Berjalan tertunduk lesu. Tas yang ia pikul terasa berat, 100 kilogram mungkin. Beban yang dirasakan Joan setiap pagi. Langkahnya terhenti, pandangannya tertuju pada toko kelontong yang tak jauh dari tempat ia berpijak sekarang. Zona horor, kabut yang tiba-tiba muncul dari dalam gang yang ada disamping toko tersebut, suara bisikan yang membuat bulu kuduk berdiri. Ia mempercepat langkah kakinya, ia ingin cepat sampai ke sekolah dan menghilang diantara buku-buku pelajaran. Tapi matanya tak dapat beralih, terus memperhatikan toko kelontong itu. Toko yang masih tertutup rapat di pagi ini. Joan terus melangkah bahkan lari kecil agar segera melewati toko itu. Hingga tepat di sebuah gang yang ada pas dekat toko itu terdengar suara siulan, "huit, huit."
Mendengar siulan itu, Joan mendadak menjadi patung seperti tersihir yang merubah kaki-kakinya menjadi akar yang masuk ke dalam perut bumi, tak bisa bergerak. Langkahnya yang ia percepat tadi, menjadi berhenti. Mukanya menjadi pucat pasih. Seperti mendengar seruan setan.
Terdengar lagi suara decakan lidah oleh air liur, "ceut, ceut."
Matanya langsung tertuju pada gang yang berbentuk lorong sempit. Kakinya melangkah sedikit demi sedikit , gemetar, seperti berjalan diatas tali yang dibawahnya adalah lembah yang curam. Berubah arah bukannya melangkah lurus ke sekolah, ia malah belok kanan menuju ke dalam lorong itu. Gelap dan mengapa pandangannya menjadi berkabut. Terlihat samar-samar seorang yang memakai baju seragam yang sama dengan Joan. Berdiri menyenderkan badannya di tembok dengan tas yang tersangkut di bahu kirinya, menggerakkan jari-jarinya, memanggil Joan untuk mendekat. Cahaya merah yang menyala kecil dan asap yang keluar dari mulut dan hidungnya. Mata yang terus memperhatikan langkah kaki dari bocah berperawakan sedang, rambut belah tengah, berkulit bersih, dan seragam yang dimasukan dengan rapi.
"Cepet!" dengan nada tak sabar pria itu berbicara pada Joan.
Joan pun mempercepat langkahnya. Sekarang jarak mereka hanya berjarak 60 cm saja. Tatapan matanya membuat Joan tak bisa berkutik. Sekarang pria itu yang bergerak dengan meninggalkan tasnya di jalan. Ia mengelilingi Joan. Memperhatikan Joan dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Mana uang jajan gue hari ini?" tanya pria tanggung itu.
"Emm, anu, maaf, hari ini saya tak di beri uang sama mama, Rius." jawab Joan terbata-bata.
Mendengar jawaban Joan seperti itu, ia menghentikan langkahnya tepat di depan Joan. Membuang asap rokok tepat dimuka Joan, hingga Joan terbatuk kecil. Dengan senyum sinisnya ia merapatkan tubuhnya semakin mendekat ke tubuh Joan.
"Jangan bohong!" dengan berbisik pada Joan.
"Aaa, anu..." Rius tak sabar langsung membalikkan tubuh Joan dengan kasar dan mendorongnya merapat ke dinding. Bocah tanggung itu merampas tas Joan, membuka tas dengan terburu-buru. Buku-buku semua di keluarkan dan dijatuhkan sembarang. Alat tulis dan baju olahraga berhamburan di tanah. Rius hanya menemukan kotak bekal berwarna kuning dan botol yang berisi air.
Bocah yang lebih tinggi dari pada Joan, masih tak percaya apa yang dikatakan Joan. Dengan rokok yang masih menyangkut di bibirnya ia kembali membalikkan Joan kehadapan depan. Ia mulai menggeledah seluruh saku seragam Joan. Dari saku baju hingga saku celana. Di saku celana Joan, Rius hanya menemukan uang 5000 rupiah. Dengan senyum sinis ia memperlihatkan uang yang ia berhasil temukan disaku celana Joan.
"Loe hanya di kasih jajan segini? Mana uang yang biasanya? Jangan, jangan loe sudah ngelapor sama mama loe?" dengan menunjukkan uang 5000 itu kepada Joan.
