Kembar.
Satu kata itu yang ada di benak seorang pria muda. Ia tersenyum saat mendapatkan kabar bahwa istrinya telah melahirkan seorang anak, bukan cuma satu tetapi dua anak sekaligus. Dengan tidak sabar dan ingin cepat-cepat menggendong kedua putrinya, pria itu pun memutuskan untuk membatalkan rapat dan rela kehilangan proyek jutaan dolla demi melihat sih buah hati.
Mobil sedan mewah melaju dengan kecepatan sedang, rasa bahagia dan senang sudah tidak bisa di hilangkannya lagi, berkali-kali ia mengucap syukur dan berdoa. Mobil hitam berhenti di persimpangan lampu merah, mata pria itu melirik sebuah toko mainan dan ia pun meminta supir untuk menunggunya selagi ia membelikan mainan.
Tring!
Pintu toko terbuka, pemilik toko menoleh dan tersenyum ramah. Ia pun bertanya keperluan pria yang bernama Choi Siwon. Dengan senyum yang lebar, ia memberitahu keperluannya. Mengerti yang di maksud Siwon, pemilik toko itu mengambil beberapa barang yang ada di rak paling atas dan memberikannya kepada Siwon.
Dua buah gelang yang sangat unik jadi pilihan Siwon, ia tertarik dengan gelang itu saat pertama kali melihatnya, tanpa mempertanyakannya lagi Siwon membeli gelang itu, ia tidak peduli dengan harganya yang penting kedua putrinya bahagia memakai gelang pemberian ayahnya.
Suara tangis bayi pecah di keheningan rumah sakit, para suster mencoba untuk menenangkan kedua bayi yang baru saja di lahirkan ini, mungkin mereka sangat haus dan ingin menyusu, tetapi itu tidak mungkin di lakulan suster kepada orang yang sudah meninggal, jalan satu-satunya adalah memberikan susu pengganti.
Yah. Im Yoona, menggembuskan napas terakhirnya saat anak keduanya lahir, ia ingin memberikan hal yang terbaik untuk anaknya walau pun dokter melarangnya melahirkan secara normal bila mengingat kondisi kesehatan Yoona.
Perjuangan seorang ibu sekaligus istri untuk memberikan hal yang terbaik sudah ia jalankan, kini ia menitipkan buah cintanya dan tanggung jawabnya kepada suami sekaligus ayah yang akan membesarkan mereka dengan kasih sayang, merawat mereka, bermain dengan mereka. Yoona berharap dengan kehadiran dua putri mereka dapat mengurangi kesedihan Siwon dan dapat membuat Siwon tertawa dan melupakan kenangannya bersama Yoona.
Pintu kamar terbuka, Siwon sudah berdiri disana dengan wajah penuh kebahagiaan. Ia pun menghampiri kedua suster yang menggendong anaknya. Air matanya tidak terbendung lagi, dengan terbata-bata ia meminta suster untuk memberikan anaknya. Suster pun memberikan anaknya, tidak henti-hentinya Siwon memberikan sejuta ciuman kepada putrinya yang terlihat lucu dan menggemaskan itu.
Di sela-sela tanggis bahagia, ia bertanya tentang keadaan istrinya. Semua suster terdiam, mereka tidak tega memberitahukan kabar duka ini kepada pemilik rumah sakit ini. Siwon mengerutkan dahinya, ia merasa bingung melihat ekspresi wajah suster yang terlihat sedih itu.
Ia pun memberikan putrinya kepada asistennya dan melangkah menuju tempat tidur istrinya yang sudah terbujur kaku itu. Tubuh Siwon mendadak kaku, kedua lututnya terasa lemas sehingga membuat dirinya lunglai. Bibirnya bergetar, tidak bisa berkata-kata, tangisnya pun pecah di pelukan istrinya.
Siwon mencium pucuk kepala dan kening Yoona lalu turun ke bibir Yoona untuk yang terakhir kalinya sebelum di masukkan kedalam peti mati.
#hari pemakaman#
Isak tangis mengiringi kepergian Yoona, bunga putih telah di lempar ke atas peti mati, butiran tanah mulai menutupi peti mati Yoona dan tertimbun dengan sempurna, tidak ada yang lebih sedih di bandingkan Siwon. Ia hanya menatap batu nisan Yoona tanpa meneteskan air matanya, ia berusaha untuk tetap tegar menghadapi musibah ini, yang dia pikirkan sekarang, bagaimana membesarkan kedua anaknya tanpa kehadiran seorang ibu.
Apakah dia sanggup atau tidak.
Apakah dia bisa menjalankannya atau tidak.
