Vania berdiri di antara dua ranjang yang posisinya bersebelahan. Wanita itu membawa buket bunga lily yang sangat indah kemudian menatanya pada vas bunga yang ada di atas nakas. Kedua tangannya bergerak lincah menata tangkai demi tangkai bak seorang yang sudah profesional di bidangnya. Puas dengan hasil karyanya wanita itu lantas melirik ke sisi kiri tempatnya berdiri. Ia tersenyum sambil berbisik "Aku bawa bunga kesukaan kamu El, kali ini yang berwarna putih semoga kamu suka..."
Sudah menjadi kebiasaan Vania sejak empat bulan terakhir datang mengunjungi tempat itu. Sebuah ruangan berukuran 7 x 8 meter yang dilengkapi berbagai fasilitas untuk menunjang kehidupan. Ruangan itu sangat sunyi yang terdengar hanyalah suara yang keluar dari patient monitor sebagai alat ukur tanda - tanda vital pasien. Sudah empat bulan terakhir juga dua orang yang sangat disayangi Vania terbaring di ruangan itu karena sedang dalam fase koma.
Empat bulan yang lalu terjadi kecelakaan hebat yang menyebabkan kakak Vania satu-satunya yaitu Dera dan calon istrinya tidak sadarkan diri sampai sekarang. Malam itu terjadi kecelakaan beruntun yang berawal dari mobil yang dikendarai Dera dan Elina. Kecelakaan tersebut menewaskan tiga orang dan dua orang lagi masih belum sadarkan diri sampai sekarang. Dua orang itu adalah Dera dan Elina.
Karena kejadian itulah yang mengharuskan Vania bolak - balik Jakarta - Singapura setidaknya satu kali dalam seminggu untuk menengok keadaan kakak dan sahabatnya. Dan selama empat bulan itu Vania tidak pernah absen untuk datang tidak peduli sesibuk apa dirinya dalam urusan pekerjaan ataupun urusan rumah tangganya.
Ketika Vania hendak meninggalkan ruangan tersebut, ia berjalan mendekati ranjang tempat Dera terbaring. Vania meraih tangan kakak lelakinya kemudian menggenggamnya. Lagi-lagi air matanya menetes tak bisa ia tahan. Dielusnya wajah tampan milik Dera dengan keadaan tangan gemetar. Bibirnya terkunci rapat padahal sebenarnya ia sangat ingin mengucapkan sesuatu.
"Van, ayo..."
Delano muncul di ambang pintu hendak mengajak Vania segera pergi, Vania hanya menoleh sebentar lalu kembali menatap wajah Dera. Lalu berbisik di samping telinga pria itu. Tidak lupa, Vania juga melakukan hal yang sama pada Elina
"Aku pamit ya ..."
Untuk kesekian kalinya langkah kaki Vania terasa berat meninggalkan ruangan tersebut. Ia mengusap air mata yang jatuh tak tertahan. Melihat istrinya yang mulai menangis, Delano langsung meraih Vania ke dalam pelukannya. Lelaki itu mengusap punggung Vania menenangkan. Ia bisa mengerti kesedihan yang istrinya rasakan, karena Delano juga turut prihatian atas kejadian yang menimpa Dera dan Elina. Seperti yang Vania lakukan, Delano juga tidak pernah absen menemani istrinya untuk mengunjungi Dera dan Elina. Hanya saja ia lebih sering memilih untuk menunggu di luar karena alasan tertentu.
Vania menegadahkan kepalanya menatap Delano dengan mata berkaca-maca. Kesedihan masih tidak bisa ia bendung meskipun waktu sudah cukup lama berlalu, dan kecelakaan itu telah meninggalkan banyak kenangan. Vania takut kemungkinan terburuk akan terjadi dan ia kehilangan keduanya.
"Tuhan tidak akan membuat segalanya sia-sia, Van. Kita harus yakin suatu hari nanti mereka akan membuka mata mereka dan kembali bercengkerama dengan kita," ucap Delano seraya menghapus air mata yang kembali membasahi wajah istrinya.
Vania tersenyum sedih, wanita itu mencoba yakin. Dan berdoa di dalam hati semoga Tuhan mengabulkannya.
Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan itu Vania kembali menoleh ke arah Dera dan Elina. Meskipun ruangan tempat perawatan keduanya sudah ditata sehangat rumah namun rasanya tidak pernah nyaman untuk datangi.
🦋🦋🦋
Note :
Ide cerita ini terlintas begitu saja, dan kuputuskan untuk langsung menuliskannya. Ini akan menceritakan tentang Dera dan Elina yang kondisinya kini tengah berada di ambang hidup dan mati serta bagaimana kisah hidup mereka sebelum kecelakan tragis empat bulan yang lalu terjadi.
Semoga kalian suka dan nantikan ya :)
YOU ARE READING
BEAUTIFUL SADNESS
ChickLit"Di mata Dera, Elina adalah satu-satunya wanita yang akan selalu ia cintai. Aku senang sekaligus bersyukur si brengsek Dera akhirnya menemukan cinta sejatinya dan perempuan itu sahabatku sendiri😁🥰" -Vania Larasati (Adik Aderald sekaligus sahabat E...
