Cover: Wang Qing
---------------------
Subuh pagi hari yang dingin. Saat matahari belum muncul di ufuk timur, seorang pemuda jangkung nampak sedang memanjat pagar tinggi rumah mewah di perumahan elit.
Maling? Bukan. Dia justru ahli waris tunggal pemilik rumah tersebut.
Wang Qing namanya. 24 tahun. Mahasiswa S2 bisnis internasional Shanghai University. Ayahnya orang berpengaruh di pemerintahan dan memiliki perusahaan finansial terbesar di Cina.
Dia baru saja pulang dari club. Iya, semalaman dia di club untuk bersenang-senang bersama teman-temannya. Meski statusnya mahasiswa, tapi dia jarang nongol di kampus. Setiap hari kerjaannya main. Club, gym, bilyard, ke manapun sesuka hatinya. Bagaimana tidak, dia sudah memiliki segalanya: harta, tahta, wanita. Kuliah cuma formalitas doang.
Lalu kenapa sekarang dia memanjat pagar rumahnya sendiri? Jawabannya mudah: kuncinya hilang.
Dia tidak ingat di mana terakhir kali kunci itu ada padanya. Mungkin karena tadi dia mabuk berat di club. Entah benda itu jatuh di mana.
Terus kenapa dia tidak menginap di tempat lain saja? Rumah temannya atau hotel bagus misalnya? Dia kan banyak duit. Itu karena Wang Qing paling tidak bisa tidur di tempat lain selain kasurnya sendiri. Dia tidak bisa tinggal dengan orang lain, tidak tahan dengan "bau" mereka. Menjijikkan, katanya. Biasalah, orang kaya.
Terus terus, kenapa dia tidak menyuruh pembantunya membuka pintu? Hampir sama dengan alasan di atas. Karena dia tidak suka tinggal bersama orang lain, pembantunya tidak ada yang bermalam di rumahnya. Semuanya datang hanya untuk melaksanakan pekerjaannya, seperti bersih-bersih atau memasak, kemudian segera pulang. Memilimalisir kontak dengan sang tuan muda.
Tambahan, kedua orang tuanya jarang pulang ke rumah yang satu ini. Mereka berdua tinggal di rumah utama yang ada di Beijing. Iya, tuan muda ini tinggal sendirian di rumah tiga lantai seluas dua hektar itu.
Kaki Wang Qing memijak tanah di seberang pagar. Kemudian masuk terhuyung dari pintu belakang yang tidak pernah dia kunci. Benar-benar orang ceroboh.
Sebenarnya dia ingin tidur di kasur, tapi kantuk bercampur pusing menyerang hebat. Mungkin karena dia "main" habis-habisan dengan dua jiějiě cantik di club tadi. Dia membuka kancing bajunya asal-asalan, lalu terhuyung dan jatuh tengkurap di sofa.
[T/N: jiějiě =kakak perempuan, bisa untuk menyebut wanita yang lebih tua]
Matanya sudah hampir terpejam ketika dia mendengar suara bel rumahnya berbunyi. Wang Qing tidak merespon. Paling-paling orang iseng. Sekali, dua kali, berkali-kali. Dering belnya makin brutal. Mata Wang Qing terbuka lagi dengan sebal. Dia bangkit dan mengintip dari jendela untuk melihat siapa yang berani mengganggu tidur tampannya.
Dia melihat pemuda dengan sepeda butut berdiri di depan gerbangnya. Jarinya terus memencet-mencet bel, mungkin dia kira belnya rusak. dia tidak bisa mendengar suaranya dari luar.
Wang Qing keluar dengan tidak sabar.
Pemuda itu menghentikan bombardir belnya ketika melihat Wang Qing berjalan ke arahnya.
"Mau apa?" tanya Wang Qing. Pemuda itu tersenyum lebar, kemudian menyerahkan koran pagi padanya. Dia memakai jaket dan kacamata tebal sehingga Wang Qing tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.
"Shū, aku mengantarkan koran," katanya.
[T/N: Shū=Shūshu=paman]
Wang Qing berasa disambar petir. Dia memang memakai baju lusuh, dan penampilannya sekarang acak-acakan, tapi apa dia terlihat setua itu. Bocah ini memanggilnya paman. PAMAN. Kapan dia tidur dengan tantenya sampai dia berani memanggilnya paman.
"Oh, iya," sambung pemuda itu. Dia membuka tasnya, mengeluarkan selebaran, dan menyerahkannya pada Wang Qing. "Mie goreng kami enak dan murah, lho. Tinggal telepon, kami akan antarkan secepat kilat. Tolong promosikan pada bossmu di dalam ya, nanti kukasih persenan."
Petir menyambar dua kali. Bocah ini mengira tuan muda keluarga Wang adalah pembantu yang bekerja di sini. Pembantu. PEMBANTU. OM-OM PEMBANTU.
CAPSLOCK.
Wang Qing menggertakkan giginya. Untung saja dia sedang mengantuk, kalau tidak pasti dia sudah menyeret pemuda ini dan memberinya pelajaran matematika. Eh, salah.
"Siapa namamu?" tanya Wang Qing.
"Feng Jianyu. Panggil saja aku Dayu," jawab pemuda itu tetap tersenyum lebar.
"Dayu," ulang Wang Qing. "Akan kuingat."
Ya, dia akan mengingat nama bocah kurang ajar ini untuk membuat perhitungan nanti. Dia merampas koran dan selebaran dari tangan Dayu, lalu berbalik pergi.
"Xièxiè, Shūshu. Kutunggu pesanannya," kata Dayu sambil melambaikan tangan dengan semangat. Wang Qing meremas koran di tangannya dengan gemas.
YOU ARE READING
【COMPLETED】Terlanjur Basah [Bahasa]
FanfictionWang Qing, pewaris tunggal perusahaan besar milik keluarganya, terbiasa hidup seenak jidat. Dia memiliki segalanya: tall, handsome, and rich. Sampai dia bertemu seorang pekerja paruh waktu bernama Feng Jianyu. Pemuda itu mengalihkan dunianya. Genre:...
![【COMPLETED】Terlanjur Basah [Bahasa]](https://img.wattpad.com/cover/117632058-64-k948173.jpg)