Aku duduk termanggu menatap ukiran sang pencipta yang lagi lagi terlihat begitu indah diangkasa. Tak satu katapun mampu mendeskripsikan betapa cintanya aku pada keindahan yang satu ini. Senja bersama nyanyian alam dan desiran angin yang membelai perlahan. Senja bersama ribuan ingatan yang ternyata tak kunjung tenggelam. Seperti jingga yang turut setia mendampinginya. seperti langit yang lagi lagi menerima kehadirannya. Yang aku tau, hingga detik ini aku tak cukup sanggup untuk melupakan senjaku disana. Aku tak cukup mampu untuk berhasil menjadi sekedar pelupa.
Sore ini, langit terlihat sama seperti biasa. menyapa dengan bentang mega dan pekat malam yang menyambut disekitarnya. Entah kenapa hari ini memori ku terus berkeliling kesegala masa yang pernah ia lintasi. Ia terus menggali ingatan ingatan yang selalu berhasil merobek bukan hanya hati, tetapi juga mimpi. Ia meminta ragaku kembali sedangkan langkahku selalu saja berusaha pergi lebih jauh lagi. Ketika ribuan jarak telah tercipta hingga tempat berpijak pun tak lagi sama, kenapa langit begitu setia? Menerima seperti apapun rupa senja yang datang dan pergi begitu saja.
Tanpa kusadari bulir bulir air mata sudah membanjiri wajahku. mengalir seirama dengan apa yang kini kurasakan.
Perdebatan hati.
Yaa.. Kusebut ini perdebatan hati. Sungguh ini terlalu sulit. Bagaimana mungkin aku berdiri tanpa kaki? Bagaimana caranya aku bermimpi tanpa sanggup merangkai imajinasi?
Tanganku menari pelan diatas sebuah kertas. Menuliskan sepercik surat untuk alam dan segala keagungannya.
Untuk senja dengan ribuan kisah yang telah tercipta, tenang saja.. Rasaku tetap meraksasa tanpa perlu kata dan sapa. tanpa ada cerita. Tanpa ingin kita. Sejauh apapun jarak dan waktu, aku tetap akan jatuh pada keindahan yang sama. Untuk sekarang, biarkan ragaku berusaha berdamai dengan masalalu. Biarkan tubuhku dipeluk angan itu. Sampai jumpa dikisah kita selanjutnya..
Key
Kertas kecil itu kemudian kugulung dan kumasukan kedalam sebuah botol kaca lengkap dengan pita penghiasnya. Dari bibir pantai menjelang gelap berkuasa, aku melemparkan harapan itu kelautan lepas bersama hamparan ombak dan siulan angin yang kuyakin akan membawanya pergi ketempat seharusnya. Tanpa kusadari sudut bibirku terangkat. Seperti ada ruang sesak yang tibatiba kosong seketika.
"Key udah gelap, udah waktu sendirian nya? Balik yuk"
Suara bariton itu memasuki keheninganku. Mataku berlari mencari arah datangnya sosok pria itu hingga dia kini berdiri tepat dihadapanku. Aska tersenyum lembut kemudian ikut duduk bersamaku menikmati semilir angin yang semakin berhembus kencang. Tangannya berusaha mencari jemariku dan menggengam erat saat ia telah berhasil menemukannya. dan lagi lagi pria ini berhasil menciptakan kehangatan.
"Keyy..."
Kali ini suaranya terdengar begitu lembut. Matanya merasuki penglihatanku dan membiarkan wanitanya tenggelam dalam tatapan itu. Lagi lagi mulutku kaku. aku belum siap dan tak akan pernah siap untuk ini. Aku tak cukup berani membuka diri. Bahkan untuk sosok pria yang sangat ku sayangi, aku tak membiarkan nya untuk lebih dari sekedar tau apa yang seharusnya ia tau.
"7 tahun key....." demiapapun hatiku terasa nyeri mendengar ucapannya. Menunggu nunggu pernyataan apa yang kali ini akan dia lontarkan setelah ribuat pertanyaan tanpa jawaban.
"gue sayang sama lo. gue siap jadi teman penghabis senja lo. mulai sekarang gue gabakal kasi kesempatan lo nikmatin semua ini sendirian. entahlah, gue rasa yang lo nikmatin selama ini justru rasa sakit yang lo simpan sendiri. gue mohon...."
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, spontan tubuhku bergerak memeluk Aska erat. menenggelamkan wajahku kebahunya. "Gue sayang sama lo. untuk sekarang lo cuma perlu tau itu'' bisikku pelan.
Aska pun tediam seribu bahasa. Aku bisa merasakan denyut jantung kami yang kini seirama. yang ku tau, ia sedang ikut hanyut pada rayuan pantai yang saat ini hanya ada kami berdua.
YOU ARE READING
Can I ?
Teen FictionUntuk senja dengan ribuan kisah yang telah tercipta, tenang saja.. Rasaku tetap meraksasa tanpa perlu kata dan sapa. tanpa ada cerita. Tanpa ingin kita. Sejauh apapun jarak dan waktu, aku tetap akan jatuh pada keindahan yang sama. Untuk sekarang, bi...
