'Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Jadi aku mau, kamu kenal aku dulu, siapa tau nanti kamu jadi sayang?'
Ps: semua quotes ini aku yang bikin.
***
Nirmala terus melirik ke arah jarum jam di tangannya, bahkan waktu belum berselang satu menit. Sudah tidak perlu di tanyakan lagi apa penyebabnya. Hal satu-satunya membuat ia seperti itu adalah ketika ia terburu oleh waktu. Segala sumpah serapah di umpatkan oleh Nirmala. Mungkin itu hal yang wajar dilakukan oleh orang yang terburu-buru, entah umpatan itu untuk apa tujuannya. Tapi, pertanyaannya: di tujukan kepada siapa umpatan itu? Nirmala tidak henti-hentinya mengumpat, segala sifat bodoh manusia ia sebutkan. Bahkan, penghuni kebun binatang pun ikut serta hadir di dalamnya.
Nirmala mencoba konsentrasi dan berhenti mengumpat, dengan langkah yang tergesa-gesa ia tidak mau menambah satu masalah lagi hanya karna ia mengumpat sepanjang jalan. Banyak kemungkinan yang bisa terjadi jika ia tidak konsentrasi. Contohnya: ia bisa saja terjatuh, terjengkang, atau terpeleset, atau parahnya lagi ia tidak dapat mengimbangi tubuhnya, akhirnya tumbang tanpa sebab akibat dari orang lain. Tapi maaf saja, ia tidak mau mempermalukan diri sendiri, atau menyumbangkan tontonan gratis untuk orang-orang.
Kurang dari pukul delapan, Nirmala sudah memasuki kawasan sekolahnya. Ada rasa lega bercampur senang saat ia melihat gerbang sekolah masih terbuka, senyum pepsodent membentuk di bibirnya. Tanpa di komando, ia langsung berlari dengan kecepatan seribu. Tidak peduli lagi pandangan Pak Satpam yang seolah berpikir: ni orang gila kenapa bisa nyasar kesini? Entah bagaimana penampilannya saat ini, sampai membuat Pak Satpam memasang ekspresi seperti itu. Tapi masa bodoh dengan hal itu, yang penting ia tidak telat ke sekolah.
Nirmala berjalan dengan santai melewati gerbang, walaupun nafasnya masih terengah-engah. Jelas sekali ia lelah, baru pagi hari ia sudah melakukan lari marathon. Dan juga, penampilannya tidak bisa di katakan 'wajar' untuk waktu sepagi ini.
Bodo amat sama penampilan gue.
"WOY! MALA!"
Shit! Apa lagi si ni bocah?.
Dengan rasa jengah Nirmala membalikan badan, dan terpampang jelaslah disana. Seorang cowok yang mempunyai wajah tidak bisa di toleran, kata Nirmala sih begitu.
"Kenapa?" tanya Nirmala, masih dengan ekspresi jengah.
Cowok itu, yang mempunyai perawakan cukup bagus hanya menampilkan wajah tengil dan senyum yang tidak bisa dikatakan normal. Ingin sekali rasanya Nirmala melemparkan benda apa saja ke wajah cowok itu, dengan kekuatan ekstrak.
Biar tambah jelek sekalian.
"Gajelas lo!" cerca Nirmala kesal.
Tanpa di suruh, Nirmala memilih pergi dari pada berlama-lama dengan cowok aneh bin ajaib itu.
Dengan gerak tanpa otak-reflek- cowok itu memegang tangan Nirmala, karena sadar jika Nirmala ingin pergi dari hadapannya. "Mala tunggu! Gue cuma mau nanya sesuatu sama lo."
Kontan Nirmala langsung melepaskan genggaman tangan cowok itu, dan mengusap tangannya kesal. Seolah pegangan cowok barusan adalah najis besar yang harus di sucikan segera, kalo tidak akan menyebabkan penyakit kulit yang serius. "Ga usah pegang-pegang ya, to the point aja apa susahnya sih? Jangan buang-buang waktu gue deh."
