-1- Reyva Dinar Athalla

595 59 29
                                        

Reyva Dinar Athalla atau biasa dipanggil Rey. Putri dari pemilik SMA swasta favorite yang kini menjadi tempatnya bersekolah, putri dari Surya Athalla ini tidak cukup populer walau ayahnya adalah pemilik sekolah. Ia membiarkan hidupnya tenang tanpa sebuah ketenaran, karena ia begitu membencinya. Ia benci ketenaran yang akan membuat hidupnya terlalu munafik dan bersembunyi dibalik kebohongan hanya untuk terlihat sempurna di mata orang lain.

Siapa pun yang melihat Rey akan setuju bahwa ia adalah gadis yang cantik. Wajah oval diikuti garis rahang sempurna dengan hiasan bibir berwarna merah muda. Hidung mancung tanpa bantuan alat jepit. Alis cantik yang tidak berlebihan. Serta mata indah berwarna coklat kehitaman yang selalu menatap dingin.

Selain cantik rupa, otak gadis ini juga sangat cantik. Tidak ada dalam sejarah anak dari Surya Athalla tidak pintar. Jangan gambarkan Rey seperti putri pemilik sekolah yang lain. Rey bukan gadis brutal. Rey tahu dimana batas sesungguhnya untuk remaja.

Di luar kelebihannya itu, Rey memiliki kekurangan yang sangat mencolok. Yaitu sikap dingin yang terkesan anti sosial dan terlihat begitu 'bodo amat' dengan segala hal. Karena sifat dinginnya itu, Rey tidak memiliki banyak teman. Mungkin banyak orang akan berpikir beribu kali untuk menjadikan Rey sebagai temannya.

Saat ini, Rey sedang duduk seorang diri di meja yang berada di tengah kantin. Ia tengah sibuk dengan semangkuk bakso yang ada di depannya saat tiba-tiba seorang cowok menumpahkan cairan yang Rey tebak adalah es dawet ke pundaknya. Rey yang menyadari itu kemudian mengumpat sekenanya.

"Shit!" Umpatnya sambil mengusap bagian seragamnya yang basah itu. Beruntung bagi Rey bahwa ia sedang mengenakan seragam khas almamater bukan seragam putih, bayangkan saja jika seragam putih terkena air pasti semua yang ada di dalamnya akan terlihat—ok, lupakan.

"Sorry gue nggak sengaja, tunggu di sini gue mau ambil tisu" Ucap cowok itu sambil mendaratkan gelas minuman di meja.

Rey yang saat itu sangat kesal hanya menatap cowok tersebut dengan pandangan yang bisa saja membuat orang yang stroke mendadak tidak bernafas. Bukannya menunggu seperti yang diperintahkan, ia justru berdiri dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan cairan lengket di seragamnya itu.

Cowok yang diketahui sebagai pelaku tindakan penumpahan es dawet itu menaikkan satu alisnya. Ia bingung mengapa sang korban begitu marah padahal ia sudah berusaha bertanggung jawab atas kesalahannya. Sesaat kemudian sudut bibirnya tertarik membentuk senyum. Entah apa maksud dari senyuman itu.

**

"Idih lo kalau mau mandi tuh seragamnya dilepas, jangan dipakai pas mandi."

Rey memutar matanya malas menanggapi Alvin yang selalu mengoceh di tengah perjalanan pulang.

Selama perjalanan, Rey hanya mengamati keadaan di luar jendela. Rey tidak mengharapkan cepat pulang, Rey juga tidak ingin berlama-lama berada di dekat Alvin yang akan membuat perasaan nyamannya meningkat ke stadium akhir dimana dia tidak akan melepas Alvin untuk siapa pun.

Bukan, bukan. Alvin bukan pacar Rey. Mereka tidak memiliki hubungan lain selain sahabat. Dari zaman Rey pertama kali bisa bicara, Alvin adalah orang pertama yang mau berteman dengan Rey. Hingga saat ini mereka berteman dan menjadi sahabat. Pertemanan mereka tidak semulus itu, terkadang mereka juga pernah bertengkar dengan alasan sepele dan kembali akur karena hal sepele juga.

"Rey, mampir ke mal dulu ya. Besok Artha kan ultah nih, gue mau ngasih kado buat dia."

Sedetik.

Dua detik.

Semenit kemudian Rey masih tetap diam. Alvin akhirnya geram dan menepuk pundak Rey yang berada di samping tempat ia mengemudi membuat Rey tersentak dari lamunannya.

LoseWhere stories live. Discover now