Senja pertama
Tempat jatuh sejatuh-jatuhnya jatuh
Sisipkan salamku untuknya, pergilah dengan tegar angin landai. Bisik-bisik berisik dari awan-awan mendung ini sudah keterlaluan. Tapi aku masih menghargainya, alasan logis dari semua ini hanya awan yang tak tipis yang tertutupi punggung tangan orang-orang yang sedang menikmati senja. Atau berkelana rela melepas hujan. Dan petir, sengaja dibuat seram agar hujan tak menoleh sekalipun ke belakang. Sebenarnya bukan awan yang menangis, tapi alam, juga komponen-komponen di dalamnya. Termasuk kita. Di saat-saat tertentu angin badai ikut meramaikan suasana. Namun kehadirannya seringkali dianggap malapetaka, persis seperti mereka yang baru mengalaminya. Intelegensi badai dan paduan minuman panas akan sangat mengangkat naik hati yang sedang terpuruk.
Angin landai sudah melesat jauh. Mereka tak sanggup melihat kejadian pelik antara awan dan hujan sore ini. Langit merah keemasan lagi-lagi jadi tujuan mereka, walaupun mereka sadar bahwa itu hanya persinggahan. Tapi setidaknya, 'kalau nyaman kenapa harus diabaikan?' Tanya mereka kepada diri mereka sendiri saat ragu mulai merasuk dan mengamuk dalam benak hening yang tentram. Sesekali mereka melewati rambut diantara dedaunan yang bergoyang-goyang sambil menyaksikan pertunjukan persiapan pagi harinya hewan malam. Bagian favoritnya, adalah ketika mereka menabrak pasangan kasmaran di senja yang ceria. Karena secara tidak langsung pasangan-pasangan bahagia akan menambah daya dan memori tentang senja, yang nantinya akan mampu bertahan hidup jika sewaktu-waktu badai menerjang. Sekalipun di saat senja. Angin landai memang kelewat tentram. Kini langit menjadi ungu. Waktunya mereka pergi. Tapi, masih ingatkah mereka salamku yang kusisipkan untuknya?
Sebagian besar angin landai pergi mencari senja-senja lain yang searah, dan banting stir jikalau melihat badai yang sedang mengisi jatah senjanya. Namun dari semua koloni, ada sebagian yang jatuh cinta kepada malam. Dan mengabdikan dirinya untuk cinta-cinta yang bertebaran. Dari sepasang pejalan kaki yang menatap langit penuh bintang tanpa awan lalu tersandung polisi tidur didepannya, sepasang remaja yang saling melempar senyum bahagia di tengah macet lalu lintas padahal hati kecilnya khawatir terkena marah orang tuanya, seisi angkutan perkotaan yang tertawa melihat tingkah laku anak balita yang lucu padahal wajah ibunya sama sekali tidak lucu, sampai percakapan seorang ayah dengan keluarga kecilnya lewat telepon telepon genggam yang secara tak sengaja berperan sebagai suplemen di hari yang lelah. Sebagian kecil angin landai menemui mereka. Sampai kejadian-kejadian berganti. Angin Landai masih sibuk. Manusia yang lalu lalang lebih sedikit. Di bagian gelap trotoar yang tidak kebagian cahaya lampu jalan, pengamen-pengamen tersenyum setelah menghitung penghasilannya malam ini cukup untuk membayar hutang makan tadi siang. Orang-orang bertampang kantuk yang baru keluar dari kereta terakhir terpaksa tersadar setelah angin landai menyapa wajah lelah mereka. Dan malam yang semakin lama semakin kelam. Angin Landai yang paling mendedikasikan dirinya untuk cinta adalah angin landai yang sebagian kecil ini. Setelah semua cinta terkirim dengan rapi, mereka akan sirna, dicerna menjadi embun yang menggantung di dedaunan esok subuh. Lahirlah cinta baru, dari sebagian kecil mereka. Apa kabar salamku untuknya?
Dalam penyamaran
Sembunyi di sudut selokan
Merahasiakan rintik hujan
Menahan luapan angan
Dalam penyamaran
Sembunyi di balik sinar rembulan
Memendam keinginan
Menanti fajar datang
Dalam penyamaran
Sembunyi di balik batu berlumut
Menadah nafas lelah
Menampung semua resah
Dalam penyamaran
Sembunyi di balik tegar
Menyesali keputusan
Menangisi kehilangan
Bubar jalan
Habis perkara
