalator turun. Baru juga pak satpam bilang "selamat ber..." kita udah naik eskalator yang turun. Baaaaah, ingin sekali ku tampol lelaki ini.

Setelah berbasa-basi akhirnya kita pun mutuskan untuk beli tiket dulu. Dari pada nanti penuh. Seperti yang dibayangkan, kita gak tau mau nonton apa, dan si Budi pun bingung mau nonton apa. Oke fix, ini cowok tanpa persiapan emang.

Setelah melihat-lihat, kita pun akhirnya nonton beauty and the beast. memilih kursi manapun asalkan bisa bertiga dan gak dibawah banget. Ya kali nonton sambil dongakin kepala. Yang ada keluar dari nonton pegel-pegel deh leher. No waaaay.

Setelah membeli tiket, karena masih ada waktu satu jam kita makan dulu. Dan aku hanya seperti ayam kecil yang ngekor ke induknya. Udah pasrah hidup ku, mau kemana aja juga bodo amat.

Setelah makan dengan berderai air mata. Karena ada acara kesedak sambel, dan sambelnya super duper pedes. Iyalah namanya juga sambel juancok. (Serius deh, ini sambelnya emang namanya sambel juancok. Bukan umpatan kalo ini). akhirnya kita langsung cus ke bioskop. Masih ada 15 menit lagi. Lumayanlah buat antre pop corn.

Dengan berbekal pop corn mix jumbo dan dua air mineral. Ini cuman buat gue. Dan duo pasangan itu milih pop corn mereka sendiri.  Tapi yang bayarin tetap si Rinda lah wkwwkwk. Iya gue tau ini namanya maruk. Tapi kalian bakalan melakukan hal yang seperti gue lakuin kalau kalian ada di posisi gue. Sumpaah deh, coba aja kalau gak percaya.

Masih belum banyak orang, barisan yang bakalan kita duduki juga masih kosong. aku memilih kursi ketiga dari kiri. Supaya kalau mulai bosen bisa keluar. Mengatur posisi senyaman mungkin, kaki ku kunaikkan, bersila dan mulai bersandar senyaman mungkin. (Jangan ditiru guys, kalau ketahuan sama pihak bioskop bakalan kena teguran wkwkwkwk).

Beberapa menit sebelum dimulai, aku melihat laki-laki yang sepertinya lebih tua beberapa tahun diatasku masuk dengan cewek yang super duper masih imut. Maksud imut ini maksudku kecil. Buset. Gila aja ni orang paedofil apa gimana. Jangan sampai dia duduk di sebelah ku.

Mampus, beneran duduk sebelah di sebelah ku.

Dan aku gak tau, kesialan apa yang menghampiriku malam ini secara beruntun.
Sepertinya aku lupa berdoa saat mau tidur kemarin malam. Huft.

Bantuin ya guys, kalau ada salah kata ataupun typo. Atau ada yang mau di perbaiki. Ada kata-kata yang gak nyambung bisa lah komen langsung. Thanks.
Jangan lupa like dan komennya yap. Lope yuuu ♥♥♥♥

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Jun 22, 2018 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

SantikaDonde viven las historias. Descúbrelo ahora