0

186 23 10
                                        

Himalaya POV

Jam beker disamping tempat tidurku terus berdering memekakkan telinga. Hingga deringan terakhir, aku meraihnya dengan kasar. Dengan setengah kesadaran yang ada, ingin sekali melempar jam sialan ini. Tapi tunggu... pada jam tersebut menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh menit.

Pukul berapa?

07.10

Yeay! Aku akan terlambat datang kesekolah, benar-benar terlambat. Mimpi apa aku semalam? Yasudah, lebih baik aku cepat-cepat mandi, sarapan, lalu berangkat ke sekolah.

"Pagi biii..." sapaku plus nyengir-masih dengan semangat 45 walaupun tahu bakal telat-sambil menuruni anak tangga.

Bi Ati yang sedang menuangkan susu ke dalam gelas melirik ke arahku dengan tatapan bingung.

"Ada apa, bi? Muka Mala belepotan ya? Atau ada jerawat?"

Bi Ati menggeleng lemah. "Tumben tidak kesiangan, non. Biasanya bibi musti bangunin non dulu,"

Aku tidak mengerti dengan ucapan Bi Ati. Tumben tidak kesiangan? Yang benar saja! Ini sudah telat sekali. "Yang benar aja deh, bi. Ini aku udah telat banget," ujarku sambil menenggak segelas susu yang diberikan Bi Ati.

"Kalau non gak percaya, liat tv aja non," ucap Bi Ati yang beranjak ke dapur untuk mengurus alat masak yang kotor.

Aku yang digandrungi rasa penasaran tingkat tinggi mencoba menyalakan tv dan mencari channel yang memperlihatkan waktu yang akurat.

ASTAGA!

Sekarang pukul ENAM LEWAT TIGA PULUH MENIT!

Pukul enam?! Yang benar saja! Makan apa aku semalam? Apa aku mendadak rabun di usia dini? Atau jangan-jangan aku sudah katarak karena jarang minum jus wortel buatan Bi Ati? Oke, lebayku kumat.

Aku mulai berpikir, kurang dari semenit-dengan menggunakan otak yang seencer susu bear bre*d-aku tahu dalang dari semua ini.

Harris!

Ingin sekali rasanya supaya manusia jelmaan kera itu disetrika pipinya hingga gosong atau kapan perlu diceburin ke kali ciliwung. Gak, itu cuma becanda. Kayak physco ya? Wkwkwk....

By the way, nenek moyang, maksudku adalah kakek moyang bangsa kera itu adalah saudara tiriku. Jadi, cukup segitu info mengenai Harris itu. Aku bisa-bisa mau muntah karena membahas cowok itu.

Tak mau berlama-lama lagi, aku segera mematikan tv dan berpamitan kepada Bi Ati untuk menuju ke sekolah. Tidak masalah terlalu pagi, asal tidak terlambat datang.

Sialnya lagi, tidak ada satupun angkot yang lewat. Bagaimana ini? Aku tidak ingin lagi memakai mobil pemberian papa, nanti urusannya makin panjang. Mau tidak mau, suka atau tidak, terpaksa, hanya ada satu solusi.

Jalan kaki.

***

Cucuran keringat membanjiri seragamku, hasil dari jogging dari rumah ke sekolah adalah ini, sehat, tapi bermandikan keringat. Gak masalah, menghemat uang jajan pula, kan? Ekonomi lagi sulit.

Aku melangkah gontai menuju kelas, disepanjang koridor aku sibuk mengipas wajah. Bayangkan saja aku jalan kaki selama lima belas menit, ditambah istirahat sekitar lima menit. Capeknya luar biasa. Besok-besok kapok deh kalau pengin jalan kaki ke sekolah. Omong-omong, kelasku adalah kelas unggulan. Unggul hebohnya, unggul teriakannya, juga unggul siswanya. Beragam, juga bikin stress wali kelasku, Miss Janet.

Setibanya di kelas, telingaku dibuat sakit oleh kehebohan kelas. Segera aku letakkan tas di bangku, lalu menarik Maudy dan Fakhri, sahabatku keluar kelas.

"Ada apa sih? Pr kimia gue belum kelar nih!" Ketus Fakhri.

Aku menggeleng sambil tersenyum. "Jangan ketus jadi cowok, mas. Lagian namanya pr, kok buat di sekolah?"

"Ada apa, Mal? Lo lagi bete?" Tanya Maudy. Tepat sasaran. Benar-benar sahabat yang pengertian.

"Gue lagi kesepian. Papa mama pergi keluar kota lagi." Rengekku seperti anak tk.

