Ketika Mentari tak lagi tersenyum

1.2K 20 1
                                        


*Di part satu ini akan sedikit berat karena pengenalan konflik utama, di part-part berikutnya akan terasa ringan dan sangat enjoy karena segi pandang dan karakter Klarisa dalam menghadapi masalahnya. Happy reading gaes. :)) jangan lupa ikutin cerita ini sampai selesai ya :).

Entah mimpi apa semalam, petir seperti menyambar hati Klarisa ketika membuka amplop di depan ruangan yang berdominan warna putih, hatinya hancur, air mata seakan tak tertahankan lagi untuk keluar. Dengan sekuat tenaga ia menahan air matanya.

" ya Allah, positif ?"

Ketika hasil lab ANA test (Anti-Nuclear Antibodies) Klarisa menunjukkan hasil positif, semua pikiran buruk memenuhi kepala Klarisa.
Matanya tak sanggup menatap sosok malaikat yang menuggunya di depan ruang dokter, ia tak tahu harus berbuat apa dan berkata apa. Ia tak tega melihat malaikat yang selama ini merawatnya dari lahir hingga dewasa sekarang menangis lagi karenanya.

"Bunda?"
Ketika mengingat bundanya ia tak sampai hati memberi tahu apa yang terjadi.

Klarisa berjalan menghampiri bundanya yang berada didepan ruang dokter.

"Hasilnya bagus kan dek?."
suara bunda yang halus dan penuh harap membuat Klarisa semakin tak berani berucap.

"Iya, Bunda tenang aja bun."
Klarisa berjalan meninggalkan Bundanya, menuju ruang perawat dan menyerahkan hasil lab agar dibaca oleh dokter.

Tak lama kemudian, nama Klarisa di panggil oleh seorang perawat.

Kakinya seperti melayang, pandanganpun tak terarah, pikiran Klarisa sudah penuh dengan hal-hal negatif.
Tangannya meraih daun pintu ruang dokter dan membukanya.

Senyum dibibir dokter kala itu tak seperti biasanya, membuat Klarisa semakin yakin akan datangnya hal buruk dari hasil lab nya tersebut.

"Ya Allah, kuatkan hamba ya Allah, Bissmilah..."
Dengan sekuat tenaga menahan setiap pikiran-pikiran buruk yang hinggap di pikiran Klarisa, ia duduk di kursi depan meja dokter sambil dengan senyum bulan sabit di bibirnya, walau kala itu mentari tak lagi tersenyum.

" apa kabar sdri. Klarisa? "
Sapa dokter dengan ramah.

"Alhamdulilah sehat dokter"

"Alhamdulilah"
Jawab dokter dengan senyum anggun.

"Bagaimana hasil lab ANA test Klarisa dokter? Baikkan dok?"
Tanya bunda Klarisa dengan penuh harap.

" begini bu, hasil lab Klarisa kali ini kurang memuaskan, karna hasilnya positif bu."

"Apa dok?, jadi?"
Potong bunda dengan nada cemas, dan bergetar menahan air mata sambil melihat Klarisa yang duduk persis disampingnya,

Dekk....
Waktu seakan berhenti...
Mentari benar-benar tak dapat terseyum lagi.
Klarisa menahan air mata agar tak menambah beban kesedihan bundanya.

" seperti yang saya takutkan, sdri Klarisa terkena Lupus/ SLE."

"Apa dokter???"
Suara Klarisa bergetar menahan air mata.

"Untuk tahap kali ini darah sdri. Klarisa sudah mulai terserang, kami takut jika tidak ditanggani dengan cepat dan tepat bisa menyerang kulit,tulang, organ-organ vital lainnya, dan syaraf. "

"Tapi itu bisa disembuhkan kan dok?"
Tanya Klarisa untuk meyakinkan dan menguatkan diri, walau dia tahu penyakit itu belum ada obatnya.

"Iya kita bisa berusaha semaksimal mungkin, agar tidak menyerang ke bagian-bagian lainnya, untuk saat ini sebaiknya sdri Klarisa dibawa ke Rs. Pusat agar penangananya maksimal." Jawab dokter sambil menguatkan hati Klarisa dan bundanya.

CahayaMuStories to obsess over. Discover now