Galak banget si jadi cewek, sukur cantik, jadi masih ada manis manisnya. Tapi ngga papa deh, demi sepiring batagor teh sarah yang bohay gue rela. - Cowok itu membatin.
"Ehem! Jadi gini, lo ikut club kimia 'kan?"
Nirmala mengernyit heran, demi dewa neptunusnya spongebobs, orang yang ada di hadapannya ini Danu! Siswa yang bodo amat soal pelajaran dan sejenisnya. Jadi ya, wajar saja ia merasa heran.
"Iya, kenapa emang?"
"Engga papa, nanya doang. Kalo gitu, gue duluan ya." belum sempat Nirmala membalas ucapannya, Danu langsung melengos pergi.
Ya, jauh-jauh sana lo, kalo perlu ga usah nunjukin muka lo di hadapan gue. Eneg gue, dasar cowok gabut!.
Heran juga, kenapa masih ada manusia purba zaman old macam Danu? Kelakuannya tidak pernah masuk dalam kategori manusia normal.
Bodo amat dah gue!
***
"Iya dia ikut, jadi lo mau apa pas tau dia ikut?"
"Ngga ngapa-ngapain."
"Seriusan bego, gue udah capek-capek nanya ama dia, ngorbanin harga diri gue. Yakali lo ngga bakal ngelakuin apa-apa, ngga faedah banget."
Tolong ingatkan Danu sekarang, jika makhluk di hadapannya ini adalah temannya sendiri. Takut khilaf melakukan KDRT. Jujur saja, Danu menahan diri agar tidak memberikan sianida kepada cowok yang ada di hadapannya ini. Ditanya serius, malah cengengesan tidak jelas.
Sukur temen, kalo bukan udah gue lempar pake bom atom lo.
"Gue ikut club kimia aja gimana?"
Danu terbelalak tidak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan, ia mengorek-ngorek telinganya dengan jari kelingkingnya. Siapa tau ada tawon bersarang di sana yang membuat pendengarannya sedikit terganggu.
"Lo ngomong apa barusan? Takut telinga gue congekan jadi salah denger entar." Danu memasang ekspresi seolah dia harus memeriksa kesehatan telinganya ke dokter THT.
"Gue mau ikut club kimia congek!" cowok itu kesal.
"Gila lo ya?! Yakali orang kaya lo mau ikut club kimia, bisa jadi trending topic masa kini lo."
Melihat Danu tertawa terpikal-pikal makin menambah kekesalan cowok itu.
"Ngga ada yang lucu bego! Kenapa emang? Ngga ada salah nya 'kan di coba? Ya gue rasa club kimia ngga se-menyeramkan yang sering kita bayangin." nada keraguan masih terdengar jelas saat ia mengucapkan kalimat yang terakhir.
Danu menghentikan tawanya saat mendengar kalimat yang di ucapkan temannya barusan, dan memasang ekspresi seolah berkata, 'Serius lo?' yang di balas anggukan oleh cowok berwajah manis itu.
"Ngga ada salahnya emang, tapi apa yang bikin lo berpikir harus ngelakuin ini?" Danu merasa heran, ya pasalnya temannya ini sebelas duabelas saja dengan dirinya. Ya meski masih bagusan temennya kemana-mana sih, cuma ya intinya mereka sama saja.
"Karena gue penasaran sama dia, gue mau tau semua tentang dia. Dan," senyum tipis terukir di bibir cowok itu.
"Gue mau tau apa yang bakal terjadi kalo gue deketin dia lebih dari radius yang di tentukan."
****
KAMU SEDANG MEMBACA
ZONE
HumorGue tau dari awal udah ada peringatan buat nggak deketin lo, lebih dari radius perkenalan. Tapi entah kenapa waktu itu, dengan masa-bodohnya gue mau tau; apa yang akan terjadi kalo gue deketin lo lebih dari radius yang di tentukan? Pertanyaan itu de...
