Aku hidup, berkembang dalam dirinya yang kusayangi. Terus bersama dengannya selama tiga bulan ini. Aku sangat menyayanginya. Hangat dalam dirinya membuatku nyaman.
Aku tidak tahu apakah dia menyadari kehadiranku atau tidak. Dari tanda-tanda yang ada saat aku hadir dalam dirinya, mungkin dia tahu atau tidak, aku tidak tahu.
Saat aku mulai berkembang, membesar dalam dirinya. Aku tahu dia telah mengetahui keberadaanku. Aku senang. Dia telah tahu buah cintanya telah tumbuh dengan baik.
Namun apa yang kudapat tidak seperti yang kuharapkan. Dia membenciku. Mencari berbagai cara agar bisa melenyapkanku dan melakoninya.
Sakit memang terasa, saat dia meneguk berbagai obat yang tidak kuketahui namanya. Makin lama rasa nyeri terasa dalam tubuhku yang belum sempurna. Tapi aku berusaha kuat, karena aku adalah janin yang tangguh. Mungkin suatu saat nanti dia akan sadar, kemudian menyayangiku, pikirku.
Semakin lama apa yang diperbuatnya makin menjadi. Dia semakin keras berusaha membedilku. Sungguh, aku sama sekali tidak mengetahui salahku. Kejahatan apa yang telah kuperbuat padanya.
Suatu saat dia memberitahukan kehadiranku pada ayahku. Orang yang menabur benih pada rahim ibuku, hingga aku bisa tumbuh seperti saat ini. Aku berdoa semoga saja ayah mau menerimaku dan membiarkanku menanjak.
Namun, sekali lagi, semua yang terjadi tidak seperti yang kuminta. Ayah tidak mau mengakuiku sebagai darah dagingnya. Menyangkal kehadiranku. Mengganggap diriku adalah anak dari pria lain yang dituduhnya sebagai selingkuhan ibu. Tidak sadarkah dia selama ini, apa yang sering dia lakukan dengan ibu. Lalu saat aku ada, dia mencampakkan ibu begitu saja.
Tenanglah, ibu. Aku akan terus bersamamu. Kita akan saling menguatkan. Hidup bersama, berdua. Karena aku begitu mencintaimu, ibu. Sangat.
Tiba waktunya aku bernapas di dunia ini. Ibu melahirkan seorang diri, tanpa siapapun. Di sebuah kos-kosan tempat tinggalnya. Aku hadir. Bayi merahmu telah lahir. Bayi perempuan yang cantik nan mungil.
Aku tidak bernama, atau belum diberi nama. Mungkin nanti akan diberi.
Saat tengah malam yang sepi, ibu membawaku, entah ke mana. Sesampainya di sungai yang deras alirannya, ibu menghanyutkanku. Ibu yang beberapa saat lalu melahirkanku.
Dingin terasa menusuk. Aku terombang ambing dalam aliran lebat sungai. Aku tenggelam tapi kadang muncul lagi kepermukaan. Tapi aku tidak bisa bernapas. Air sungai masuk di lubang hidung juga telingaku.
Aku mencoba bertahan. Namun aku tidak sekuat itu. Aku hanya seorang bayi perempuan merah. Bisa apa dibanding derasnya arus sungai yang luas dan panjang.
Selama hampir setengah jam aku bertahan, dan sekarang aku tidak kuat lagi. Aku berhenti mencoba. Membiarkan deraian air sungai membawaku bertemu dengan malaikat pencabut nyawa.
Yang kemudian, aku hanya seonggok mayat. Yang mati dalam sungai.
Dan beginilah akhir hidupku. Yang tidak pernah diharapkan juga tidak berarti bagi siapapun. Lalu, saat pagi menjelang, warga menemukanku. Menyumpah serapah orang tuaku. Menyayangkan kematianku, yang bagaimana lagi tidak bisa hidup lagi. Aku mati dengan percuma.
Tapi aku masih bersyukur.
Setidaknya aku masih mau dilahirkan, dibiarkan hidup. Walau hanya beberapa jam saja.
Aku bahagia.
-Tamat-
YOU ARE READING
Tumbas
Short StoryAku tidak meminta banyak. Hanya ingin diberi kesempatan hidup oleh orang yang sangat kucintai. Didedikasikan untuk penganut seks diluar nikah. Cover by @hlddrsd
