BUBBLE GUM ( Lembar 1 )
By. Oh Sello
::
::
Bungkus permen karet kedua yang isinya sudah masuk mulutku terkapar di lantai bawah meja tempat dudukku, menyusul bungkus pertama yang lebih dulu kubuang. Aku sengaja buang sembarangan agar tingkahku ini menyulut emosi seseorang di depan. Ia sedang menyapu lantai kelas kami. Rabu pagi adalah jadwal piketnya. Sungguh aku suka melihatnya marah-marah. Expresi wajahnya menakutkan seperti kebanyakan orang sedang marah. Otot wajah menegang, mata melotot, rahang mengeras, bahkan extremnya ia bisa memukul. Jika sudah begitu bukan timbul ketakutan melainkan perasaan senang karena mendapat respon darinya. Maka, setiap ada kesempatan aku akan sengaja menjahili supaya mendapat perhatiannya. Seperti saat ini.
"will..." Panggilku. Aku duduk menyandar sambil bersedekap.
Willy menoleh dan menghentikan pekerjaan. Raut wajahnya horor. "Kenapa?" tanya Willy ketus.
Dengan santai aku melirik ke kolong meja. Bibirku maju. "Tuh, masih ada sampah di meja gue. Nggak bersih, lo, nyapu," tukasku sewot.
Willy menghampiri bersama sapu di tangan. Wajahnya ditekuk. Kentara sekali tidak senang. "Minggir...!" ia mengusir kakiku dengan sapu. Sontak aku bergeser ke samping kiri.
Sementara Willy menyingkirkan bungkus permen karet di ujung kolong hingga mengharuskan membungkuk sedikit, aku senyum-senyum tidak jelas di bangkuku. Aku akan pura-pura marah padanya. Menganggap ia tak adil.
"Kenapa sih, lo, suka banget pilih kasih? Tempat duduk gue gak lo sapu bersih, giliran tempat duduk yang lain dibersihin sampek debu-debu seuprit itu pun hilang. Kenapa? Lo, punya masalah sama gue?" tanyaku mencari ribut sambil berusaha menunjukkan tampang tak suka. Saat aku ingin menyambung kata-kata, Willy meluruskan badan mendengar cerocosanku. Mata besarnya menatap sinis. Aku tercekat dan balas menatap.
Shit! "Jantung gue," ucapku dalam hati. Deguban abnormal ini selalu terjadi tiap kali kami beradu tatap. Aku suka deguban ini. Membuatku bahagia dalam mode gelisah. Namun, tak pernah kuat kulakukan lama-lama. Tapi hari ini aku harus bertahan. Yeah, aku berhasil. Willy duluan membuang muka sembari mendecak. Bau-baunya dia muak melihatku. "Ck, aku punya masalah sama kamu? Hello.... Jelas-jelas yang bermasalah di sini itu kamu." willy menunjukku. "Setiap hari nyari gara-gara. Punya masalah sama aku, hah?!"
Willy malah balik bertanya dengan pertanyaan senada yang aku lontarkan kepadanya. Aku tercekat. Harus jawab apa? Tidak mungkin aku bilang cuma iseng, memangnya aku tidak punya kerjaan. Atau aku jawab jujur saja, aku suka dia. Oh no tidak sekarang. Aku belum siap dengan segala konsekuensi buruk yang bakal kutanggung. Walau mungkin ia fikir aku bercanda. Gila. Tidak lah.
"Eumm... G-gu-gue gak suka lo pilih kasih." Aku rasa jawaban ini tepat. Jawaban sekaligus alasan cari gara-garaku pagi ini.
"Pilih kasih?" alis Willy bertaut.
"Iya, lo pilih kasih. Meja gue gak lo sapu bersih, meja lain lo sapu sampek bersih. Bener, kan?" aku nyolot.
"RE-NAL-DI yang cakep... ," dadaku mengembang mendengar pujiannya meski tidak ada maksud dan ia mengatakan dengan tampang menjengkelkan. Willy mengatur letak poninya sebentar sebelum menyambung. "Kamu lihat? Meja kamu udah aku bersihin sampek kinclong. Ini tempat pertama aku bersihin. Terus, bungkus permen ini siapa yang buang?" ia memperhatikan gerakkan mulutku mengunyah permen karet. Reflek aku mendiamkan.
Ia tersenyum. Tidak tulus. "Oh iya, kita anggap aja setan, ya?" enteng suaranya.
Setan. Berarti aku dong setannya. Sial. Tadi dipuji ganteng sekarang dikatai setan.
YOU ARE READING
BUBBLE GUM (Boyxboy) {Complete}
Teen FictionIni ceritanya Oh Sello,, langsung dibaca aja Yah, Heheheh
