~~~
Aku ingin menulis sebuah catatan rahasia. Ini bukan diari seperti yang kau kira. Kalau aku jadi dirimu, aku akan memilih untuk tidak melanjutkan baca. Seandainya aku punya pacar, ia pun tak berhak untuk membaca ini. Maka alangkah bijaknya jika kau meninggalkan bacaan ini karena ada beban ketidakikhlasan dariku dalam bentuk dosa yang mengalir pada 'akun' dosamu. Kau tidak mau dosamu bertambah hanya gara-gara membaca tulisan kan? Jadi, tinggalkan. Ini bukan firman Tuhan yang diperintahkan padamu untuk dibaca seperti pada surat Al-Alaq. Dan, asal kau tahu, keluargaku pun tak berhak untuk membaca tulisan ini bahkan jika itu ibuku, karena aku baru saja membunuhnya tadi siang.
Kau masih membaca? Dasar manusia keras kepala! Kau sudah paham konsekuensinya kan? Kau berhak atas sebagian dosaku. Atau jangan-jangan kau tidak takut dosa? Kau cukup percaya diri dengan segala ibadahmu itu? Apa kau yakin ibadahmu itu bisa membayar dosa-dosa yang pernah kau perbuat ditambah dosa dariku ini?
Jika aku berdosa, Tuhan akan mengampuniku setiba hari raya.
Cih! Omong kosong apa itu? Tampaknya kau amat yakin dengan janji Tuhanmu itu. Ya, kan? Cobalah berpikir logis seperti diriku sekarang. Mana mungkin dosa-dosamu terhapus tanpa kau berkorban sesuatu? Ingat, kau melakukan sebagian besar dosamu itu dengan amat bangga. Lalu, dengan tak tahu dirinya, kau berakting minta ampun pada Tuhan. Kau ulangi dan lakukan itu setiap tahun. Kau pikir Tuhan semudah itu bisa kau bohongi? Sekali-kali, seriuslah dalam meminta ampun agar kau tidak terkejut melihat betapa besar dosamu di hari perhitungan. Dosa yang kau kira telah dihapus. Haha. Kau lucu.
Paragraf berikutnya diprivat. Hanya untuk follower. Kalau kau yakin dan siap membaca tulisan yang tidak senonoh dan berpotensi menyinggung perasaanmu, kau boleh lanjut.