Joan yang masih tertunduk menganggukan, menggelangkan kepalanya untuk menjawab semua rentetan pertanyaan yang diajukan,dan memberanikan diri memandangi uang 5000 yang ada di tangan Rius sekarang.
"Itu untuk naik angkot pulang pergi. Jadi untuk hari ini tolong jangan diambil Rius." Dengan nada yang mengiba Joan terus memandangi uang 5000 itu.
Rius sepertinya tak peduli dengan ucapan Joan. Dengan sigap ia segera mengantongi uang itu.
"Sepertinya loe harus banyak berolah raga. Jadi untuk hari ini loe bisa ekstra olah raga!" Rius mencengkram wajah Joan dan menghempaskannya.
Rius melangkahkan kaki dengan muka kesal karena tidak mendapatkan uang sejumlah biasanya dari Joan. Meninggalkan Joan sendiri yang sedang membereskan barang-barang yang berserakan di tanah. Dengan muka kesalnya ia membuang putung rokok ke arah Joan dan menendang beberapa buku yang masih berserakan ke arah Joan.
Joan menarik nafas lalu membuangnya, menarik lagi dan membuangnya lagi. Matanya memandang buku yang ada ditanah, terpaku sebentar. Dengan senyum kemenangan hari ini untuknya. Ia melihat arah Rius yang sudah menghilang. Mengambil uang yang ada di saku celana olah raganya. 2 lembar uang 20.000 rupiah dan 2 lembar uang 5.000 rupiah. Ia segera menyimpannya di tempat persembunyian terakhir yaitu di sela-sela kaos kakinya. Setelah semua barang masuk kembali ke tempatnya ia beranjak dari tempat itu.
Memasuki kelas Joan melihat semua siswa sedang berkerubung. Mereka saling bertumpang tindih membawa buku dan pulpen menyalin dari satu sumber yang sama. PR matematika dan guru yang sungguh luar biasa galaknya membuat siswa yang lain ketakutan jika tidak membuat tugas itu. Joan hanya melirik ke arah mereka sesaat lalu duduk di kursinya. Beberapa buku ia keluarkan dari dalam tasnya. Ia memang sudah membuat PR itu, yah walaupun nanti ada jawaban yang salah, yang penting itu hasil dari pemikirannya sendiri bukan menyalin dari pemikiran orang lain, walaupun hasil dari pemikirannya itu adalah salah jawabnya. Itulah yang selalu dikatakan oleh kakeknya. Karena sebenarnya makna dari setiap siswa untuk bersekolah belajar dari kesalahan.
Duduk di dekat jendela bisa membuat ia melihat ke arah luar. Melihat anak-anak lain sedang bermain jika jam olah raga tiba. Bisa melihat awan yang bergerak, hujan yang datang, dan juga bisa melihat betapa berkilaunya matahari. Matanya kembali terarah pada buku yang sudah dikeluarkannya. Halaman demi halaman kembali ia buka. Hingga terdengar suara gesekan kursi dengan lantai yang bergitu keras. Joan tak perlu melihat dari mana sumber suara itu, ia sudah bisa menebak siapa itu. Rius yang menarik kursinya duduk lalu tertidur beralaskan tas sebagai penyandar kepala.
Suara bel pertanda jam belajar mengajar sudah di mulai. Semua anak-anak yang berkerubung terlihat cemas, karena guru matematika akan masuk ke kelasnya. Banyak yang belum selesai menyalin PR terlihat menulis dengan keras sampai detik-detik kedatangan Pak Dito, atau yang sering di sebut Mr. TJ. Parfum yang menyengat dengan pengaris kayu yang panjang adalah ciri khasnya. Dari seluruh siswa dikelas 2B itu hanya ada beberapa yang terihat tenang. Joan tentunya, Dwina, cewek berambut hitam panjang nan tebal yang duduk didepan sebagai salah satu siswa pandai di kelas itu, dan yang satu lagi tentu Rius yang masih merebahkan kepalanya walau ia sudah tahu bahwa Pak Dito telah ada di dalam kelas itu.
"Ayo cepat keluarkan PR nya!" perintahnya dengan lantang, kacamatanya turun hingga kebagian dasar hidung yang membuat hidungnya menjadi terlihat mancung. Anak-anak langsung membuka catatan mereka. Pak Dito segera berkeliling melihat setiap catatan murid-muridnya. Sampai dimeja Rius, Pak Dito berhenti. Melihat buku catatan Rius yang masih bersih tak ada satu pun ia kerjakan.
