I'm Not Stupid (Jihoon centric)

354 21 11
                                        

Story Start!

Perpustakaan akan sepi ketika jam pulang sekolah. Itulah mengapa dua anak itu memutuskan mengerjakan tugas kelompok di perpustakaan.

“Soonyoung ke mana sih?” gerutu salah satu di antara dua orang yang menempati salah satu meja di perpustakaan itu.

“Latihan,” jawab lawan bicaranya itu tanpa niat.

“Harusnya dia membantu kita.”

“Dia sudah baik hati meminjamkan laptopnya.”

“Dasar orang kaya. Semaunya saja.”

“Jangan menggerutu terus, kerjakan bagianmu, Seungkwan.”

Percuma, seorang Boo Seungkwan tidak akan berhenti mengoceh dan menganggap dia yang paling berperan dalam pengerjaan tugas mereka. Lalu, ketika dia merasa lelah, dia akan berkata, “Aku tidak bisa lama-lama di sini. Aku ada acara dengan keluargaku.”

“Kalau begitu, pulang saja,” anak di hadapannya menyahut malas.

“Setidaknya kalau Soonyoung di sini, kamu ada yang menemani, Jihoon,” Seungkwan berkata seakan dia peduli.

“Sebentar lagi mungkin dia akan kemari.”

“Oh, Tuhan! Sepertinya aku benar-benar harus pulang, ibuku sudah menelepon,” Seungkwan kembali berteriak heboh.

“Pulanglah.”

“Maafkan aku, lain kali aku pasti akan membantumu. Cepat hubungi Soonyoung untuk membantumu.”

“Tentu,” jawab Jihoon dengan senyuman, seolah-olah menjadi orang bodoh yang termakan omong kosong seorang Boo Seungkwan.

Mungkin Jihoon terkesan bodoh karena mau saja dimanfaatkan oleh rekannya. Tapi, dia tidak seperti itu. Dia bukan orang bodoh. Meski atas nama kelompok, dia melakukan itu semua untuk dirinya sendiri. Percuma jika terus berdebat tentang siapa yang mau mengerjakan atau tidak. Saling menyalahkan hanya akan membuat pekerjaan tak selesai, tak mendapat nilai dan bisa saja tak naik kelas. Dia hanya ingin selamat dari kemungkinan buruk itu.

Beberapa waktu kemudian, terlihat seorang Kwon Soonyoung berjalan lemas memasuki perpustakaan.

“Di mana Seungkwan?” tanya Soonyoung.

“Pulang.”

“Jadi, kamu sendirian dari tadi?”

“Tidak juga, dia baru pulang. Katanya ada urusan.” Tapi, itu bohong. Seungkwan sudah pergi sejak dua jam lalu.

“Uh, aku lelah,” keluh Soonyoung sambil bertopang dagu.

“Istirahat saja dulu,” kata Jihoon pelan. Jihoon tahu Soonyoung lelah setelah sesi latihan taekwondo dan dia terlalu malas untuk mendengar keluhan Soonyoung lagi.

“Hm,” Soonyoung bergumam, mengubah posisi menjadi telungkup dan akhirnya dia tertidur.

“Bangunlah! Sudah hampir malam,” Jihoon berusaha membangunkan Soonyoung.

“Oh, aku ketiduran. Maaf. Bukannya membantumu tapi malah ketiduran. Aku akan mengerjakan sisanya.”

“Tak apa, ayo pulang!”

.

Meskipun pagi ini lumayan dingin, tapi tidak dengan suasana di salah satu sudut kelas 2-1 itu. Lebih tepatnya suasana di antara 3 siswa yang berada dalam satu kelompok untuk sebuah tugas setelah salah satu siswa mengakui kesalahannya.

“Aku minta maaf. Aku tidak tahu kalau akan error begitu,” Soonyoung berkata dengan penuh penyesalan.

“Lalu kita harus bagaimana? Besok kita harus presentasi,” Seungkwan bertanya dengan gusar.

SEVENTEEN Short StoriesStories to obsess over. Discover now