SATU : 1

64 3 0
                                        

"Disaat ku mencoba meyakini semuanya kan baik-baik saja selama kau ada di sini, ternyata kau ikut bersama mereka yang pergi. Meninggalkanku yang menatap nanar, dan seolah membeku bersama sang waktu."
- Ken
___________________________________

Khenia, tahun 956 Kalender Perjanjian
Satu hari setelah Perang Besar terjadi

Ken terbangun dengan rasa sakit yang menyiksa di sekujur tubuhnya. Dadanya yang seolah tertusuk benda tajam dan terasa berat menandakan beberapa tulang rusuk yang sudah patah. Lebam dan luka gores menghiasi seluruh bagian tubuh Ken. Perlahan, ia mencoba bangkit dan berdiri.

Tubuh-tubuh tak bernyawa bergelimpangan di mana-mana, tercampur dengan bau daging terbakar dan amis darah yang memuakkan. Ken membungkukkan badannya, memuntahkan isi perutnya yang nyatanya kosong.

Ia menatap sekitarnya nanar. Seketika, pandangannya melebar menangkap sesosok anak laki-laki yang ia kenal tergeletak tak berdaya tak jauh darinya. Tertatih, ia berjalan ke arah anak laki-laki tersebut.

Ken merobek baju si anak laki-laki dan menempelkan telinganya ke dada anak tersebut. Ia menghela nafas lega, menyadari masih ada detak jantung-meski sangat lemah-di dalam tubuh tak berdaya itu. Ia pun mengakat dan meletakan kepala si anak laki-laki di pangkuannya.

"Dorea..Dorea, bangunlah." Ken menepuk-nepuk pelan pipi Dorea-si anak laki-laki yang ia hampiri-cemas, tapi Dorea tetap tak bergeming.

"Kumohon Dorea, jangan tinggalkan aku." Ken mengepalkan tangannya, mencoba untuk mengurangi rasa khawatirnya, menahan diri agar ia tidak menangis.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Ken mendesah berat, ia sudah pasrah. Namun, baru saja ia ingin meletakkan kembali kepala Dorea ke tanah, tiba-tiba tangan Dorea bergerak dan menyentuh pergelangannya lembut. Anak itu mulai membuka matanya perlahan.

"Hei kawan, tenang saja. Aku kan seorang penyembuh berbakat. Aku tidak akan mati semudah itu, lagi, mana mungkin aku tega meninggalkan seorang teman yang hidupnya sudah sebatangkara?" Dorea mengambil nafas sejenak, "Bagaimana keadaanmu?"

"Lebih baik darimu," jawab Ken singkat dengan senyum penuh syukur di wajahnya.

Dorea tertawa ringan, kemudian terbatuk kecil. Beberapa tetes darah mengucur dari bibirnya yang sobek.

"Yah, sepertinya beberapa tulang rusukku patah. Begitu juga dengan kaki dan tangan kiriku. Aku tampak payah sekali, ya?"

Ken menggangguk, ia tertawa kecil menjawab pertanyaan Dorea, "Ya, sangat payah."

"Bagaimana dengannya, Ken? Apa dia baik-baik saja?"

Seketika raut wajah Ken berubah. Sirat penuh kesedihan dan penyesalan tergambar jelas di wajahnya. Mata Dorea melebar, menatap Ken tidak percaya, "Apa dia-"

"Aku tidak tau, Dorea, aku tidak tau."

Hari itu, ketika Khenia luluh lantah akibat perang besar yang terjadi, untuk kesekian kalinya Ken merasakan sesak itu lagi. Perasaan sakit akibat ditinggalkan oleh orang-orang terdekatnya. Orang yang berharga baginya.

***

Fremantle, 19 Maret 2019

Ceklik..ceklik

"Aish, bunyi apalagi sih," gumam seorang gadis yang tengah bergemul di balik selimutnya, merasa terganggu.