"Kamu tidak mengerjakan tugas yang saya berikan?" tanya Pak Dito.
"Tidak, Pak!" Jawab Rius dengan santainya.
"Kenapa kamu tidak kerjakan?"
"Saya tidak bisa mengerjakannya."
"Tidak bisa atau tidak mau mengerjakannya?" tanya Pak Dito yang mulai geram dengan tingkah Rius yang seperti menantangnya.
"Saya tidak bisa, Pak. Jika saya bisa, sudah pasti saya kerjakan!" jawab Rius.
Segera tangan Pak Dito berada di antara pipi dan telinga Rius. Kemudian ia menarik jambang Rius ke atas. Itulah hukum yang seri diberikan kepada siswa yang tidak membuat PR. Itu juga kenapa ia mendapat nama lain Mr. TJ ( Tarik Jambang). Tapi Rius tak meringis kesakitan. Ia sudah kebal oleh segala hukuman.
"Berikan alasanmu kenapa kamu tidak bisa, sedangkan teman-temanmu yang lain bisa mengerjakannya?"
"Saya tidak tahu kenapa saya tidak bisa mengerjakannya. Daripada saya mencontek jawaban orang lain, lebih baik saya tidak mengerjakannya!" beberapa orang ada yang melihat ke arah Rius walau hanya sebentar karena Rius membalas tatapan mereka, dan beberapa lagi hanya bisa terdiam ditempatnya sambil mulut mereka mencibir penghinaan Rius.
"Bapak tidak pernah bilang kamu harus menyontek jawaban milik orang lain, tapi kamu dapat bertanya bagaimana cara mendapatkan jawaban itu. Sekarang kamu maju ke depan kerjakan salah satu tugas di papan tulis!"
"Tapi saya tidak bisa, Pak." jawab Rius masih dengan santai.
"Iya maju dulu ke depan, lalu kamu dapat bertanya bagian mana yang kamu tidak bisa? Bapak akan membantu kamu nanti. Sekarang maju dulu ke depan!"
Rius pun maju dengan membawa buku matematika. Ia mengambil spidol yang berada di meja guru. "Kerjakan soal nomor 3." lanjut Pak Dito.
Rius menulis soal yang dimaksud, Pak Dito kembali berkeliling melihat pekerjaan anak-anak yang lain. Rius hanya menulis soalnya di papan tulis. Jarinya berhenti sampai menulis soal. Pak Dito yang melihat Rius diam mematung, memandang kearah soal yang ia tulis.
"Coba ada yang bisa membantu Rius mengerjakan tugas ini?"
Semua anak terdiam. Bukan karena tidak bisa, tetapi ini waktu untuk membalas Rius dengan segala tingkah lakunya yang minus kepada teman-temannya. Membantu menghukumnya dengan berdiri mematung di depan kelas. Melihat reaksi murid-muridnya yang diam saja ketika ia memberikan pertanyaan membuat pak Dito heran.
"Masa tidak ada yang bisa menjawab?" semua anak masih terdiam kompak.
"Coba Joan bantu Rius!" perintah Pak Dito. Joan pun dengan enggan maju ke depan, tapi mau tak mau ini adalah perintah. Ia pun beranjak dari kursinya membawa buku catatannya. Mengambil spidol yang masih tersisa di meja guru. Joan kembali menulis soal yang telah ditulis oleh Rius karena Rius tak mau bergeser dari posisinya. Rius hanya memandangi wajah Joan. Dengan mata yang tajam dan bentuk alis yang menurun membuat tampangnya menakutkan. Joan hanya berani melirik ke arah Rius sesekali. Ia tahu Rius masih memandanginya terus. Bagai harimau yang sedang membidik buruannya.
Beberapa menit jawaban telah ditulis oleh Joan di papan tulis. Pak Dito memeriksa jawaban yang ditulis oleh Joan. Melihat jawaban yang ditulis oleh Joan adalah benar ia mempersilakan Joan untuk duduk, sedangkan Rius masih harus berdiri.
"Jadi apa kamu sudah mengerti Rius?"
"Belum."
"Bagian mana yang tidak kamu mengerti?"
"Semuanya Pak!"
Pak Dito hanya menghela nafas mendengar jawaban Rius.
"Ya sudah duduk sana, habis pulang sekolah bapak akan adakan kelas khusus untukmu, Rius." Rius yang mendengar perkataan pak Dito, sekarang dia yang menghela nafas. Lalu kembali berjalan ke kursinya.
