+Gendutan

6.6K 400 120
                                        

"Anne!"

Suara berat yang memekakan telinga itu menusuk indra pendengaran Anne ketika ia meneguk segelas air yang baru saja diambilnya. Dengkusan keluar dari hidungnya, kepalanya tertoleh ke arah depan sementara kedua kakinya melangkah cepat ke sana.

"Masuk apartemen orang tuh assalamualaikum dulu kek, apa kek," ketus Anne, menatap sosok laki-laki jangkung yang kini sudah duduk sila di atas sofa hitamnya, menonton Phineas and Ferb.

Laki-laki itu tak menggubris perkataan Anne. Phineas and Ferb jelas lebih menarik daripada makhluk cerewet bermata bulat yang kini sudah duduk di sampingnya, melipat kedua tangan di depan dada dengan wajah tertekuk.

"Kamu tuh suka ngacangin males aku," celoteh Anne sambil menempelkan telapak tangan kanan ke wajah June –si laki-laki jangkung tadi.

"Ahhh awas, Ne!" pekik June sambil menepis tangan Anne di wajahnya.

Lagi, Anne mendengkus. Ditoyornya kepala June pelan sambil bersandar ke punggung sofa. "Gue bakar lama-lama."

"Kayak tega aja," balas June, meledek.

Anne mendecih sambil melirik June sarkastik. Dalam hati ia merutuki dirinya yang mau-maunya pacaran dengan makhluk seperti June.

"Bagusan Upin Ipin tau, Jun," ucap Anne tiba-tiba.

June bergeming, ia meraih remot di meja dan menambah volume televisi.

Kedua manik Anne mendelik, menatap June kesal sementara kedua tangannya mengepal.

June mendekatkan tubuh ke arah Anne, tangan kanannya melingkari pinggang Anne, erat.

"Ditinggal tiga hari ke Bromo kok kamu gendutan, sih?" tanya June, sementara matanya masih fokus menatap layar televisi.

Kedua mata bulat Anne mendelik. "Bodo, ga denger aku!" Perempuan itu mendorong tubuh June kuat-kuat, melemparkan bantal yang semula dipeluknya ke wajah laki-laki itu, sebelum akhirnya berlalu dari sana.

Tiga hari yang lalu, June dan beberapa orang temannya pergi ke Gunung Bromo. Hiburan setelah penat dengan berbagai macam pekerjaan di kantor, katanya.

Awalnya, Anne tidak mengizinkan June untuk pergi. Ia takut kalau pacarnya diculik Wewe Gombel di sana, padahal, tidak ada satupun Wewe Gombel yang sudi menculik manusia sedingin dan secuek June. Tidak berfaedah, katanya.

Tapi June terus membujuk Anne dengan berbagai cara. Mulai dari membelikannya alat pembuat roti otomatis, sepatu walaupun ukurannya sedikit kekecilan karena June lupa ukuran kaki Anne dan membawa selimut yang biasa ia gunakan ke apartemen Anne. Katanya, supaya kalau Anne kangen June, ia bisa memakai selimut itu dan merasakan kehadiran June.

Padahal, itu hanya sebuah alibi. Niat yang sesungguhnya adalah supaya Anne mencucikan selimutnya yang entah sudah berapa bulan tidak June cuci. Kalau ke laundry, June bilang buang-buang uang, sayang.

Akhirnya, Anne mengizinkan June untuk pergi walaupun sedikit tak rela. Sementara June, ia tersenyum penuh kemenangan.

Selama June pergi, Anne jadi sibuk mencoba alat pembuat roti otomatis yang baru saja dibelikan June. Anne bisa membuat lebih dari tiga kue setiap harinya. Jadi, konklusi dari semuanya, June adalah penyebab utama dari tubuh Anne yang katanya gendutan itu.

Anne membuka pintu kamar, menghempaskan pintu itu cukup kuat dan segera berbaring di kasur. Ia terus mengoceh, memaki June yang setidak tahu diri itu mengatakan bahwa dirinya gendutan. Yah.. walaupun memang iya, sih. Tapi kan ini semua juga karena June!

"Dasar! Kenapa ga diculik Wewe Gombel aja sih dia?!" rutuk Anne sambil meremas-remas selimut milik June —sudah dicuci tentunya.

"Dateng-dateng udah ngajak berantem aja sih! Ga tau apa kalau gue kangen?!" pekik Anne tertahan.

