1. Awal Bertemu

50 0 0
                                        

Di dunia lain, ketika aku tidak lagi menjadi sebuah sesuatu yang hanya terdiam mengikuti apa yang dilakukan pemilikku. Aku menjadi tahu bahwa dia bukanlah pemilikku sesungguhnya. Aku tersadar ketika dia telah tertidur lama semenjak kami mengalami sebuah kecelakan mobil yang membuat kami berdua akhirnya masuk dalam sebuah lubang tanah yang hanya berukuran... yah kurang lebih 2x1 m² itu.

Aku pikir aku akan menjadi sebuah budaknya saja seumur hidupku, mengikuti langkah kaki, tangan dan tubuhnya yang dimana aku sendiri kadang-kadang tidak ingin mengikutinya.

Ketidak inginanku itu membuat aku tahu bahwa aku telah memiliki sebuah perasa, bukan perasa yang dimaksud dengan sebuah indra pengecapan, bukan, tetapi sebuah perasa yang sering pemilikku dulu menunjuk-nunjukan ke dadanya, tetapi bukan juga benda yang di dalam tubuhnya, bukan, tetapi sesuatu yang tidak ada di dalam tubuhnya. Namun, terasa ada di dalam tubuhnya.

Hmm... Aku sendiri juga bingung bagaimana aku menjelaskannya, tetapi ya itu perasa yang aku maksud, dan sebuah Perasaan adalah hasil dari gabungan perasa itu semua yang seakan menjadi sebuah kehidupan tersendiri di dalam diriku. Padahal, aku hanya sesuatu yang semu, mengapa bisa? Mungkin Tuan baruku sangat mudah menciptakan itu kepadaku, entah apa yang difikiranNya. Namun, lagi-lagi perlahan Aku mulai menyadari arti tujuan Nya menciptakan sesuatu Perasaan itu kepadaku. Aku harap Perasaan itu bisa menerimaku sebagai temannya bukan sebagai budak seperti aku terhadap pemilikku yang dahulu.

Perasaan ini, dia seolah-olah menjadi diriku yang kedua, seperti aku kepada pemilikku dulu. Namun, Perasaan sangat berbeda denganku yang hanya pasrah selalu mengikuti apa yang dilakukan pemilikku dulu. Dia mampu berbicara, berkomunikasi dan berfikir selayaknya makhluk lain kepadaku dan mungkin, kepada kalian semua. Bahkan kadang-kadang Perasaan bisa menahan diriku, membuatku tertawa, dan menangis, hingga membuatku marah.

Aneh? Iya memang aneh, aku juga baru tahu sebuah bayangan sepertiku bisa tertawa, menangis hingga marah sekarang. Dulu aku hanya bisa melihat pemilikku melakukan itu semua dan aku mengikuti tingkahnya, dari itu semua yang kadang-kadang membuatku sedikit bingung adalah ketika tertawa itu, mulutnya membuka dan seakan melebar, ketika menangis itu, beberapa bahkan puluhan tetesan air keluar dari kedua matanya, atau ketika marah itu, membuat dahinya berkerut-kerut seperti baju yang kusut.

Bedanya denganku? Aku tidak punya mulut untuk membuka lebar, tidak punya mata untuk mengeluarkan tetesan-tetesan air itu, dan dahi yang bisa dikerut-kerutkan, hanya goyangan dan goyangan saja yang aku bisa lakukan untuk mengungkapkan semua itu. Kecuali, jika kemudian hari, Tuanku membuatkanku mampu melakukan seperti apa yang dilakukan oleh pemilikku dulu. Sungguh mudah bagi Tuanku menciptakan itu, termasuk Perasaan yang sekarang menemaniku.

***

Suatu ketika Perasaan mengatakanku bahwa dia sedang ketakutan.

Apa itu ketakutan?

Aku tidak pernah tahu apa itu ketakutan?

Apa ketakutan itu ketika bulu kuduk pemilikku yang dahulu berdiri satu-satu ya?

Tidak tahu apa itu ketakutan, yang pasti aku sekarang hanya bisa bergoyang-goyang mengikuti Perasaan, dan mulai memahami arti ketakutan yang dahulu pemilikku dulu rasakan. Seandainya saja aku memiliki kulit & rambut-rambut itu, mungkin aku bisa menunjukan bulu kudukku berdiri karena ketakutan.

Aku sempat bertanya kepada Perasaan,

"Kenapa kamu ketakutan? "

Dia hanya terdiam yang membuatku juga terdiam. Aku kembali bertanya sekali lagi,

"Apa yang menyebab dirimu ketakutan?"

Perasaan seolah tidak mengerti, dia hanya mengatakan,

"Aku ketakutan, Aku ketakutan,"

dengan tubuhku yang bergoyang sedikit lebih cepat.