Pelajaran matematika ini membuat Rius merasa ngantuk. Melihat angka-angka yang berjejer di buku, seperti obat tidur baginya. Matanya makin sayu. Ia membayangkan bagaimana nanti kelas khusus bersama Pak Dito. Kenapa sekolah ini seperti penjara baginya.
Bel berbunyi pertanda istirahat, semua anak langsung berhamburan menuju kantin. Hanya tinggal Joan dan Rius yang masih berada di dalam kelas. Joan yang mengeluarkan bekal makannya sedangkan Rius kembali membaringkan kepalanya untuk tidur. Makan pun Joan masih khawatir, karena hanya mereka berdua di dalam kelas. Perlahan Joan membereskan makannya yg belum selesai. Menggeser kursinya pun dengan perlahan agar tak menimbulkan bunyi. Ia masih melihat apakah suara kursinya membangunkan Rius. Untung Rius tak bergeming. Mengendap-endap ia membawa keluar makanannya. Terdengar suara 'Taak' dan pulpen pun jatuh bergelinding ke lantai setelah membentur papan tulis.
Joan yang sudah mendekati pintu, terdiam sejenak. Ia langsung menoleh ke arah Rius. Dengan mata yang merah, seperti orang tidur tapi kurang pulas. Matanya tertuju pada Joan. Mereka saling berpandang.
"Mau kemana loe?" tanya Rius .
Joan dengan gemetar ia menjawab, "Ma...u keee... kan...tin."
"Balik!" perintah Rius.
"Tap...pi..."
"Gue bilang balik, balik!" sentak Rius yang membuat Joan terkesiap.
Tak membantah lagi perintah Rius, Joan langsung membalikkan badannya dan mempercepat langkahnya kembali ke kursinya. Membuka kembali kotak bekalnya dengan sesekali ia melirik ke arah Rius yang sudah memejamkan mata dengan posisi tegak, kepala yang bersender ke tembok.
Istirahat pertama hanya 15 menit, begitu tak terasa. Tapi Joan sudah memakan habis bekalnya. Persiapan untuk babak selanjutnya. Pelajaran selanjutnya adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Bu Henny yang mengajar sekaligus wali kelas mereka. Semua anak- anak sudah masuk kelas dan duduk di kursi masing-masing, tapi Rius malah berdiri dan berjalan keluar. Dari kejauhan ia melihat Bu Henny sedang menuju ke kelasnya, Rius pun melangkah dengan cepat menuju ruang persembunyiannya.
UKS adalah ruang tempat persembunyian Rius. Di sana ia bisa tidur beberapa jam, di mata pelajaran yang gurunya terlalu baik, dalam arti lemah terhadapnya. Rius hanya masuk kelas pada guru yang tegas terhadapnya. Kebetulan diruangan ini tidak ada yang jaga, jadi Rius bisa langsung tidur tanpa harus berbohong sakit dulu untuk bisa tidur disitu.
Bu Henny masuk ke kelas, seperti guru yang mau mengajar, ia membawa buku dan daftar absen murid-muridnya. Tapi ada yang beda hari ini ia membawa paper bag besar kali ini. Anak-anak yang melihatnya, ribut menanyakan apa yang dibawa oleh guru mungil itu. Sang guru hanya menebar senyum dari bibir mungilnya. Tanpa harus berteriak atau menggunakan kekerasan cukup dengan satu jari telunjuk yang di dekatkan ke bibirnya mampu membuat tenang kelas yang masih penasaran dengan apa yang di bawanya.
Bu Henny mulai memanggil nama-nama murid yang hadir dalam kelasnya. Mulutnya terhenti ketika menyebut nama Tarrius Sakti, tak terdengar suara jawaban ketika nama itu dipanggil. Bu Henny langsung tertuju pada kursi yang kosong. Hanya ada tas yang terlihat duduk di kursi itu.
"Restu kemana Rius pergi?" tanya Bu Henny kepada ketua kelas.
"Tidak tahu Bu. Saya tadi masuk kelas memang sudah tidak ada."jelasnya.
"Mungkin ada yang tahu dia pergi ke mana?" Bu Henny menanyakan pada murid-murid yang lain. Yang di balas oleh mereka dengan diam atau menggelengkan kepala mereka. Sebenarnya ada yang tahu kemana Rius pergi, tetapi lebih baik mencari aman, ketimbang Rius ngamuk. Bu Henny tetap meneruskan proses belajar mengajar, walau ia masih bertanya dalam hati kemana Rius berada.