Demi dirinya, tidak ada yang lebih berharga selain kebahagiaan kedua putrinya. Ia sudah berjanji dengan Yoona agar tetap tersenyum di depan anak-anaknya, tidak akan pernah menunjukan kesedihan apa pun yang terjadi.
Setelah kepergian Yoona, Siwon ingin membuang semua kenangannya dengan Yoona agar tidak ada kesedihan lagi. Ia menyimpan semua barang-barang Yoona di dalam gudang dan hanya di tinggalkan satu kenangan yang tidak pernah Siwon lupakan. Foto pernikahan mereka. Itulah, satu-satunya kenangan yang Siwon miliki sekarang.
Tahun pun berganti, kini sih kembar sudah mulai beranjak dewasa, mereka tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan berprilaku sangat baik dan sopan. Swaragini, itulah nama kedua putri kembar Siwon, nama yang sudah di siapkan Yoona jauh-jauh hari sebelum kelahiran mereka berdua.
Swara Choi. Memiliki sifat Siwon yang pemberani. Pintar. Keras kepala. Memiliki jiwa kepimpinan.
Ragini Choi. Memiliki sifat Yoona yang penyanyang. Sabar. Lembut. Sopan.
Keduanya tidak jauh buang dari kedua orang tuannya. Siwon sangat senang memiliki Swaragini menjadi teman hidupnya, perlahan-lahan ia mulai melupakan kesedihan saat mendengar suara tawa dan canda mereka. Tidak ada kebahagiaan di dunia ini selain melihat senyum di wajah Swaragini.
# 7:00, waktu Seoul #
Alaram kembali berdering 4 menit sesudah di matikan, Swara membuka selimut yang menutupi wajah cantiknya, silau cahaya ponsel menyilaukan matanya yang mulai semakin menyipit itu. Di layarnya penuh dengan kotak masuk dan panggilan tidak terjawab dari Minsung dan Hyerim, teman satu sekolah di Meio School.
Ia mengucek mata dan melirik tanggal dan hari, hari minggu. Liburan kali ini tidak ingin kemana-mana, ingin liburan dirumah menikmati masa liburannya sebelum berakhir.
Swara mencuci mukanya, setelah mencuci muka dan menyikat gigi, ia pun keluar dari kamar menuju meja makan yang sudah berkumpul keluarga kecilnya.
"Selamat pagi, Swara." Sapa Ragini saat melihat Swara.
"Pagi, Ragini." Balas Swara.
Ia pun menarik kursi dan duduk disana. Di hadapannya sudah tersedia makanan kesukaannya. Ia pun meminum teh dan mengambil roti bakar yang sudah di berikan selai kacang.
"Dimana ayah?" Tanya Swara di sela-sela menguyah.
Ragini melirik kursi kosong yang selalu di tempati ayahnya. Ia juga tidak tau kemana ayahnya pergi. Saat bangun pagi, ia tidak mendapatkan ayahnya yang selalu bangun lebih awal dari mereka berdua.
"Entahlah, Swara. Saat aku bangun ayah sudah tidak ada. Kata bibi Nam, ayah sudah berangkat kerja pagi-pagi sekali."
Tidak ada respon dari Swara, dia masih menikmati sarapan paginya. Ragini meletakkan gelas di atas meja.
"Swara." Panggil Ragini.
"Hm, ada apa?"
"Anu, bisakah hari ini kau menemaniku." Pinta Ragini. Swara pun menoleh ke Ragini.
"Menemanimu? Kemana?"
"Aku ada keperluan sebentar. Tidak enak jika aku datang sendirian, lagian ini hari minggu pasti kau tidak ada kegiatan dirumah maupun di luar, kan? Jadi, bisakah kau menemaniku, hanya sebentar."
Swara memutar kedua bola matanya, memikirkan sesuatu. Niatnya tidak ingin kemana-mana, tetapi melihat Ragini memohon seperti itu rasanya tidak tega juga menolak permintaan semanis itu. Swara pun tersenyum seraya menggenggam tangan Ragini.
"Baiklah, aku akan menemanimu. Ragini." Balas Swara. Ragini pun tersenyum dan meletakkan tangannya di atas tangan Swara.
"Terima kasih, Swara." Balas Ragini.
Melihat keakraban mereka membuat siapa saja menjadi iri dengan kekompakan yang mereka tunjukkan. Tidak hanya di rumah, di luar rumah mereka selalu kompak dalam bertindak.
=bersambung=
YOU ARE READING
SWARAGINI
FanfictionSwara Choi : memiliki aifat pemberani. Pintar. Keras kepala. Dan memiliki jiwa kepemimpinan yang di akui. Ragini Choi : memiliki sifat penyayang. Lembut. Penyabar. Ia selalu menjadi yang kedua di dalam segala hal. Park Chanyeol : Teman Swara yang se...
