Malaikat itu Bernama Ibu

29 3 0
                                        




Sutinah mengambil dompet yang selalu dia simpan di bawah tumpukan baju di dalam lemari. Dompet usang itu pemberian majikan dua tahun yang lalu. Di tempatnya bekerja, majikannya suka memberikan barang-barang yang sudah tidak dipakai atau mungkin karena bosan. Dia pernah membawa pulang satu dus besar berisi pakaian bekas. Sutinah membopong dus itu dengan senyum lebar seolah mendapatkan harta karun.

Dari dalam dompet, Sutinah mengeluarkan isinya. Beberapa lembar uang kertas disusun di atas kasur. Dia mulai menghitung.

'Alhamdulillah. Kurang seratus ribu lagi.' Wajah Sutinah berseri-seri dan matanya berbinar.

Ketika Sutinah akan memasukkan uang kembali ke dalam dompet, suaminya mendadak muncul.

"Sialan! Kamu bilang gak punya duit." Laki-laki itu menerobos ke dalam lalu menyambar uang yang ada di kasur. Bau minuman keras menusuk hidung Sutinah.

"Jangan, Mas. Itu buat kuliah Satrio." Sutinah mencegah suaminya. Dia tidak menyangka laki-laki yang biasanya menghabiskan malam di rumah temannya sambil bermain judi sudah pulang sore itu.

Sutinah segera merebut uang yang ada di tangan suaminya. Tapi, laki-laki itu menepis dan memukul wajah Sutinah hingga terjerembap ke lantai.

"Jangan mimpi!" Laki-laki itu tertawa lalu mengejek, "mana ada anak pembantu kuliah."

Sutinah tidak menghiraukan ucapan suaminya. Dia mencoba bangun. Kepalanya terasa berputar. Akhirnya, dia duduk bersandar pada tembok di lantai kamar.

"Dasar tolol! Buat apa kuliah. Suruh anakmu itu cari uang seperti kakaknya." Suara suaminya terdengar samar-samar.

"Kembalikan uang itu, Mas!" Sutinah berteriak sampai kehabisan tenaga. Dia pun tertunduk meringis sambil memegang pipinya yang lebam karena dipukul. Dia tidak bisa mengejar suaminya yang sudah keluar rumah.

Sutinah masih duduk di lantai ketika putranya, Satrio, pulang sekolah. Dia segera menyeka air mata karena tidak mau putranya tahu kejadian tadi. Tapi, lebam di pipi tidak bisa disembunyikan. Perempuan itu menyambut putranya dengan senyum yang dipaksakan.

"Pasti Bapak yang melakukan ini." Satrio berkata dingin sambil menyentuh pelan pipi ibunya.

Sutinah tidak menjawab. Satrio beranjak pergi ke warung di dekat rumah kontrakan mereka. Dia membawa pulang es batu dan membungkusnya dengan handuk kecil. Pemuda itu kemudian menempelkan es batu yang sudah dibungkus handuk itu ke pipi ibunya.

"Kenapa, sih, ibu tidak tinggalkan saja bajingan itu?" Suara Satrio gemetar. Lalu, dia membantu ibunya duduk di kasur.

Sutinah mengelus punggung tangan putra bungsunya itu lalu berkata, "Yo, dia itu bapakmu."

"Aku tidak merasa punya bapak, Bu. Tangan Satrio mengepal lalu melanjutkan ucapannya, "aku malu, Bu. Semua orang di kampung ini membicarakan kelakuannya. Setiap hari, ibu yang membanting tulang sedangkan dia cuma mabuk, berjudi ...." Pemuda itu tidak melanjutkan. Matanya menyorot tajam menahan emosi.

Sutinah meraih wajah putranya. Diusapnya rambut hitam legam itu lalu berkata, "Sudah, Yo. Kita doakan saja dia berubah."

"Tidak! Ibu terlalu sabar. Ini tidak bisa dibiarkan lagi." Satrio bergegas bangkit. Ibunya memanggil pelan tetapi pemuda itu sudah meninggalkannya.

Satrio berjalan cepat-cepat keluar rumah. Dia tidak menghiraukan tatapan tetangga yang sedari tadi berkumpul tidak jauh dari rumahnya. Mereka sudah sering mendengar keributan jika bapaknya datang. Semua tidak berani mendekat apalagi menolong. Pernah sekali, seorang tetangga babak belur karena melapor pada ketua RT.

Rumah kontrakan tidak jauh dari tempat bapaknya berjudi. Dari jauh, Satrio bisa melihat bapaknya merokok di luar rumah bersama empat orang teman sebaya. Suara musik terdengar memekakkan telinga. Pemuda itu mempercepat langkahnya. Kakinya menendang bekas botol bir ke sekumpulan orang tua yang sedang terbahak-bahak itu.

"Dasar anak setan! Beraninya datang ke sini. Mau jadi jagoan, Kamu."














You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 08, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

This Is LifeStories to obsess over. Discover now