Chapter 1

345 14 1
                                        

Mendebarkan.

Satu pemikiran itu mendadak menelusup kedalam benak pikiran seorang Bethanie Janerd. Semua orang pasti akan merasakan perasaan yang sama meskipun sudah professional atau terbiasa sekalipun. Bethanie beberapa kali mendesah lantas memutar sepasang bola mata cokelatnya memandangi tubuhnya didepan pantulan sebuah cermin diwastafel dalam toilet sebuah perusahaan ternama Amerika. Perusahaan dengan ribuan karyawan bekerja didalamnya, jutaan dollar saham dan sejuta faktor yang membuat tiap orang sangat tergiur menjadi karyawan diperusahaan berkualitas ini. Biebers Enterprise.

Bethanie kembali mengigiti bibirnya yang berwarna kemerahan muda sembari terus saja menatap pantulan wajah dan tubuhnya didepan cermin merasa begitu nervous dan grogi. Sial, kenapa mendadak perasaan ini bisa muncul begitu saja padahal dia sudah terbiasa melamar kerja diberbagai perusahaan walaupun ini adalah kali pertama membayangkan bisa menjadi seorang karyawan di perusahaan sejenis Biebers Enterprise yang bekerja dibanyak industri.

Oke, tenang, relaks dan berusaha untuk tidak gugup. Oh ayolah Bethanie jangan memalukan.

Tunjukkan bahwa kau bisa dan mampu menjadi seorang sekretaris diperusahaan bergengsi ini. Gadis itu kembali menghembuskan nafasnya yang beraroma gummy dengan pelan, bola matanya memandangi penampilannya pagi ini. Apakah dia sudah terlihat menarik atau memang belum. Jujur, jika melihat para karyawan yang berlalu lalang di dalam gedung super mewah Biebers Enterprise terkadang dia merasa iri. 

Iri, karena mereka mempunyai pakaian semahal itu kentara sekali dari bahan blouse berkualitas. Untungnya lagi, dia mempunyai teman satu flat sebaik Kate Scalavane yang mampu meminjamkan dirinya pakaian kerja terbaik yang baru saja dia beli pada acara cuci gudang Soho Square seminggu lalu. Setidaknya, ini tidak begitu memalukan dibandingkan baju kerja mereka yang bermerek guess atau Armani. Fiuh, oke sekali lagi mencoba relaks.
            
Bethanie lantas berbalik untuk keluar dari dalam toilet mewah itu. Bayangkan, toiletnya saja begitu mewah dengan dekorasi sutera tebal ditiap dindingnya, lapisan besi disetiap wastafel dan berbagai ukiran disetiap sudut ruangan mengingatkan Bethanie pada ruangan dihotel bintang lima. Gadis itu menutup pintu toilet pelan-pelan, takut jika dia bisa merusak benda mewah itu sembari berjalan untuk melangkah melewati lantai granit mengkilat dibawah stilletonya. Jantung Bethanie berdegup lebih keras lagi seolah hari ini dia akan dihadapkan pada sebuah eksekusi mati. Ya ampun, kenapa mendadak dia merasa sedemikian nervousTidak, ini tidak boleh. Dia tidak boleh terlihat memalukan. Bethanie kembali menggerutu kecil, otaknya memutar mencoba untuk membayangkan bahwa dia akan pergi kepantai beralaskan selimut tipis berkerikil, atau berusaha memikirkan berondong jagung yang dijejalkan kedalam mulut sembari duduk dibarisan depan bioskop. Bethanie membasahi bibirnya yang mengkilat dan melangkah melewati tiap ruangan dalam gedung itu. Mewah sekali, dia merasa seperti berada didalam Istana Birmingham betulan sekarang.

 Dia tidak percaya bisa bekerja ditempat semewah ini. Ini seperti mimpi sungguhan. Sial. Mungkin, dia bisa mendapatkan gaji beberapa dollar disini. Setidaknya, cukup untuk membutuhi kebutuhannya tanpa harus menggantungkan hidup pada bibi Shane. Kedua orang tuanya memang telah meninggal sejak setahun yang lalu akibat peristiwa kecelakaan pesawat diperjalanan mereka untuk berlibur ke Jepang. Bethanie tersenyum lagi, benaknya berputar memikirkan bahwa dia bisa membeli jam Rolex yang sudah lama dia impikan, lalu membeli pakaian Guess, sepatu Prada,  tas Louis Vuitton, seminggu sekali memanjakan diri kesalon dan mungkin mem—“Awhhh!”Bethanie meringis terlalu sibuk pada ilusinya hingga tanpa sadar dia menabrak seseorang. Tepat menabrak pilar besar didepannya.

Gadis itu meringis kesakitan, tangannya refleks mengusap pelipisnya yang baru saja berbenturan dengan pilar keras itu. Ada rasa berdenyut dan ngilu bergelayut dikepalanya. Bethanie lantas mengangkat kepalanya. Detik itu juga, dia melihat seorang pria berdiri didepannya. Pria tampan dengan sepasang bola mata karamel, dan pandangan tajam yang menusuk. “Berniat bunuh diri?”Pria itu mencetus sembari memutar bola matanya sarkastik. Bethania ternganga. Sial, dia tampan sekali! Oh shit. Bibirnya yang tipis dan menggoda, benar-benar seksi. Ya ampun, apakah dia juga salah satu karyawan diperusahaan ini? well, ini berita baik. “Aku ng—“

Darker | j.bWhere stories live. Discover now