Jack

94 0 0
                                        

Doanya malam ini berubah. Ahh tidak, semua orang yang mengenalnya tau bahwa dia tidak pernah berdoa. Lelaki berambut gondrong seleher itu, jangankan berdoa, kapan dia mengingat tuhannya saja pun barangkali bisa dihitung dengan jari.

Tapi malam ini doanya berubah. Semenjak saat ini, dia mulai berkeinginan untuk merubah dirinya yang urakan menjadi setidaknya yang wanita cantik itu sukai.

Ahh laki-laki, gampang sekali kaum mu berubah hanya karena kemilau seorang wanita. Harta, tahta, wanita. Mungkin benar bahwa salah satu godaan terbesar hidup kaum laki-laki adalah wanita. Bahkan ia rela mengubah seluruh hidupnya, atau memberikan seluruh hidup matinya hanya agar dapat menaklukan wanita yang diincarnya.

Tapi kali ini, tidak sebegitu mudah yang biasa dilakukannya. Menaklukkan wanita hanya dengan gombalan, rayuan, dan bualan. Yang pada akhirnya jika sudah mendapatkannya, bosan, kemudian ditinggalkan lalu mencari lagi yang baru.

Dia pernah mencobanya. Mendekati wanita itu. Percaya dirinya yang tinggi, didukung oleh parasnya yang rupawan putih bersih, matanya yang tajam, juga kendaraan yang mewah. Wanita mana yang tidak akan tertarik.

Sayangnya wanita incarannya kali ini tak semudah itu untuk ditaklukan. Wanita bermata teduh, bersuara sendu. Wanita berkerudung abu-abu yang tak sengaja ia jumpai saat tengah menunggu salah satu teman baiknya menunaikan Ashar di musjid kampus mereka.

Senja kala itu, terasa sangat menenangkan baginya. Ia menikmati langit yang jingga, cantik sekali. Rasa hangat dari sinar matahari sore menerpa wajahnya. Ini senja terindah yang pernah ia saksikan.

Kemudian cahaya matahari yang datang dari arah kanan tempat ia duduk di anak tangga masjid terhalangi oleh tubuh seseorang. Ia menoleh. Memperhatikan sesaat, seorang wanita yang sedang meletakkan sandal jepit berwarna biru di anak tangga.

Entah berapa lama dia terpana. Dia baru menyadarinya saat wanita itu berlalu darinya, tanpa membawa sendal jepit yang diletakkannya tadi di anak tangga. Apa ini mirip dengan cerita dongen Cinderella? Apakah dia harus mengejar wanita itu kemudian memberikannya sendal jepit berwarna biru tadi? Lalu mereka berkenalan, dan akhirnya hidup bahagia bersama.

Benar saja, laki-laki gondrong yang tak tau aturan itu langsung menyambar sendal jepit berwarna biru tadi, bergegas berlari menuju si wanita. Memberikan sendal jepitnya yang 'sengaja' ditinggalkannya. Yes, pesonaku memang selalu yang jadi juara.

"Afwan, saya memang sengaja meninggalkan sendal jepit itu di masjid. Untuk para pengunjung masjid yang membutuhkan sandal saat hendak berwudhu"

Wanita itu melanjutkan langkahnya, pergi menjauh semakin menjauh hingga hilang dari pandangannya. Sementara laki-laki gondrong itu hanya terbengong-bengong menyaksikan kejadian yang dialaminya barusan.

Jauh, sangat jauh. Wanita itu menantang, ingin segera didapatkannya. Matanya teduh, suaranya yang sendu namun terasa ada ketegasan didalamnya, terlebih tegas pada setiap laki-laki penggoda seperti laki-laki gondrong itu. Amboi, indah nian lah pokoknya. Itu yang selalu dikatakan hatinya saat mengingat si wanita.

Tapi sudah dikatakan kan? Jauh, sangat jauh. Wanita itu terlalu jauh dari jangkauannya. Pernah suatu ketika, ia sengaja menghampiri wanita itu di perpustakaan kampus setelah menguntitnya dari gerbang kampus. Masih dengan percaya diri yang tinggi ia memperkenalkan namanya.

"Jack", katanya sambil menyodorkan tangan. Tapi wanita yang dihadapannya diam saja, hanya mengatupkan kedua tangannya di depan dada dan pandangannya tetap tertunduk. Dipikirnya wanita ini hanya malu terhadapnya.

