Chapter 1
Pikiran untuk bunuh diri
Namaku Meila. Seorang gadis broken home. Ayahku kabur dari rumah 3 tahun lalu. Ibuku dilanda stress hingga tidak memiliki jiwa kemanusiaan lagi. Meskipun setiap pagi aku diberikan makanan, diberikan jajan, aku tidak pernah diberikan kasih sayang seperti anak-anak lainnya. Meskipun ayahku kabur dari rumah, sekali sebulan dia masih memberiku uang jajan dan uang makan secukupnya.
"Bu, aku pergi dulu ya!"
Seperti biasa, ibuku hanya mengangguk dipojokan. Aku menutup pintu dan pergi kesekolah.
***
Di sekolah aku selalu memakai topeng, aku bersikap seolah-olah aku adalah orang baik, dan tidak memiliki masalah sedikitpun. Dengan wajah ku yang cantik, tidak akan ada yang tahu aku ini memendam masalah sebanyak apa. Karena itu aku memiliki cukup banyak teman. Ada 3 orang teman dekatku disekolah ini. 2 cewe dan 1 cowo.
"Mei, udah siap bikin tugas kimia ?", celetuk Nira membuka percakapan.
"Hm, belum sih, liat punyamu dong ", potong Deo,
"Woi, yang ditanya siapa yang jawab siapa ?", sambung April
"Hee, kalian ga perlu berantem, masalah kecil kek gini kok", jawab Meila
"Jadi jawabanmu apaa ?", Teriak mereka bertiga
"Udah, tapi gatau bener apa salah"
"Wah, liat dong", Teriak mereka bertiga lagi.
"Jadi kalian bertiga belum bikin?" Tanya Meila.
"Belum, he he he"
Ada kebahagiaan tersendiri ketika aku berkumpul dengan mereka bertiga. Meskipun aku memakai topeng dan berpura-pura baik, aku yakin meski mereka tahu bagaimana diriku yang sebenarnya, sepertinya dia masih menerimaku apa adanya.
Ketika mereka sedang asyik menyalin tugas kimiaku, guru datang... Kami bertiga duduk didepan, dan saat itu juga, kami diusir oleh guru kami. Kami berempat dihukum membersihkan WC. Kasihan sekali Deo, dia cowo sendiri.
Aku, Nira dan April langsung ke TKP untuk membersihkan WC. Ada 3 pintu didalam WC tersebut. Aku membersihkan dipintu kedua. Didinding aku melihat sebuah tulisan warna merah yang bertuliskan " Go to suicide class, i got you". Tulisan itu membuatku sempat bertanya-tanya. Aku hanya tau arti dari suicide, artinya bunuh diri. Aku mencoba membersihkan tulisan itu, seberapa banyakpun aku membersihkan dinding tersebut tulisan itu tidak kunjung bersih. Aku memanggil Nira dan april untuk memperlihatkan ke mereka tulisan ini.
"Nira, April, liat nih, ada tulisan aneh"
"Bentar Mei"
Mereka pun datang menghampiriku sambil bertanya, "Mana Mei ? ga ada tuh"
Saat aku berbalik, tulisannya menghilang, "Tadi ada lho, sumpah", Mencoba meyakinkan mereka kalau tulisan itu beneran ada.
"Yah, kamu sih Mei, harusnya foto dulu", Celetuk April
"Tapi aku masih kepo sih, tadi emang tertulis kata apa?", April bingung.
"Katanya (Go to suicide class...) trus apa ya, aku lupa..", jawabku
"Hah ? serius kamu Mei, ish seremin ah...", April kaget.
"Kita kekelas yok, udah hampir stengah jam nih, WC udah bersih pula", Sambung Nira
Kami bertiga langsung capcus kekelas, namun dari arah belakang terdengar terikan cowo. Sangat keras. Hingga membuat kepalaku sakit.
"Hei, itu kayak suara Deo?", tanya Nira, dan April secara bersamaan
"Ayo, buruan kesana!", sambung Nira
Sesuatu sepertinya telah terjadi, dan mungkin telah ditakdirkan terjadi.
Suara itu seperti teriakan kesakitan. Dan ketika kami menuju kearah sana, kami melihat Deo sudah bersimbah darah, matanya putih, dan mulutnya mengeluarkan busa. Dia dalam posisi tengkulap. Darah membasahi lantai, seketika itu kepala sekolah dengan cepat bertindak dengan menelpon ambulans. Hal seperti ini, aku benar-benar tidak menyangka.
