Gadis kecil itu tak peduli akan hujan yang turun bak air tumpah. Lapangan sepak bola dilewatinya begitu saja. Ia berlari dan terus berlari, mengabaikan air berlumpur yang menggenang, mengabaikan baju seragam kesayangannya yang sangat berantakan.
"Arini tunggu.....!!!" suara Ali pun tak digubrisnya, sahabat kecil Arini sejak masuk SD kelas satu. Arini tak peduli lagi, satu-satunya yang dia pikirkan hanya mama. Yah, Arini merindukan mama, Arini ingin memeluk ibu secepat mungkin. Apa Arini masih bisa melihat ibu yang saat ini terbaring lemah? Arini belum tahu. Sesuatu yang buruk begitu firasat Arini sejak mendapat telepon dari tantenya.
Mama... Jangan tinggalkan Arini...
____
"Jangan sedih Rin..." Ali memegang payung kecil di sebelah Arini. Ali tak henti-hentinya menghibur Arini, teman sekolah yang juga tetangganya ini sangat memprihatinkan bagi Ali. Sepanjang jalan saat habis mengantar jenazah, ia hanya melihat Arini tak berhenti menangis.
"Rin, habis ini kita main yuk, ayunan di depan rumah udah lama nunggu kamu loh..." Ali mencoba menghibur Arini lagi. Kali ini ia mencoba memayungi Arini yang sejak tadi menghindari payungnya. Ali tak tahu rasa sedih yang dialami Arini, yang ia tahu hanya tak ingin Arini menangis lagi.
"Ali, aku nggak punya siapa-siapa selain mama. Papa selalu sibuk dengan pekerjaannya, dan baru hari ini papa tinggal lama di rumah setelah... Setelah..." Arini tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Selain kehilangan ibu, Arini merasa asing dengan sosok ayahnya. Setau Arini, ayah hanya tinggal beberapa hari, setelahnya, ayah Arini jarang pulang, lebih memprioritaskan pekerjaannya. Tapi Arini tidak merasa kekurangan kasih sayang sama sekali. Ibunya berhati malaikat, Arini sangat menyayagi ibunya. Hingga Tuhan memanggil sang ibu.
Arini sesenggukan. Ia lelah menahan air matanya. Dan sesuatu yang tak diduga terjadi. Ia mendengar Ali menangis, mengeluarkan air mata.
"Ali, kamu kenapa? Kok nangis?" Arini mendekati Ali, sejenak ia lupa menahan tangisnya.
"Ayo Arini, kita nangis bersama-sama. Jangan tahan tangismu. Aku juga sedih, ditinggal tante terbaik sebaik mama Arini..." Ali yang setahun lebih tua dari Arini, melepaskan payungnya. Tak peduli lagi dengan hujan, baginya, Arini adalah teman baik, hanya Arini yang tidak mem- bully Ali di sekolah. Kesedihan Arini hari ini, juga kesedihan Ali.
Keduanya terisak di bawah hujan, tanpa sepengetahuan orang lain, keduanya merasakan sedih sejak dini. Arini hanya bisa pasrah. Tuhan sangat menyayangi ibu Arini. Hanya itu yang ada dalam benak Arini. Ia tak bisa berbuat banyak untuk membangunkan ibu dari tidur panjangnya. Selama ada Ali, Arini merasa Tuhan masih menyayanginya. Di usianya yang masih kanak-kanak, Arini harus berjuang, bukan hanya soal dirinya, tapi tentang rasa kehilangan seorang ibu. Arini lebih cepat dewasa dibanding anak seumurannya. Sejak meninggalnya ibu Arini, ia harus melakukan semuanya sendirian.
Tak ada lagi seorang ibu yang akan menyetrika pakaiannya sebelum sekolah, tak ada lagi seorang ibu yang akan memasak makanan kesukannya, tak ada lagi seorang ibu yang akan mendengar semua ceritanya sepulang sekolah. Kini, hari-hari Arini terasa hampa, seperti ruang yang tak memiliki apa-apa, kosong. Namun, Tuhan masih menyayangi Arini. Ada sosok di sana yang diam-diam memerhatikan Arini, mengajak Arini makan ice cream, memancing Arini menceritakan pengalamannya di sekolah, dan mengajak Arini berkunjung ke rumahnya, berbagi makanan dari masakan ibunya, yah, dialah Ali. Teman Arini sejak kelas satu SD. Sosok teman yang tanpa disadari, mengisi kekosongan Arini.
"Arini, kamu mau lanjut SMA mana?" Tanya Ali yang sedari tadi melihat jam tangan.