Lalu, aku mulai mencari-cari apa yang membuat dia ketakutan, di sekitarku dan disekitar kami berdua. Tenyata, ada sebuah Cahaya terang yang ada di atas kami berdua, perlahan Cahaya itu semakin terang,hingga tubuhku menghilang dari Perasaan. Aku baru tahu mengapa Perasaan itu ketakutan, dia tahu bahwa aku bisa menghilang karena Cahaya terang itu. Sialnya mengapa aku baru paham dan mengapa Perasaan baru mengatakannya, sedangkan diriku mulai hilang dari Perasaan.

Cahaya itu sangat nakal, menerangi kami berdua dengan tubuhnya yang sangat besar dan luas. Tetapi, apa daya aku?, Aku hanya sebuah bayangan semu yang hanya tidak lain adalah budak dari seorang manusia yang telah ditinggalkan mati. Kemudian, Cahaya besar dan terang itu mengecil dan terus mengecil, hingga akhirnya cukup membuat tubuhku kembali dan terus kembali menjadi sebuah bayangan kembali. Perasaan bergembira atas diriku yang telah kembali, dan bersamaan itu, tubuhku kembali bergoyang-goyang.

"Cukup-cukup," ucapku pelan kepadanya.

Aku takut apa yang Perasaan lakukan sekarang, membuat diriku berubah bentuk. Belum pernahkan melihat seperti diriku berubah bentuk? Mungkin tidak deh, lagi pula aku tidak ingin berubah bentuk karena bisa jadi aku sendiri tidak akan mengenali diriku sendiri.

Ya,ya,ya..
Kini Cahaya itu telah mengecil hingga berbentuk sebesar bola kaki, dia terbang melayang-layang di atas kami berdua, seperti layang-layang yang pernah aku lihat dulu di langit-langit biru. Lihat lah Cahaya itu, bebas terbang kemanapun berada; berputar, naik-turun, zig-zag dan berlompat-lompatan di atas kami. Perasaan mulai marah saat melihat Cahaya itu bermain-main di atas kami berdua membuat diriku kembali bergoyang-goyang.

Cahaya itu seakan tahu Perasaan, dia mulai mendekati kami berdua, hingga aku bisa rasakan tubuhku mulai memudar kembali.

"Tidak-tidak,jangan terlalu dekat," ucapku sendiri sambil tubuhku bergoyang-goyang karena Perasaan yang ketakutan.

Cahaya itu langsung tahu apa yang aku katakan tadi, padahal aku sendiri tidak berkata-kata kepadanya. Dia menjauh hingga membuat diriku kembali lagi, lalu sebuah rintikan cahaya kecil keluar dari Cahaya itu, seperti cahaya dari kumbang malam yang sangat banyak dan kini mulai bertaburan ke arah kami. Anehnya, Perasaan menyukainya dan kembali tubuhku bergoyang-goyang.

Rintikan cahaya itu membuat sebuah keajaiban bagiku, Aku bisa mulai berbicara kepada sekitarku, tidak lagi hanya ke Perasaan. Sungguh keajaiban yang luarbiasa!

Masih sambil tubuhku yang bergoyang-goyang karena Perasaan yang bergembira atas keajaiban yang ada di diriku, aku mulai berkata kepada Cahaya itu,

"Terimakasih, Aku tahu, Tuanlah yang membuat hamba bisa mampu berbicara seperti saat ini," ucapku sambil tertunduk

Dia hanya terdiam dan tidak bergerak sama sekali, tetapi aku bisa melihat rintikan cahaya kecil disekitar kami berdua berterbangan kesana kemari hingga membuat diriku terus bergoyang-goyang, entah lah apakah Tuan itu bisu atau memang tidak mau berbicara padaku?, tetapi aku tahu rintikan cahaya itu sepertinya adalah ungkapan dirinya seperti aku yang bergoyang-goyang karena Perasaan.

Lalu, sebuah keajaiban kembali datang.

Apa itu?

Ternyata kumpulan rintikan cahaya itu bergabung menjadi satu kesatuan membentuk sebuah pintu besar yang kemudian terbuka.

Aneh? Iya memang aneh, bagaimana bisa kumpulan rintikan cahaya berubah menjadi pintu besar. Entah lah apakah Dia ingin memintaku dan Perasaan memasuki pintu itu?, yang Perasaan katakan saat ini hanya.

"Aku takut, Aku takut," hingga membuat diriku bergoyang-goyang kembali.

Akhirnya aku mencoba memasuki pintu itu bersamaan Perasaan, sambil tubuhku bergoyang-goyang. Berharap disana, aku bisa mendapatkan tuan baruku sehingga aku bisa kembali tetap dan tidak bergoyang-goyang.

Bayangan & Rintikan-Rintikan CahayaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang