CONE

56 11 2
                                        

Senin, 21.50

'Aku selalu percaya ketika ia berbicara, caranya membuka obrolan sangat aku sukai.
Aku selalu senang saat ia menghubungiku lebih dulu, walau kadang aku harus memakluminya saat ia tak membalas pesanku lagi.

Tiap malam, aku selalu menunggu kehadirannya dengan harapan ada hal hal yang bisa diperbincangkan dan kau siap untuk kembali menemani. Meskipun sebenarnya diriku menginginkan lebih dari itu. Tak apa mungkin perlu waktu, aku hanya perlu bersabar sampai benar-benar perasaan ini tepat berlabuh di hatimu.—kata yang selalu aku ucapkan ketika aku tak ingin kecewa terlalu cepat menjelaskan semuanya.

Waktu ke waktu perasaan yang tumbuh di dalam diriku membesar. Aku mulai sering memperhatikan kesehariannya. Mulai antusias melihat segala aktivitasnya di sosial media.
Bahkan aku sangat terkejut hanya karena ia mengomentari fotoku yang sedang tersenyum ataupun tertawa.

Ia kembali. Mencariku dan menanyakan kabarku. Jariku bergetar hebat perasaanku tak karuan. Untuk menuliskan 'Rindu' saja aku harus menghapus beberapa kali sebelum yang aku kirim adalah kabarku yang baik-baik saja.

Dunia seakan berhenti bagiku. Debar tak sanggup lagi menutupi rasa bahagiaku.
Aku larut dengan rasaku sendiri sedang ia, aku masih tak tahu bagaimana hatinya.
Mulailah aku bertanya tanya.

Sebenarnya aku ini dianggap siapa baginya?
Semua perhatianku mengapa tak jua membuatnya mengerti dan merasa?
Perlu cara apalagi agar ia melihat siapa yang berjuang dan tak ingin dirinya menghilang.
Haruskah luka kuterima jika pilihanmu akhirnya bukanlah aku, melainkan dia. Atau yang lainnya.
Menyesakkan memang bila harus terus mencintai sementara yang dicintai tetap tak menyadari.

Selalu ada hati yang patah setelah segala harapmu musnah dan kalah.
Segala sakitmu ialah sebuah pembelajaran untuk nanti dipertemukan.
Percayalah, bahwa ada cinta yang lebih baik kau dapatkan bersama seseorang yang datang untuk menyembuhkan.'

☆☆☆

    Raina kembali menaruh bolpoint yang dia pegang tersebut diatas sebuah buku diary yang sering dia tulis, mungkin bukan buku diary melainkan kumpulan sajak yang dia buat sendiri.

Pikirannya kembali melayang kepada kejadian beberapa bulan lalu, disaat dia pertama bertemu dengan seseorang yang membuatnya menjadi sering melamun.

Seseorang itu, berhasil memporak-porandakan hatinya.
Membuat ia merasa menjadi wanita paling sempurna selama beberapa bulan belakangan, dan lalu kemudian Menghilang.

Raina rindu awal-awal saat ia bersama dengan laki-laki itu.
Ia rindu tertawa bersamanya.
Melakukan berbagai hal bersamanya.
Namun, semuanya terlihat semu.
Laki-laki itu menghilang entah kemana.

Meninggalkan sejuta penantian.
Mungkin ia tidak akan kembali, namun ia pasti akan terganti, Oleh yang lebih baik.

namun ketika takdir kembali bermain, peran apa kali ini?

ASPETTAREWhere stories live. Discover now