"Hmm... Dimana yah, hmm.. Nggak terasa yah Al, kita udah tamat SMP, padahal kemarin..." Arini memandang kosong ke depan. Pikirannya jauh entah kemana.
"Kok melamun sih Rin..."
"Eh,, melamun yah,, nggak kok... Hehe... Aku... Aku sangat berterima kasih Al, kamu sudah sangat baik sama aku. Mungkin, jika nggak ada kamu, aku nggak tahu harus bagaimana sejak hari itu, saat kita masih kelas tiga SD. Kau tahu kan, sepenuhnya aku belum bisa menerima kenyataan jika ibuku pergi..." Arini memalingkan wajahnya, mencari-cari sesuatu. Mengalihkan pandangan, yah menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Kamu sedih karena kita nggak satu sekolah? Yeee ada yang sedih nih pisah sama aku..." Ali bersikap jail. Ia mencoba menggoda Arini. Selama ini, persahabatan keduanya tak pernah lebih. Ali menganggap, Arini sudah seperti keluarganya sendiri, bahkan seperti adiknya. Bertemu dengan Arini, sudah lebih dari cukup. Namun, tak bisa dipungkiri, jika Ali juga merasa sedih harus pergi keluar kota, mengikuti orangtuanya yang dipindah tugaskan. Sejenak, ia sangat ragu dengan keputusannya. Apakah Arini akan baik-baik saja?
Hening. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Arini benci mengucapkan selamat tinggal. Dan Ali? Ali tahu semua tentang Arini. Ia pun tahu jika Arini benci dengan kalimat itu. Tapi, Ali harus membiarkan Arini menemukan hidupnya sendiri, karena Ali yakin, jika suatu saat, Arini akan menjadi orang yang hebat.
"Aku rindu mama Al, mengapa dia cepat pergi?...." Arini memecah keheningan.
"Rin, kamu tahu kan hukum alam. Tuhan tidak akan menutup pintu sebelum menutup pintu lain. Mama sudah dipanggil oleh-Nya, tapi yakin deh, suatu saat Dia akan membukakan pintu lain. Dan boleh jadi, pintuNya sudah Dia buka, mungkin kamu belum menyadarinya." Ucap Ali sembari memerhatikan Arini. Ia tidak tahu maksud ucapannya, tapi entah dorongan apa yang membuatnya mengucapkan kalimat itu.
"Maksud kamu...." Tanya Arini merasa bingung.
"Rin, aku nggak punya waktu lagi. Sekarang juga aku harus nyusul orangtuaku di terminal, kamu..." Ali diam sesaat, mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Ambil ini Rin, anggap saja ini adalah kembaranku. Yah, walau nggak sama sih, tapi sama-sama bisa kamu jadikan tempat curhat." Ali tersenyum, lebih tepatnya memaksa tersenyum.
"Makasih Ali, aku benci bilang kata ini. Tapi, aku berharap suatu saat kita bisa bertemu kembali." Mata Arini berkaca-kaca. Ia tak sempat Membalas semua kebaikan Ali, kini bukan hanya sekedar teman, tapi Ali adalah sahabat yang seperti kakaknya sendiri.
Rupanya semua sudah pergi.
Batin Arini sambil memandangi punggung Ali yang sudah memasuki mobil.
Dimana ada pertemuan disitu ada perpisahan.
Arini membalikkan tubuhnya, melangkahkan kakinya sekuat tenaga. Di tempat ini, sudah menjadi saksi bagi keduanya, jika Ali adalah sahabat satu-satunya, seseorang yang dulu menawarinya payung saat ibunya meninggal. Kini, Arini harus melangkahkan kakinya sendiri. Memulai semuanya sendiri. Dan, ia menatap pemberian Ali, sebuah buku bercover merah, di sana tertulis DREAM, NEVER GIVE UP.
Arini membuka buku itu, kosong. Halaman pertama, kedua, dan ketiga, kosong. Kini, Arini tahu maksud Ali. Dengan langkah pasti, Arini berjalan menuju rumahnya, di sana semua kenangan masih tersimpan rapat, sebuah rumah sederhana, seorang ayah meski jarang pulang, dan tentu saja, kenangan-kenangan akan ibunya.
____
Hay.. Salam kenal sebelumnya :)
Vcomment dtggu yah :)
Terima kasih :)
DU LIEST GERADE
Dear Mama...
JugendliteraturYou left so soon... You left so soon... You left so soon... Dear Mama... Ma, ini aku, Arini. Apa mama dengar? Apa mama bisa melihatku? Ma... Ma... Apa aku sedang bermimpi? ____ Ps. Nikmati ceritanya yah meski pemula :) Vcomment, saran dan krit...