Ceklik,

"Arggh," gerutu si gadis. Ia akhirnya terbangun. Susah payah mengembalikan kesadarannya, berusaha mengirim sinyal ke otak agar sendi-sendi di tubuhnya bergerak ke posisi duduk. Keningnya berkerut, matanya setengah terpejam. Gadis itu menguap, lalu melirik jam alarm jengkel. 01.20 AM. Mendengus. Siapa sih yang berisik tengah malam begini? batinnya kesal.

Baru satu jam yang lalu ia berhasil tidur setelah semalaman mengerjakan tugas Matematika yang baginya 'sangat menjengkelkan' dan sekarang-sudah ada yang mengganggunya lagi. Si gadis baru saja hendak kembali berbaring ketika bunyi pecahan vas bunga membuatnya terlonjak kaget.

Jantung si gadis berdengup kencang. Sekarang, ia sepenuhnya terjaga. Ia melirik sekeliling kamarnya cemas. Ragu, si gadis pun turun dari ranjangnya dan berjalan menuju pintu.

Ketika si gadis hendak menyentuh gagang pintu, terdengar suara langkah terburu di sekitar lorong depan kamarnya. Gadis itu membeku di tempat. Pucat pasi. Tanpa pikir panjang ia segera memutar kunci dan setengah berlari menuju ranjang. Bersembunyi di balik selimut.

Gadis itu cemas. Ia mendengar langkah kaki tersebut semakin mendekat, mendekat, dan berhenti tepat di depan pintu kamarnya. Dua orang, tebaknya. Gadis itu menahan nafas gugup. Sekarang ia mengutuk dirinya sendiri karena menolak untuk ikut pergi bersama Mom dan Dadnya.

Tuktuktuk,

Seseorang atau sesuatu di lorong mulai mengetuk pintu kamarnya pelan. Si gadis menggigit bibirnya cemas. Oh tidak, semuanya akan tamat. Siapa dan apa pun itu akan segera membunuhku. Keringat dingin sudah membanjiri tubuh si gadis saat ini.

Tuktuktuk

"Sapph?"

Oh God, sesuatu itu mulai mengetuk pintunya lagi, apa yang harus aku lakukan? Apa? Apa?

Eh tunggu, namanya dipanggil? Dan rasanya ia tau suara siapa itu, batin si gadis.

"Sapph? Sapphire? Kau baik-baik saja?"

Perasaan lega segera membanjiri si gadis. Tentu saja ia tau suara itu. Itu suara Dad. Gadis itu-Sapphire, turun dari ranjang dan segera berlari kearah pintu, membukanya, dan langsung melompat ke pelukan Dad.

"Oh Dad, aku merindukanmu, sangat merindukanmu."

Dad mengerutkan keningnya, lalu tertawa, "Baru beberapa jam saja kau sudah merindukanku, Sapph?" Dad menaikkan sebelah alisnya, memberi kesan seolah tak percaya. Sapphire nyengir dan mengangguk yakin.

"Baiklah kalau begitu. Oh ya Sapph, kau baik-baik saja? Kamarmu terdengar berisik saat kami masuk rumah tadi."

"Baik, tidak ada apa-apa, Dad."

"Baiklah. Sebaiknya kita turun sekarang. Mom sudah menunggu kita untuk makan pizza bersama."

"Pizza? Tengah malam begini? Boleh?" setengah berteriak Sapphire bertanya kegirangan.

"Khusus malam ini, ya!" Dad tersenyum lalu mengacak rambut Sapphire sebentar dan turun ke lantai bawah. Sapphire tersenyum.

Brukk,

Sapphire terlonjak kaget. Suara itu lagi, batinnya. Sapphire menengok ke arah kanan, ke lorong menuju gudang, tempat sumber suara tersebut berasal. Tapi tidak ada apa-apa di sana.

Tidak, tidak ada apa-apa, kau hanya terlalu sering menonton film thriller dan horror, Sapph! Sapphire menggelengkan kepalanya keras-keras. Lalu turun ke bawah. Langkahnya terhenti sebentar. Ia mengangkat sebelah alisnya. Berpikir, kemudian berjalan turun. Ia sudah memutuskan, ia tidak akan menonton film horror lagi. Tidak akan, apa pun itu. Ini gila, pikir Sapphire heran.

***

KheniaWhere stories live. Discover now