Rius yang tidur nyenyak hingga jam istirahat ke dua di mulai. Bunyi bel yang keras membuat ia terbangun dari tidurnya. Tangan yang dijulurkan ke sembarang tempat dengan sekuat tenaga, seluruh tubuhnya direnggangkan. Selesai peregangan ia bangkit dari tidurnya dan mematahkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan tatapan yang masih sayup-sayup. Hanya menguap yang menemaninya dalam ruangan kecil itu. Melihat jam di dinding yang sudah menunjukan jam 12 siang. Ia menggaruk garuk kepalanya dengan masih menguap yang menemaninya, dan merapikan kembali rambut yang telah diacak-acaknya.
Memakai kembali sepatunya, ia keluar dari tempat persembunyiannya. Berjalan menuju kantin dengan masih sesekali menguap. Semua anak yang ia lewati pasti tertuju padanya. Mereka pasti takut atau tidak mau berurusan dengan anak badung macam Rius. Sampai di kantin matanya tertuju pada seseorang yang ikut berkerumun. Lagi-lagi Joan yang sedang mengantri menjadi incarannya. Joan yang mengantri di tukang soto ayam dengan beberapa teman sekelasnya. Rius yang melihat itu langsung menuju ke buruannya. Dari jauh ia melihat Joan mengeluarkan uang dari saku celananya untuk membayar soto itu. Dengan senyum kecutnya, ia terus melihat ke arah Joan tanpa melirik yang lain. Joan yang sedang sibuk membawa makan siangnya dan mencari tempat yang kosong. Untunglah ada tempat yang kosong, walau itu berada di pojokan.
Dari balik pilar yang besar, tempat ia melihat Joan yang sudah duduk di pojokan kantin. Rius datang menghampiri ke arah Joan dan kawan-kawannya. Mereka yang sedang asyik mengobrol tak mengira siapa yang ada di belakangnya. Karena berada di pojokan jadi mereka hanya bisa memandang tembok yang ada di depan mereka, tanpa bisa tahu siapa yang ada di belakangnya. Dengan kasarnya ia menendang kursi Joan. Untungnya Joan tak terjatuh. Teman-teman yang lain yang berada satu baris dengan Joan langsung membawa makanan mereka dan menjauh dari Rius meninggalkan Joan. Tinggal Joan yang duduk di temani oleh Rius yang sudah memegang kepalanya. Dengan kakinya ia menarik kursi yang sudah ditinggali oleh teman-teman Joan. Ia duduk di sebelah kiri Joan. Joan yang belum sempat memakan makan siangnya, hanya bisa menelan ludah dengan kedatangan Rius.
"Udah makan, entar keburu dingin sotonya?" perintah Rius yang dengan senyum sinisnya memadang Joan yang masih mematung hanya bisa memandang soto ayam itu tanpa berani memakannya.
"E...eh kamu sudah makan Rius?" tanya Joan yang ketakutan. Dengan gemetar tangannya menyodorkan soto ayam lengkap dengan nasinya kepada Rius yang ada di sampingnya.
Dengan tawa yang mengegelegar ia menertawakan tindakan Joan. Semua anak-anak yang mendengarnya menatap ke arah di mana sumber suara itu berasal. Rius yang menyadari itu, tahu ia tak boleh gegabah atas tidakannya. Rius menatap ke semua mata yang menatapnya satu persatu. Dengan mata tajamnya ia menundukan serta menjinakkan mata-mata yang menatapnya tadi dan kembali kepada Joan.
Menghirup soto yang di sodorkan Joan "Emm, enak banget, wanginya aja enak!"
"Ya...ya... yah sudah makan saja. Aa, aku bisa beli lagi kok!"
Rius pun mengembalikan soto ayam berikut dengan nasinya ke Joan kembali.
"Ahh enggak usah. Udah loe makan aja. Biar kuat nanti." Otak pintar Joan langsung berpikir apa yang akan ia dapat atas kebohongannya ini. Rius pun mendekatkan bibirnya ke telinga Joan membisikkan sesuatu. "Loe harus makan banyak karena habis pulang sekolah, gue punya sesuatu yang menarik buat loe!"
Rius pun meninggalkan Joan. Sebelum meninggalkan ia mengacak-acak rambut Joan. "Selamat makan Joan, sampai nanti!" Saat itu juga nafsu makan Joan telah hilang, ia hanya bisa menelan ludahnya sekarang.
Jam sekolah telah usai, Rius sudah menghilang terlebih dahulu untuk menghidari kelas khusus dengan pak Dito. Joan yang sedari tadi belajar dengan tak tenang karena memikirkan apa yang akan di lakukan oleh Rius nantinya. Joan bergegas membereskan semua buku dan barang-barangnya dan melangkah dengan kaki seribu. Ingin rasanya cepat sampai ke rumah, tapi itu tidak mungkin. Pak Dito yang berdiri di ruang kelas memberhentikan Joan.
"Joan kamu lihat Rius?" tanya pak Dito yang melongo ke dalam kelas mencari seseorang yang dicarinya tidak ada.
Dengan menggelengkan kepalanya ia menjawab. Pak Dito yang melihat tingkah Joan menyadari ada sesuatu yang aneh.
"Kamu Bapak lihat kurang bersemangat belajar? Ada masalah?" tanya Pak Dito.
Lagi-lagi Joan hanya menjawab dengan mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu kalau ada masalah atau ada teman yang menggangumu bilang sama Bapak atau wali kelasmu jadi semua bisa diatasi. Jangan hanya diam!"
Joan sekarang hanya menjawab dengan anggukan kepalanya. Dalam hati kecilnya mana mungkin ia bisa cerita, bagaimana nantinya jika Rius tahu ia mengadu pada guru-guru atau bahkan pada orang tuanya tentang prilaku Rius yang sering membullynya dan hal yang dipegang Rius sampai ketahuan. Ini saja ia masih memikirkan bagaimana menghindari Rius dan sampai pulang kerumah dengan selamat.
"Aah kamu ini, Bapak nanya kamu hanya jawab dengan kepala kamu, kenapa bibirmu sedang sariawan jadi tidak bisa bicara. Yah sudah sana pulang dan belajar lagi nanti dirumah, yah!" Pak Dito membalikkan tubuh Joan dan menepuk pundak Joan. Joan pun pergi meninggalkan Pak Dito yang telah melangkah kembali ke ruang guru karena tidak berhasil menemukan Rius.
Sudah sampai di dekat gang tempat tadi pagi Rius mengobrak-ambrik tasnya. Apakah Rius bersembunyi disana. Joan tak berani melangkah lebih jauh lagi, kakinya terhenti. Matanya terpejam. Dalam hatinya berdoa semoga Rius tak ada disana.
Dengan menghirup nafas sekuat tenaga. 1, 2,3. Ia dengan segera melangkah cepat dan berlari melewati depan gang itu. Terus berlari, terus berlari. Tak terasa ia sudah begitu jauh dari sekolahnya. Berhenti di dekat tiga listrik yang besar, ia bersembunyi sembari mengisi kembali paru-paru yang telah kosong dengan oksigen. Nafasnya masing terengah-engah. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya. Tas yang ia kenakan di lepasnya. Menyenderkan tubuhnya ke diding tiang listrik dan perlahan ia mulai berjongkok dengan nafas yang masih terengah-engah. Dipejamkan matanya yang ikut merasakan aliran oksigen yang telah mengaliri seluruh tubuhnya. Sesekali lidahnya membasahi bibirnya yang kering dan menelan ludahnya sendiri. Joan lupa kalau ia masih mempunyai air minum didalam tasnya.
Ketika semua sudah mulai tenang ia menoleh ke arah belakang. Memastikan bahwa tidak ada Rius yang mengikutinya. Dirasa cukup aman, otaknya sudah mulai bekerja lagi sebagaimana mestinya, ia baru ingat bahwa masih ada air minum yang tersisa di dalam tasnya. Joan pun mengeluarkan botol air minum itu. Seperti onta di padang pasir, suara Joan minum terdengar keras " gleek, gleek, gleek" sisa air yang ada dibotol itu tak mencukupi kehausan Joan tapi cukup membantu menghilangkan dahaga.
Tenaga sudah mulai pulih ia berdiri dan mengenakan tasnya lagi. Berjalan dengan santai menuju rumah karena hari ini bisa terbebas dari Rius.
*************************************************************************************
hayyo, kalian pernah mengalami apa yang namanya bullying? saya pernah. ini ada sebagian cerita dalam kehidupan saya.
bentuk bully seperti apa yang penrah kalian alami cerita yuuk...
