Remaja

69 5 5
                                        


Derit suara ayunan memecahkan keheningan di antara dua sejoli yang tengah saling berdiam. Pandangan keduanya kosong, tak ada satupun dari sepasang anak laki-laki dan perempuan itu untuk berniat memulai pembicaraan. Posisi mereka berhadapan satu sama lain di atas timang ayunan yang bergerak pelan, namun tak sedikitpun dari keduanya tergerak untuk bersuara atau sekedar menatap manik mata sang lawan. Lee Jeno - si anak laki-laki, hanya memutar-mutar kaleng soda yang telah kosong sedangkan Kwon Eunbin - si anak perempuan, hanya terus menerus menatap ke arah sepatunya seraya jari-jarinya kuat meremas ujung jaketnya. Sesekali setetes air meluncur dari dagunya.

Benar, sudah sejak 10 menit yang lalu gadis itu menangis. Namun Jeno tak kuasa untuk memeluk atau sekedar mengucapkan kata-kata untuk menenangkan gadis itu karena pada dasarnya, ini adalah salahnya.

Kwon Eunbin, si gadis cantik yang sudah sejak 6 bulan yang lalu resmi menjadi kekasihnya itu menangis dalam diam. Tubuh laki-laki itu membeku, terlalu takut untuk menyentuh gadis itu barang sejengkal.

Jika saja saat itu Jeno tidak bermain petak umpet dengannya. Jika saja waktu itu Jeno tidak memblokir SNS dan nomor ponselnya. Jika saja Jeno selalu ada di kelas ketika Eunbin mencarinya dikala jam istirahat pelajaran sedang berlangsung. Jika saja Jeno membukakan pintu ketika Eunbin datang ke rumah.

Mungkin keadaannya tidak akan secanggung ini.

Gadis itu sudah terlanjur kesal dan marah, amarah yang sangat kuat menggumpal di dadanya hingga ia tak dapat menumpahkan semuanya kecuali dalam tangisan. Eunbin tau status Jeno sebagai seorang anak yang masih menjalani pendidikan di Seoul Performing Art High Shool atau yang biasa orang kenal SOPA, salah satu sekolah menengah atas paling bergengsi yang ada di Korea Selatan. Eunbin tau impian Jeno adalah menjadi salah satu wisudawan terbaik di sekolahnya kelak.

Tapi Eunbin juga hanyalah seorang anak perempuan biasa yang mempunyai batas kesabaran. Jika nasi telah menjadi bubur, mau diapakan lagi?

"Aku akan berusaha mencarikan obat untuk menggugurkannya.."

Eunbin lantas mendongak dan tertegun. Enteng sekali dia bicara - batin Eunbin. Isi kepalanya sudah hampir meledak menghadapi seorang bocah laki-laki ingusan yang masih belum paham arti dari sebuah tanggung jawab. Perutnya memang belum terlihat membesar, tapi membunuh? Bukankah itu kedengarannya sangat kejam?

Secara spontan gadis itu langsung berdiri dan menampar wajah tampannya dengan keras. Tangannya bergetar. Nafasnya tercekat menahan tangis yang sudah ingin ia ledakkan seperti bom waktu. Kini Eunbin sadar, tidak ada yang bisa ia sandari atas masalah yang kini tengah menimpanya, bahkan Jeno sendiri.

Jeno sudah akan bangkit dan berbalik untuk menyentak gadis itu sebelum ia mendengar suara seseorang menceburkan diri ke dalam danau yang tak jauh dari tempat ia berdiri.

CHIT CHATWhere stories live. Discover now