Semilir angin di pagi hari begitu menusuk pori pori kulit, membuat bulu kuduk di bagian tangan putih mulus milik seorang gadis berdiri. Sesekali gadis ini menggosok-gosokan telapak tangannya agar menghasilkan sedikit rasa hangat. Kakinya melangkah dengan santai sampai akhirnya ia tiba di depan gerbang yang menjulang tinggi dan di lapisi cat berwarna hitam, tepatnya kini ia sudah berada di lingkungan sekolah.
Senyumnya selalu mengembang saat seseorang menyapanya dengan sangat ramah. Tak lupa ia juga menyapa guru guru yang berpapasan dengannya, dengan tutur kata yang sangat sopan dan terkadang ia juga menyelipkan sedikit lelucon.
"Pagi pak Muklis" sapanya sambil mencium punggung tangan sang guru
"Wiiih hari ini rambutnya klimis banget pak. Semoga bu tari makin lope lope ya hehe" katanya melanjutkan, serta jari telunjuknya yang mengarah ke kepala guru tersebut sambil tersenyum menunjukkan jejeran giginya yang rapih.
"kamu ini pagi pagi udah ngeledek guru" sahut pak Muklis yang notabenenya adalah guru TIK di sekolahnya dan sang guru hanya menggelengkan kepalanya heran.
Hari ini SMP Nusa Bangsa baru akan memulai tahun ajaran baru setelah libur hampir sebulan lamanya. Ada sebagian murid yang tidak terima karena hari ini sudah mulai bersekolah, ada juga yang riang gembira hari ini bisa kembali bersekolah. Salah satunya adalah Sasavia prihamboko. Ia senang bukan main menyambut tahun ajaran baru dimana dirinya bisa melihat siswa-siswi baru. Selain itu, ia juga merasa senang berada di sekolah karena menurutnya hanya di tempat inilah ia bisa tertawa lepas tanpa memikirkan beban yang mengganggu pikirannya.
Sambil berjalan menuju kelas, mata sasa menjelajah mencari sosok yang sangat ia rindukan sejak liburan berlangsung cukup lama, sampai pandangannya terhenti di kelas 7.2. Dengan sedikit berlari, ia menghampiri sosok tersebut dan langsung memeluknya dengan kencang sampai-sampai yang di peluk sedikit terhuyung ke belakang.
"Ya ampun priciiiilll gue kangen. Uuhh gemes deh pipinya makin mengembang" teriaknya antusias dan langsung mencubit pipi Pricillia dengan kencang membuat Pricillia sedikit meringis karena kesakitan.
"Woyyy!! Pipi gue jangan di cubit sekencang itu juga kali.. di kira ga sakit apa!" keluhnya sambil mengusap usap kedua pipinya yang masih terasa sakit akibat cubitan yang Sasa berikan
"Hehee sorry sorry. Btw lu ngapain di kelas ini?" Tanya Sasa sedikit bingung, Matanya melihat ke dalam kelas 7.2
"Tetangga gue sekolah disini, gue disuruh mamahnya buat nganterin dia" jelas pricillia santai
"Jantan atau betina?" Sasa bertanya dengan tampang bloonnya
"Yee gubluk! Lu kira dia ayam!" Ketus pricillia, membuat Sasa bergidik ngeri
Setelah melepas rasa rindu dengan cara memeluk dan mencubit pipi pricillia, tak lama kemudian bel berdering dengan sangat nyaring menandakan bahwa jam pelajaran akan di mulai bagi siswa siswi lanjutan, dan waktunya MOS bagi siswa siswi baru.
MOS di SMP Nusa Bangsa berlangsung bukan dengan cara membuat murid murid terlihat seperti orang tidak waras, mengenakan ikat pinggang dengan tali rafia, kaos kaki yang berbeda warna, tas dari kardus dan lain sebagainya.
MOS di SMP Nusa Bangsa justru lebih mengarah pada sesuatu yang dapat menambah pengetahuan siswa siswi baru, memberi materi materi yang bermanfaat, memberitahu tata tertib yang berlaku di sekolah, serta memberitahu cara menjadi siswa siswi yang cerdas dan bermanfaat bagi banyak orang.
Hari pertama masuk sekolah di tahun ajaran baru, Sasa sudah di suguhkan dengan pelajaran bahasa Indonesia beserta tugasnya yang tak lain adalah 'menulis cerita saat liburan'. Sasa membuang napas malas, benar benar malas. Selalu begitu. Padahal saat ini ia sudah menginjak kelas 3, kelas paling senior di tingkat SMP tapi masih saja ia mendapatkan tugas macam ini. Bagi Sasa tugas ini tidak guna, apa manfaatnya setelah ia menulis panjang lebar kegiatannya saat liburan? Entahlah, dari dulu sampai sekarang Sasa belum menemukan jawaban yang tepat.
Di sela jam pelajaran berlangsung Sasa meminta izin kepada guru yang mengajar di kelasnya untuk pergi ke toilet, dan gurupun memberikan izin.
Sasa berjalan di koridor sekolah yang tampak sepi, hanya di bagian lapangan saja yang ramai karena berlangsungnya masa orientasi siswa yang di bimbing oleh OSIS SMP Nusa Bangsa yang menyegarkan pandangan Sasa. Karena terlalu asik melihat anggota OSIS laki-laki yang bening, Sasa tidak memperhatikan jalan di depannya hingga bahunya tersenggol sedikit kencang membuat Sasa terkejut.
"Adaw" Sasa meringis, lalu mendongakkan kepalanya melihat siapa yang barusan bertabrakan dengannya, karena siswa dihadapannya lebih tinggi darinya. Jika Sasa berdiri di sampingnya, tinggi Sasa hanya mencapai bahu siswa dihadapannya.
"Yee kalo jalan yang bener!" Ucapnya sedikit ketus dan ia langsung pergi meninggalkan Sasa dengan langkah yang terburu buru menuju lapangan
Selow kali ngomongnya. Gatau apa kalo gue tengsin karna jalan ga bener.
Sasa tidak begitu memikirkan kejadian yang baru saja terjadi, dimana ia bertabrakan dengan seorang laki-laki yang membuat indera penglihatannya terasa segar seketika, meskipun sebelumnya bahunya teras sakit. Dan kini Sasa baru menyadari bahwa murid
laki-laki di SMP Nusa Bangsa terlihat bening-bening, jadi kemana saja sasa selama ini?.
***
Selamat datang di cerita baru yang mungkin bakal....
Ya intinya aku senang jika kalian membaca cerita ini dan menyukainya.
YOU ARE READING
Micin
Teen Fiction"Apa dia bilang? Micin? penyedap rasa itu kah?" Awalnya Sasa tak terima dan selalu tak terima, namun apa boleh buat? hatinya berkata lain sampai ia menerima 'micin' sebagai sesuatu yang baru dalam hidupnya. Ketika Sasa sudah menempatkan hatinya di...