****
Sepulang sekolah, ingatanku tertuju pada kenanganku dimasa lalu. Dimana aku seringkali dikecewakan. Aku tidak diberikan kasih sayang oleh kedua orang tua. Dan lagi, sepertinya ini takdir, setiap kali aku memiliki teman dekat, Ia selalu meninggal dengan sebab yang tidak jelas. Saat sd, sudah 5 orang temanku yang meninggal. 3 tewas gantung diri, dan 2 lainnya tertabrak truk. Saat itu, aku sadar, dan mencoba menjauh dari siapapun yang ingin mendekatiku. Aku merasa, ada jiwa pembunuh dalam diriku.
****
"Bu, aku pulang", seperti biasa, ibu tetap dipojokkan, duduk sembari tidur dimeja.
Aku langsung kekamar, membersihkan sampah yang begitu banyak dibawah meja. Menulis diary yang tak pernah kosong setiap harinya, mengisinya dengan kepalsuan dunia yang aku buat setiap harinya.
1 minggu lagi adalah ujian kelulusan. Aku sama sekali tidak ada mood untuk belajar. Aku tidak tau hobi ku apa. Tapi yang paling aku suka adalah menulis diary. Dengan menulis, aku bisa mengungkapkan segala keluh kesahku diatas kertas yang siap menampung segala keluhanku. Dalam 3 tahun setelah ayahku kabur, hampir 20 buku isi seratus yang aku potong bagi 4 yang kusimpan didalam laci lemari ini. Semua kenanganku ada disana. Dan aku merasa nyaman setelah menulis masalahku disana.
****
Hari itupun tiba, ujian kelulusan. Aku bergegas kesekolah, berangkat sangat pagi agar tidak telat. Aku kesekolah naik bis, jarak dari rumah kesekolah kira-kira 15 menit. Dan sekarang aku tiba disekolah. Belum ada siswa yang datang. Sekarang aku kembali duduk dikelas, dan mencoba menulis sesuatu, hmm seperti sebuah cerita yang aku karang sendiri sih, mungkin ini bisa dibilang cerpen.
Satu persatu orang datang kekelas. Dan hari sudah menunjukkan pukul 7, aku bersiap-siap untuk berkumpul dilapangan upacara. Sepertinya ada pengumuman penting.
Semua siswa dan siswi sudah berkumpul dilapangan upacara. Mic pun sudah berbunyi, sepertinya dari raut muka guru-guru yang berdiri didepan ada sesuatu yang salah.
Pak kepala sekolah pun berbicara, aku menunggu apa yang akan dikatakan pak tua itu.
" Mungkin, ada kabar yang tidak mengenakkan bagi kita semua, karena untuk angkatan kalian, ujian kelulusan ditiadakan, dan nilai yang akan kalian bawa ke SMA / SMK nanti adalah kalkulasi dari semua nilai kalian mulai dari kelas 1 hingga kelas 3 SMP. Alasannya adalah, kami ingin menutup sekolah ini, karena pada tahun ini sudah 20 siswa yang meninggal tanpa hal yang jelas. Setelah desakan dari orang tua siswa, akhirnya kami membuat keputusan untuk menutup sekolah ini, sekian kata-kata dari saya. Sekian"
Kalimat itu membuat semua guru tenggelam dalam tangis, kalimat Bapak kepala sekolah sontak membuat semua siswa dan siswi terkejut, akupun juga begitu. Ada yang menangis , namun ada yang tertawa bahagia. Saat itu aku tidak tau mengekspresikan kejadian ini harus seperti apa. Nira dan April terlihat haru bercampur bahagia, tapi sepertinya aku hanya terlihat flat face.
Setelah Bapak kepala sekolah mengucapkan kata-kata perpisahan, semua murid bersalaman, dan aku merasa, sepertinya memang aku yang menyebabkan semua ini, takdir mengatakan bahwa akulah yang menjadi penyebab atas semua kematian ini.
Apa sebaiknya aku bunuh diri saja, ya ?
Bersambung
KAMU SEDANG MEMBACA
Suicide Class
Misteri / ThrillerSeorang siswi smp sudah bosan dengan hidupnya yang tidak kunjung membaik. Berulang kali ia berniat bunuh diri. Tapi selalu gagal. Kehidupannya yang kesepian, kosong, hampa membuat ia tidak tau akan kemana lagi. Namun, ketika ia lulus smp, saat ia...