Fakhri memutar bola matanya malas. "Kalian berdua kalau mau curhat, curhat aja. Gue mau lanjutin bikin pr dulu, bye!" Kemudian Fakhri berlalu meninggalkan kami berdua.

"Biarin aja tuh bocah," ujar Maudy seraya tertawa kecil. "Trus lo mau kita temenin?"

"Boom! Lagi-lagi lo memberikan good question." Ujarku sambil mengedipkan sebelah mata. "Kalau kalian gak keberatan sih, gue fine aja. Tapi ijin dulu,"

Maudy berpikir sejenak. "Oke, ntar gue kasih tau nyokap. Doain aja dibolehin, lagian besok sabtu kan? Gak ada tugas juga,"

"Siiip," aku bertos ria dengan Maudy.

Semoga Maudy diizinkan agar aku tidak kesepian di rumah. Aku juga berharap Fakhri juga bersedia. Biasanya ia yang paling menghibur jika aku dan Maudy sedang galau. Lagipula, Bi Ati bukanlah orang yang tepat untuk diajak curhat, bisa-bisa nanti ngadu ke mama kalau udah pulang.

Sebenarnya Bi Ati nggak pernah ngadu, sih. Sebenarnya lagi aku tidak pernah curhat ke Bi Ati.

Bunyi bel berdering keras. Segera aku menarik Maudy masuk ke dalam kelas. Maklum, kebiasaan tarik-menarik.

Beberapa menit kemudian, Miss Janet-wali jelas tercinta sekaligus guru Bahasa Inggris-melenggang masuk ke dalam kelas. Ditangannya terdapat tumpukan kertas yang notabenenya adalah soal ulangan harian minggu kemaren. Aku dan teman-teman mendadak waswas, jika nilai kami rendah bagaimana? Remed lagi, kan?!

Miss Janet meletakkan tumpukkan kertas itu ke atas meja guru. Kemudian ia mengambil posisi di depan papan tulis, hendak menjelaskan sesuatu. Aku mulai berkeringat dingin dibuatnya.

"Good morning everybody," sapanya ramah, dengan senyum yang khas.

"Good morning," sapaku dan yang lainnya serempak.

Miss Janet memperhatikan kami dengan teliti. Ada apa lagi? "Saya akan menyampaikan dua informasi penting hari ini," Ucapannya lugas, seperti biasa.

"Yang pertama, tidak ada yang remed ulangan harian pada mapel saya, ta-"

"Yeaaay!!" Seru teman-temanku heboh, sedangkan aku hanya menghela napas panjang.

"Tapi perlu belajar lebih giat lagi bagi beberapa orang supaya nilainya bagus." Miss Janet tersenyum bangga kepada kami.

"Kedua, saya tidak akan mengajar hari ini karena urusan keluarga yang sangat mendadak."

Kehebohan terulang lagi, yah, berarti dua jam kedepan aku bisa santai tanpa harus berurusan dengan mapel ini.

"Jadi, kalian selesaikan tugas di buku hal 54-56. Harap dikumpul lusa, karena saya tidak memiliki waktu banyak untuk memeriksa semua pr kalian,"

Tampak kekecewaan disebagian teman-temanku, penuh keluhan. Tugas lagi tugas lagi. Begitu kira-kira.

"Kalau begitu saya memberi amanat kepada ketua untuk menjaga ketertiban kelas. Saya permisi," Kemudian Miss Janet keluar yang diiringi teriakan bahagia karena jam kosong.

Lantas, ketua kelasku cepat menasihati, "Jangan teriak-teriak bisa? Ntar dimarahin guru sebelah! Nggak denger apa yang dibilang Miss Janet tadi?" Ujar Gian dengan tampang datar.

Aku terkikik pelan. Yang lain hanya tertawa. "Iya ketua gantengku," ucap Fakhri, dengan nada di manja-manjakan.

Tiba-tiba Syifa berceletuk yang membuat seisi kelas mengeluh kesal, "Woi pr bahasa inggrisnya essay semua, bikin report juga,"

Huufft, ini bukan kemerdekaan di jam kosong namanya, tapi mimpi buruk.

***

Holaa

Ini cerita pertama, kalau suka vote dan comment ya...

Walaupun belum jelas alur dan tokohnya, tapi insyaallah chap besok2 bakal lebih jelas. Rencananya bakal direvisi pake author pov juga.

Makasih.

Regard,
La.Arisma

HimalayaPovești de care să fii obsedat. Descoperă acum