[Jangan play mulmed dulu ya~]
______________________
"Daehwi, makanannya udah siap. Makan yuk." Aku memasuki ruangan kerjanya. Ternyata ia tertidur dengan kepalanya yang ia letakkan di atas meja kerjanya. Aku tersenyum tipis sambil mengelus rambutnya dengan lembut. Terlihat di layar monitor komputernya, ia sedang membuat lagu.
"Ugh.." Daehwi menggerakkan kepalanya lalu bangun.
"Makan malem yuk." Daehwi menjawabnya dengan mengangguk dan berdiri.
Kami langsung berjalan ke ruang makan. Daehwi duduk sambil mengusap-usap mukanya. Mungkin ia masih belum sepenuhnya bangun. Terlihat lucu sekali.
"Habis makan langsung tidur aja."
"Nggak bisa. Aku harus ngelanjutin laguku."
"Kamu udah tiga kali bilang gitu. Kamu itu kurang tidur, sayang." Daehwi mengangguk.
Kami larut dengan pikiran masing-masing. Hanya suara peralatan makan kami yang saling berbenturan. Aku merasa sedih melihatnya begini. Ia selalu tidur larut malam hanya untuk membuat demo lagu supaya bisa ia ajukan ke suatu perusahaan musik. Sudah dua kali demonya ditolak. Aku yang juga menggeluti pekerjaan di bidang musik tidak mengerti kenapa masih ditolak.
Daehwi sudah selesai dengan makanannya. "Biar aku aja yang cuci piringnya. Kamu istirahat aja." Kataku.
"Makasih." Jawab Daehwi lalu ia berjalan ke ruang tengah.
Namaku Kara. Sudah dua tahun aku berpacaran dengannya. Kami tinggal di satu apartement yang sama, tetapi berbeda kamar tentu saja. Dua tahun adalah waktu yang cukup lama untukku mengenal tentang Daehwi. Aku menyukai sifatnya yang riang, tetapi juga bisa bersikap dewasa.
Kini dia bekerja di perusahaan milik ayahnya. Tetapi jika demo musiknya sudah diterima oleh perusahaan musik, ia diperbolehkan untuk berhenti dan bekerja di perusahaan musik tersebut.
Ketika aku sudah selesai mencuci peralatan masak dan makan, aku menyusul Daehwi ke ruang tengah. Ternyata ia sedang membaca buku.
Aku duduk di sebelahnya dan memandangnya. Matanya terlihat lelah.
"Tidur, udah malem." Kataku.
"Aku belum ngantuk. Temenin aku sampe tidur ya?" Tanya Daehwi dan kujawab dengan anggukan. Kami langsung ke kamar Daehwi.
Daehwi duduk di pinggir kasurnya. Aku menyeret bangku kecil yang ada di kamarnya ke pinggir samping tempat tidur Daehwi.
"Kok duduk? Mikir apa lagi?" Tanyaku sambil duduk.
Daehwi menggeleng-nggelengkan kepalanya lalu membaringkan badannya di tempat tidur. Kuusap-usap rambutnya lembut.
"Kara." Daehwi menatapku sendu. Terlihat sekali kalau dia kelelahan.
"Ya?"
"Demoku udah jadi." Katanya. Entah kenapa nadanya terdengar sedih.
"Bagus dong. Besok aku dengerin ya." Kataku.
Daehwi tidak menjawab. Dia terlihat sedih.
"Hei, kamu kenapa? Kok kayak lagi sedih."
"Nggak. Mungkin aku capek aja." Daehwi memejamkan matanya. Aku masih setia mengusap rambutnya. Ketika aku melihat Daehwi yang sudah tidur, aku keluar dari kamarnya dan masuk ke kamarku untuk tidur.
💫💫💫
"Hwi, katanya demonya udah jadi kan? Pengen denger nih."