"Ya, sebenarnya namaku Zacky. Muhammad Zacky Rachmadan. Tapi aku lebih suka jika orang-orang memanggilku Jack. Jadi panggil saja aku Jack", lagi, wanita itu hanya diam saja, sedikit mengangguk.

"Afwan, ana harus segera masuk ke kelas. Permisi. Assalamu'alaykum".

Sebagai seorang playboy, Jack benar-benar merasa dipermalukan, diabaikan. Tak karuan isi hatinya. Pesonanya kali ini tak dapat membantunya. Malu, kala seisi perpustakaan menatapnya dengan pandangan yang mengejek.

Jack, bukan hanya playboy tapi dia juga perusuh di kampusnya. Jadi, wajar saja bila banyak orang yang tak suka dengannya, yang senang saat melihat dia dipermalukan seperti itu. Apalagi oleh seorang wanita.

Tapi bukan Jack namanya kalau gampang menyerah. Dia malah semakin tertantang untuk mendapatkan wanita itu. Bahkan dia sudah berencana untuk melakukan sesuatu yang tak pernah dilakukan sebelumnya.

Kalau wanita itu akrab dengan kegiatan agama, maka dia juga harus melakukan hal yang sama. Berada disegala macam kegiatan agama, yang tentunya juga di hadiri oleh si wanita.

Tetap masih tak semudah itu. Jauh, wanita itu terlalu jauh untuknya. Bahkan sangat jauh.

"Lu serius, Zack?"

"Serius lah, Mam. Gue nggak tau lagi harus berbuat apa. Dia udah terlanjur ngeleket di hati gue".

Imam, teman yang ditungguinya di masjid untuk sholat Ashar dan tak sengaja bertemu dengan wanita cantik bermata teduh itu. Kalau sekarang dia mengganti kata sengaja itu dengan kata: qadarullah.

Ahh wanita, banyak sekali perubahan yang kau bawa untuk si laki-laki gondrong yang urakan ini. Bahkan sekarang dia lebih senang dipanggil Zacky ketimbang Jack.

Kepada Imam, ia tumpahkan semua keresahannya. Kepilauannya. Tentang cintanya yang sudah tak lagi bisa diatasi dengan caranya. Tentang si wanita yang rupanya sudah melakukan ta'aruf dengan salah satu lelaki masjid kampus. Julukan yang diberikan Zacky pada lelaki itu.

"Berarti ini saatnya lu pake cara Allah, Zack. Tanya sama Allah apa yang harus lu lakuin buat mengatasi perasaan lu ini. Perbaiki sholat lu. Berdoa."

Dan sejak saat itu, doanya telah berubah. Berani-beraninya ia meminta yang mungkin saja bukan haknya. Tapi tidak tau harus berbuat apalagi, tinggal ini cara yang terakhir untuk mengatasi pilu hatinya. Semoga Allah mudahkan katanya.

"Assalamu'alaykum, Zack".

Selepas berbicara dengan Allah setelah menunaikan sholat maghrib, handphonenya berdering melantukan sholawat badar. Padahal sebelumnya nada telphone yang ia gunakan adalah salah satu lagu punk favoritnya yang entah apa lirik yang dinyanyikan karna hanya terdengar seperti dengungan dan teriakan.

"Wa'alaykumsalam, Mam. Ada apa, Mam?"

"Icha, Zack. Icha batal ta'arufannya sama Aldian. Soalnya Aldian keterima sekolah tahfidz di Mesir selama dua tahun".

"Qadarulla", sudah mulai menjadi kata favoritnya. "Masyaa Allah, Mam. Gue nggak tau harus bahagia apa sedih".

Sementara suara tawa Imam terdengar dari ujung telpon, Zacky tak henti-hentinya mengucap syukur pada Allah sekaligus beristighfar demi menenangkan perasaannya.

Percakapannya tak terlalu lama dengan Imam. Setelahnya dia hanya duduk dan merenung, memikirkan langkah apa selanjutnya yang harus dia ambil. Kemudian suara adzan isya yang berkumandang dari handphonenya sedikit mengejutkannya.

Kembali digelarnya sajadahnya, kembali dia berdoa. Mengutarakan segala isi hatinya.

Dalam hati ia berkata: kalau memang kata Allah kau adalah jodohku, dia bisa apa?

Hah, dasar laki-laki picik, pikirnya. Wanita itu sedang sedih pasti saat ini, malah dia bahagia serasa telah memenangkan piala athena.

PEREMPUAN YANG SEDANG BERADA DIDEKAPAN DOAHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora