The Beginning

59 2 0
                                        

  "Aku hanya bisa menjalani hidupku, aku yakin Tuhan sudah memiliki rencana yang baik untukku."
-Bulan

•••

Pagi itu..

  "Hah?! udah jam setengah enam pagi?! Aduh mana kelas masuk jam 7 lagi.." teriakku.

  Aku segera berlari ke kamar mandi dan mengambil baju polos yg ada di lemari dan boots dari rak sepatu.

  Ohiya namaku Bulan, yang selalu bermasalah dengan kuliah kelas pagiku. Aneh rasanya, setiap alarm yang kupasang tidak pernah kedengaran.. Entah memang tidak terdengar atau aku saja yang terlalu asik bermimpi..

  Aku tidak pernah menghafal ruang kelasku, sesampainya dikampus segera kubuka jadwalku sembari memasuki lift.

  "Oh! Ruanganku di lantai 5.." ucapku sendiri dengan pelan, seketika semua orang di lift melihat padaku.

  Aduh bodohnya.. kenapa sampe ngomong sendiri sih di lift penuh begini. Okay tenang, anggap saja kita nggak akan ketemu lagi. Itulah yang selalu kulakukan pada diriku sendiri untuk terlihat tenang disaat seperti itu. Nggak heran banyak orang yang bilang akulah "si cuek". Yup, but that's true. Dari semua teman-teman kuliahku akulah yang paling tidak peduli untuk melakukan hal apapun yang aku suka, prinsipku selama aku tidak merugikan oranglain rasanya nggak masalah. Begitupula urusan orang lain, aku juga tidak akan menggangu mereka selagi mereka nggak merugikanku.

  Akhirnya sampai di depan kelas yg pintunya sudah tertutup, kulihat semua mahasiswa telah masuk dan serius belajar Manajemen Keuangan, berusaha untuk merapikan rambut dan pakaian sembari mengetuk pintu kelas. Perlahan kubuka dan mengintip..
 
  "Bu.. saya masih boleh masuk?"
  "Iya silahkan" ucap dosenku.

  Aku tersenyum sembari mencari teman-temanku. Lolos juga hari ini, untung dosennya baik. Teman-temanku duduk dibarisan depan, aku juga ikut duduk dibarisan itu.

  "Bulan.. kemana aja baru dateng jam segini?" tanya Rosa dengan pelan.
  "Biasa.. hehe" jawabku pelan.

  Yah.. begitulah aku yang berjuang setiap masuk kelas itu. Akulah satu-satunya yang langganan terlambat, dosen dan mahasiswa lain juga sudah tahu itu dan hafal sekali dengan kebiasaan burukku.

  "Kamu telat terus deh, kenapa ga bangun pagi sih, udah tau rumahnya jauh dan super macet.." seru Rosa.
  "Iya abisnya udah pasang alarm di hp, di jam juga gitu percuma deh.. gaada yang bisa bangunin kalo nggak di bangunin sama orang beneran."
  "Minta Beni bangunin lah.." sahut Veni.

  Beni adalah pacarku, dia salah satu mahasiswa jurusan Hukum tapi berbeda kampus denganku. Kami kenal karena dia adalah teman sekelasku saat SMA.

  "Eh iya, gimana dengan Beni? Udah setuju?" tanya Alysa.
  "Gaada kemajuan, Al.."
  "Sabar ya.. kalo emang jodoh gaakan kemana ko." sahutnya sambil menenangkan.

  Hubungan Beni denganku terbilang cukup rumit, ibuku tidak setuju aku berpacaran dengannya. Entah kenapa sudah coba kuyakinkan tapi tidak berhasil. Ya.. aku hanya bisa menjalani hidupku, aku yakin Tuhan sudah memiliki rencana yang baik untukku. Aku hanya manusia biasa, aku mengetahui keterbatasanku akan hal itu.

Satu Kata.Where stories live. Discover now