Anne menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut milik June tatkala decitan pintu terdengar, menampilkan sosok June yang kini tengah menghela napas sambil menggaruk tengkuknya.

"Marah?" tanyanya.

"YA MENURUT SITU?!"

June terkekeh pelan. Kaki jenjangnya ia langkahkan ke arah kasur Anne dan duduk di sana.

"Jangan ngegas dong, Anne."

"Sini. Kamu ga kangen aku apa?" tanya June lagi, sambil menyingkap selimutnya, menampilkan wajah Anne yang teramat kesal.

Anne melirik June sarkastik. "Ada juga aku yang nanya kamu ga kangen apa sama aku," ucapnya.

June menarik oksigen perlahan. Disingkapnya selimut yang menutupi tubuh Anne, berbaring di samping perempuan itu lalu menyelimuti tubuh mereka berdua. Tangan kanan June bergerak, mengusap rambut ikal milik Anne sementara tangan kirinya ia jadikan sebagai bantal.

Dalam hati Anne berkata pada dirinya sendiri untuk tidak memberikan reaksi apapun pada June. Nihil, pertahanannya tak sekuat itu. Dipeluknya June erat sambil membenamkan wajah di dada bidang laki-laki itu, menghirup aroma khas tubuh June yang membuatnya kecanduan.

"Aku kangen..," gumam Anne, menongakkan wajahnya, menatap manik June dalam-dalam dan mengusap pipi laki-laki itu.

June tersenyum simpul. Ia menatap manik Anne, kemudian mengecup dahinya cukup lama. "Padahal cuma tiga hari, tapi berasa tiga bulan, ya?"

"Lebay anaknya," cerca Anne sambil mencubit hidung June pelan.

June terkekeh, ia memegang tangan Anne yang mencubit hidungnya.

"Kemarin gimana di sana, Jun? Seru ya?" tanya Anne, penasaran.

Anggukan pelan ia terima dari June sebagai jawaban. "Seru. Awalnya kita hampir nyasar, tapi untung aja ada yang keburu sadar sama jalannya. Abis itu kita bikin tenda gitu 'kan, tidur dulu di sana."

Bibir mungil nan ranum milik Anne tertarik, membentuk sebuah senyum. "Terus??"

"Kalau pagi-pagi, udaranya enak deh. Sejuk gitu, ga kayak di sini. Jadi waktu ngehirupnya hidung kamu seolah lega. Pokoknya enak deh, Ne," sambung June. "Udah gitu sunset nya bagus banget, Ne. Tapi ... ada yang kurang sih." June menatap Anne, sedikit mencebikkan bibirnya.

"Loh? Apa emangnya?" Anne mengusap rambut June.

"Kalau aku kedinginan ga ada kamu. Ga bisa meluk," jelas June, dengan nada sedih yang dibuat-buat.

Anne memutar bola matanya malas. "Najis kardus!" hardiknya sambil mencubit perut June.

"Aw! Engga, Ne. Beneran ini."

"Jadi sekarang aku mau puas-puasin peluk kamu," ucap June, kemudian memeluk Anne erat-erat dan mengecup bibir gadis itu singkat.

Kedua sisi pipi Anne bersemu, buru-buru ia memeluk June dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher laki-laki itu.

"Ngomong-ngomong..." June menggantung kalimatnya. "Kamu gendutan kok seksi ya, Ne? Aku mau dong," katanya nakal sambil menatap wajah Anne.

"DASAR LAKI-LAKI TAK TAU DIUNTUNG! ENYAH KAU ENYAH!!" pekik Anne sambil menjambak rambut June, diikuti dengan lolongan kesakitan milik June.

-Fin-

Haiii~

Aku kembali dengan oneshoot compilationnya June! Yeay tepuk tangan! *prok prok prok x1000*

Again, cast ceweknya OC(selalu)

By the way.. mungkin kalian kepo kenapa judul cerita ini Junhoesaur. Kalau ga kepo, plis kepoin/?

Jadi, ini bukan saur yang artinya sahur loh ya.

Kadang-kadang, aku suka merasa kalau June ini mirip dinosaurus/? Jadi ya aku namain aja Junhoesaur. HEHEHE

Yaudah deh itu aja cuap-cuap pertamaku di cerita ini. Semoga kalian suka cerita ini. Yah.. kalau ga suka pun ga papa/? hehehehe

Yaudah. Baiii~

Thank u so so much for reading and don't forget to vote and leave ur comment my dearest readers!^^

Lvoe,

Minyow.

Junhoesaur ✔Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora