"Manusia tempatnya salah dan lupa."
Aku selalu melafalkan kalimat itu dipikiranku, ketika aku berbuat salah dan lupa.
Tapi, rasa-rasanya akulah manusia yang sering salah dan lupa.
Orang-orang sering menegurku, sering menyalahkanku, sering menghakimiku karena apa ? Salah dan lupa.
Segala macam dari semua itu sudah pernah kurasakan. Dari yang mendengar teguran lembut hingga kasar, dari yang terang-terangan hingga sembunyi-sembunyi yang menyalahkanku, dan dari sindiran-sindiran halus hingga cibiran yang menyesakkan hatiku.
Apa aku merasa bersalah ? Tentu saja. Aku bahkan menyesal dan tersiksa dengan perasaan bersalah yang kumiliki, selalu terpikir "seandainya saja". Aku mungkin tak melakukan kesalahan jika "seandainya saja" itu terjadi.
Tapi aku tau terus-terusan berkhayal "seandainya saja" tidak akan mengubah kesalahan maupun kelupaanku. Maka aku mencoba menjelaskan dan memperbaiki apa yang aku perbuat.
Mereka menerimanya (penjelasanku) ? Yah, ada yang dengan sekali penjelasan langsung menerima (terimakasih,semoga urusanmu selalu lancar), ada yang tidak dan terus menerus menyalahkanku meskipun berkali-kali kujelaskan, meskipun berkali-kali aku meminta maaf.
Namun, dengan kesalahan dan kelupaanku yang juga biasa terjadi,orang-orang yang tadinya dengan sekali penjelasan langsung menerima, mulai tidak sabaran, tidak lagi ingin mendengarnya. Orang yang tadinya terus menerus menyalahkanku, mulai meremehkanku, tak dianggap.
Saat aku memperbaiki kesalahanku orang-orang juga akan selalu marah, mengomel sepanjang aku memperbaiki permasalahanku. Berkata yang menyakiti hatiku.
"Anak yang belum tamat SMA pun tahu hal seperti itu !"
"Aku sudah mengingatkanmu sebelumnya. Kamu merepotkan !"
Terdengar sepele yah ? Iyya, tapi tidak lagi jika itu dilakukan didepan banyak orang dan diucapkan dengan cara yang kasar. Itu memalukan dan menyedihkan.
Hingga tiba pada satu titik. Aku menerima semuanya.
Aku terbiasa menerima semua teguran dan penghakiman dari semua orang. Pura-pura tak mendengar jika berbicara buruk tentangku. Omongan-omongan kasar tak lagi membuatku merasa menyedihkan dan berkecil hati.
Aku menerima semuanya. Aku menerima aku berbuat salah dengan cara menikmati kesalahan yang kuperbuat. Aku menikmati orang-orang yang marah karena kesalahanku, aku menikmati emosi mereka yang sedang naik, aku menikmati kerepotan mereka karena kesalahanku dengan wajahnya yang tertekuk dan kepalanya yang pusing.
Sementara aku terus-terusan meminta maaf dengan wajah menyesal tapi dengan kepala yang sedang menertawakan mereka. Hahahah.
AKU MUAK.
Muak dengan mereka yang selalu merasa diri mereka benar.
Muak dengan mereka yang selalu punya waktu untuk membentakku, mencibirku, menghakimiku
tapi tidak punya waktu untuk bertanya apa sebab dari kesalahanku ?
Muak dengan mereka yang menyindirku tapi tidak mau berbisik menanyakan apa aku baik2 saja ?
Muak dengan mereka yang memanfaatkan dengan keadaanku yang terbiasa disalahkan ?
Ya, ada beberapa manusia yang memanfaatkan keadaan ini.
Menjadikan aku kambing hitam untuk menutupi kesalahannya.
Menjijikkan.
Mereka lupa, mereka manusia ? Haah ?!!
Apa mereka tak pernah bersalah ?
Apa mereka tak pernah lupa ?
Apa mereka sempurna ?
TIDAK. MEREKA TIDAK SEMPURNA, SAMA SEPERTIKU. PERNAH SALAH DAN LUPA.
Well, bagaimanapun juga aku kan yang lebih sering daripada mereka.
Sorry.
Untuk kalian yang tidak sengaja membaca ini. Jangan menjadi seperti aku. Menikmati kesalahan yang aku perbuat. Itu kesalahan terbesarku.
Kalian harus lebih baik dari itu. Jika kalian salah, minta maaf dengan tulus dan perbaiki kesalahan kalian dengan baik dan ikhlas. Jangan diulangi kesalahannya.
Tulus dan ikhlas. Itu juga akan membuat kalian tenang dan termotivasi.
Aku ini buruk, dunia juga sudah buruk, kalian jangan ikut-ikutan buruk seperti aku.
Supaya keburukan didunia bisa berkurang walau hanya sedikit.
Sedikit itu bukan hal sepele. Sama halnya sakit hati yang kurasakan. Awalnya hanya sedikit tapi lama kelamaan itulah yang membuatku buruk.
Buruk, karena sakit hati yang sedikit itu tidak kuterima dengan sabar dan ikhlas. Seandainya saja aku selalu sabar dan ikhlas. Aku mungkin tidak akan menjadi buruk.
Tulus, sabar dan ikhlas. Itu kuncinya.
Maafkan malaikat bertanduk ini.
Note : Mungkin setelah membaca ini kalian akan muntah, mungkin juga tidak. Tapi jika kalian membaca sampai note ini. Itu artinya kalian Hebat.
