Tiga

55 4 2
                                    

Suasana ricuh mulai menggema saat kedua mobil mereka hampir sampai di garis finish. Suara knalpot yang begitu keras terdengar jelas bahwa diantara mobil tersebut sedang menambahkan speed untuk sampai di babak terakhir.

Seluruh penonton mengerubungi salah satu mobil yang berwarna hitam pekat. Mereka menyambutnya dengan memberikan ucapan selamat. Ya, pemenang untuk malam ini adalah Adinata Caesar Mahya. Pendukung dari Alex, juga ikut memberikan selamat. Belum sempat membuka pintu mobil, semuanya ramai membicarakan Adi. Kagum dengan bakatnya sekarang. Untuk selisih umur hanya satu tahun dengan Alex. Ia bangga bisa mengalahkan Alex.

"Sekarang percaya kan?" ucap Adi mengembalikan kunci milik Thomas.

"Kamu memang benar-benar, GOOOODDD JOOOBBB!!!" teriak Thomas sambil mengacungkan kedua jempol dihadapannya. Bagi orang asing tak mengerti Thomas berkata apa, yang mereka tahu hanyalah ucapan kata 'Good Job' saja.

Semuanya ingin berjabat tangan dengan gaya cool. Tapi sejenak, kemeriahan itu terhenti karena kedatangan Alex. Tatapan mata itu sangat tajam dan membunuh.

Situasi sekarang memang benar-benar hening, para penonton tak sabar ingin mendengarkan bagaimana sang legenda pembalap mobil harus mengakui kekalahannya. Dengan gerakan lambat, tangan halus yang menonjolkan otot berwarna hijau mulai mengulurkan tangan. Adi memang sengaja membuatnya menunggu, meskipun hanya beberapa detik.

Alex memberikan kode dengan cara alis sebelah kiri terangkat satu. Sedangkan Adi masih saja menimbang-nimbang. Perlahan tangan Adi membalas jabatan itu, dengan gerakan cepat Alex langsung memukul wajah Adi. Semua yang menyaksikan dibuat syok setengah mati.

Sudah ku duga! ucap Adi dalam hati.

"Cih!" desisnya sambil membalikkan badan ke arah Alex.

"Look!! his lips is bloody!" ucap salah satu orang karena melihat Adi terluka.

Melihat wajah Alex yang sudah memerah, Adi hanya menggeleng-gelengkan kepala. Adi tahu bagaimana sikap Alex selama ini, karena ia menyuruh Thomas untuk mengklarifikasi.

"Wait for my vengeance!" ujar Alex yang sudah menodong jarinya di depan mata Adi.

"Take him away." perintah Thomas kepada temannya untuk mengusir Alex.

Duduk di kursi panjang dan di lantunkan lagu remix membuatnya semakin ramai. Dentuman yang keras dan teriakan, begitu berisik di telinga Adi. Ia tak suka keramaian, yang dibutuhkan sekarang hanyalah kedamaian. Mood menjadi rusak karena ulah Alex, Thomas berusaha menghibur.

"Do you wanna drink?" Thomas menyodorkan gelas kecil ke arahnya.

"When you will stop to drink this?!" Adi merasa kesal karena minuman yang tersedia hanyalah botol berwarna hijau.

"Sekali-kali lah, Come On! This is our celebrate." rayu Thomas.

"Aku mau keluar dulu. Disini berisik."

"Oke!"

Adi berjalan lurus menuju ke pintu keluar. Dengan memakai baju yang pas dipadu dengan celana jeans denim, banyak wanita centil menghampirinya. Secara reflek Adi hanya bisa mengakatan 'Sorry, I can't.'

Untuk cuaca malam ini memang sangat cerah. Banyak bintang yang bertaburan, membuat Adi betah untuk memandangnya. Ia ingin pergi ke mobil Thomas untuk mengambil barang yang tertinggal. Kunci pengaman aktif, Adi segera masuk dan mencari. Tak ada lima menit, ia menutup pintu mobilnya dengan keras. Hendak membalikkan badan, tiba-tiba ada suara wanita yang memanggil.

"Caesar?" ucap wanita itu

Dia adalah wanita cantik di mata Adi. Meskipun banyak haters karena ia miskin, tetapi dia kuat dan tabah. Dia memang wanita yang hebat. Sampai bisa mengenyam pendidikan di Universitas ini karena ia mendapatkan beasiswa. Namanya Bella.

