Bagian 1 - Rumah Sakit

6 0 0
                                        

Carrie selalu terbangun dalam mimpinya. Setiap kali matanya terbuka, ia merasa seolah memasuki dunia lain—sebuah dunia yang terasa begitu nyata, tetapi penuh dengan kejanggalan dan misteri. Kali ini, ia menemukan dirinya berdiri di depan sebuah rumah sakit tua yang terbengkalai. Dindingnya penuh dengan lumut dan retakan, jendela-jendelanya pecah, dan bau anyir bercampur dengan aroma lembap menyengat hidungnya.

Udara di sekelilingnya terasa dingin, menusuk kulit seperti ada sesuatu yang mengawasinya dari kejauhan. Angin berembus pelan, membawa bisikan-bisikan lirih yang membuat bulu kuduknya berdiri. Meski takut, langkahnya seolah dituntun untuk masuk ke dalam rumah sakit itu. Begitu ia melangkah melewati pintu utama yang sudah hampir roboh, suara berderak terdengar dari kayu-kayu lapuk di bawah kakinya.

Di dalam, kegelapan menyelimuti hampir seluruh ruangan. Satu-satunya cahaya berasal dari lampu-lampu berkedip di kejauhan, seolah berusaha mati-matian untuk tetap menyala. Dinding-dindingnya dipenuhi coretan-coretan tak beraturan, entah itu tulisan atau simbol yang tidak dimengerti.

Saat Carrie berjalan lebih dalam, ia mulai merasakan sesuatu yang aneh. Samar-samar, ia melihat bayangan-bayangan bergerak di sudut-sudut ruangan. Suara bisikan semakin jelas. Dan yang lebih mengerikan, ia bisa mendengar suara rintihan dan isakan tangis, seperti berasal dari pasien-pasien yang pernah dirawat di sana.

Ia terus berjalan, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di tempat itu. Lalu, di salah satu lorong yang gelap dan panjang, ia menemukan sebuah ruangan dengan pintu terbuka setengah. Saat mengintip ke dalam, ia melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdegup kencang—sebuah ranjang rumah sakit dengan seprai berlumuran darah. Dan di sudut ruangan, ia melihat sesosok bayangan samar berdiri diam, menghadap dinding.

Carrie menahan napas, berharap makhluk itu tidak menyadari kehadirannya. Namun, tiba-tiba, suara serak terdengar di telinganya.

"Kau tidak seharusnya ada di sini."

Carrie tersentak dan berbalik, tetapi tidak ada siapa-siapa di belakangnya. Ketika ia kembali menoleh ke ruangan tadi, sosok itu sudah menghilang.

Jantungnya berdegup semakin kencang. Dengan tangan gemetar, ia melangkah lebih jauh ke dalam rumah sakit. Ia tahu ada sesuatu yang terjadi di tempat ini—sesuatu yang mengerikan.

Dari berbagai ruangan yang ia lewati, ia mulai memahami bahwa rumah sakit ini pernah mengalami tragedi besar. Dulu, tempat ini adalah rumah sakit yang cukup terkenal, tetapi semuanya berubah setelah sebuah insiden mengerikan terjadi.

Dikatakan bahwa ada seorang pasien yang meninggal karena tifus. Kematian yang seharusnya wajar, namun keluarganya, terutama kakaknya, menolak untuk menerima kenyataan itu. Sang kakak marah, mengamuk di rumah sakit, dan menyalahkan seorang dokter yang menangani adiknya.

Keributan pun pecah. Sang kakak sempat menyekik dokter itu sebelum akhirnya dilerai oleh staf rumah sakit. Namun, amarahnya belum padam. Diam-diam, ia mengikuti dokter itu yang pergi ke sebuah ruangan gelap.

Di dalam ruangan itu, dokter menyalakan lilin kecil untuk menerangi sekelilingnya. Ia berpikir bisa menenangkan diri sejenak, tapi ia tidak menyadari bahaya yang mengintainya.

Tanpa suara, sang kakak mendekat. Dengan tangan gemetar penuh dendam, ia mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya. Dalam hitungan detik, ia menerjang dokter itu, menikamnya berulang kali. Darah mengalir di lantai, sementara dokter itu berjuang untuk tetap bernapas.

Karena kaget dan kesakitan, dokter itu secara refleks melempar lilin yang dipegangnya. Lilin itu jatuh ke lantai, dan dalam sekejap, api mulai menjalar, membakar tirai, ranjang, dan perabotan di dalam ruangan.

Kobaran api dengan cepat menyebar ke seluruh rumah sakit. Para pasien berteriak, para perawat berusaha menyelamatkan diri, tetapi banyak yang terjebak. Tidak sedikit yang terbakar hidup-hidup dalam kejadian itu. Sejak saat itu, rumah sakit ini ditinggalkan dan dibiarkan terbengkalai.

Carrie mulai memahami bahwa roh-roh yang ia rasakan di tempat ini adalah para korban kebakaran itu. Mereka masih terjebak di dalamnya, tidak bisa pergi, penuh dengan amarah dan penderitaan.

Saat ia mencoba mencari jalan keluar, ia mendengar suara langkah kaki mendekat. Jantungnya hampir berhenti ketika ia melihat sosok pria berdiri di ujung lorong. Matanya penuh kebencian, tubuhnya dipenuhi luka bakar, dan tangannya menggenggam sebuah pisau.

Itu dia. Kakak pasien itu.

Carrie tahu ia harus lari, tetapi tubuhnya seolah membeku. Sosok itu mulai berjalan ke arahnya, semakin cepat, semakin dekat.

Tepat sebelum sosok itu mencapai dirinya, Carrie terbangun dengan napas tersengal. Ia kembali ke tempat tidurnya, di dunia nyata. Namun, sesuatu terasa berbeda.

Di lengannya, ada bekas luka bakar yang baru.

Mimpi itu bukan sekadar mimpi.

Você leu todos os capítulos publicados.

⏰ Última atualização: Mar 04, 2025 ⏰

Adicione esta história à sua Biblioteca e seja notificado quando novos capítulos chegarem!

Don't SleepHistórias para pegar e não largar. Descubra agora