Sama seperti Thomas, blasteran. Antara Singapura dan Indonesia. Sejak kecil Bella sering tinggal di Indonesia. Mereka bisa kenal satu sama lain karena Bella meminta tolong Adi untuk mengambilkan buku di rak meja yang begitu tinggi.

"Masih ingatkan sama aku?" Bella mempertanyakan masa lalunya bersama Adi

"Oh, iya. Lalu kenapa kamu bisa di sini?" tanya Adi penasaran

"Aku dengar kamu dipukul sama Alex? Ini, aku bawakan obat." Bella menyodorkan plastik bening ke arah Adi.

"Tak apa. Aku baik-baik saja."

Melihat reaksi Adi yang seolah tak terjadi apa-apa, Bella memegang tangan Adi dan menariknya dengan erat. Ia hanya bingung mau dibawa kemana?

Sampailah dimana tempat itu benar-benar sepi. Jauh dari kata keramaian. Bella langsung mengeluarkan obat antiseptik satu persatu. Adi hanya mematung dan melihat gerak-gerik Bella yang begitu peduli.

"Mendekatlah." pinta Bella, namun pandangannya masih meneteskan obat berbentuk cair ke kapas.

"Apa?" Adi ingin mengulang apa yang dikatakan Bella barusaja.

"Baiklah."

Adi merasa canggung karena Bella terlalu dekat. Hembusan nafasnya begitu terasa di pipi Adi. Refleks, Adi bergeser secara pelan agar tidak begitu near.

"Biar aku saja." Adi meraih kapas itu di genggaman Bella

Untunglah Bella hanya mengangguk dan membereskan beberapa obat yang sempat berantakan. Tak lama kemudian Bella pamit pulang karena ini sudah larut malam.

Ketika orang lain peduli dengan dirimu, sempatkanlah untuk mengucapkan terimakasih. Dengan begitu, ia akan merasa senang karena bisa membantumu.

Sampai di Apartemen pukul 02.15 a.m

Adi langsung masuk ke kamar dan merebahkan badannya ke atas ranjang. Hari ini memang benar-benar melelahkan. Hembusan AC yang langsung menyelimuti Adi langsung terkapar dengan suasana. Ia tidur tanpa harus berganti baju. Masih mengenakan celana jeans.

Good Morning. Seperti biasa hari ini sangat cerah. Adi yang belum bangun terpaksa Mama harus mengetuk pintu. Meski tak ada respon, Mama masuk ke dalam ke kamar Adi. Berjalan ke arah pojok ruangan dan sreeeekkkkk suara korden pun terbuka lebar. Cahaya itu langsung menyoroti wajah Adi yang kebetulan menghadap ke arah timur.

"Hei, bangun. Sudah pagi." ucap Mama sambil mengayunkan bahu Adi.

"Eemmmmmm," balasnya.

"Mama sudah siapkan sarapan. Buruan gih."

"Eemmmmmm."

Masih terasa kantuk, Adi mengucek matanya pelan. Langsung pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah selesai, ia menemui Ayah dan Mamanya diruang meja makan.

"Adi sekarang sudah lulus. Nanti mau kerja apa?" ucap Mama.

"I don't know, Mom." singkatnya.

"Why?" tanya Ayah.

"Adi mau istirahat dulu, capek kuliah terus."

"Cepatlah cari kerja yang baik." ucap Ayah.

"Bentar lagi Mama sama Ayah mau ke Indonesia. Kamu ikut tidak?" kata Mama.

"Ikut Ma, tiba-tiba aku merindukan seseorang disana." Adi mengucapkan seperti itu sambil mengiris potongan sandwich yang hendak ia makan.

Saling pandang antara Pamungkas dan Fredella. Merasa kasihan dengan sikap Adi sekarang. Ingatan itu kembali begitu saja. Cerita singkat, Adi mengalami cidera di otaknya sampai harus lupa ingatan. Tapi itu hanya sementara. Untuk saat ini, ingatan itu masih belum kembali. Seringkali Adi merasa pusing jika mengingatkan hal-hal yang berbau masa lalu. Setiap hari, ia rutin untuk minum obat. Tapi semenjak tinggal di California, Adi terlihat jarang meminum obat yang berbentuk pil. Mungkin baginya itu sudah tak perlu lagi, ia sangat menikmati hidupnya sekarang.

___________________________

Kasihan ya Adi, harus mengalami seperti itu. Semoga cepet pulih yaa, hehe

Makasih untuk Cheffa karena sudah membantu saya dalam translator wkwk. Terbaekk deh

Ditunggu vote dan commen guys

Terimakasih :)

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 08, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Will You Stay By My Side?Where stories live. Discover now