A♡M♡O♡R♡1

7 2 0
                                        

Gadis itu memeluk erat tubuhnya yang terasa menggigil karena suhu udara yang cukup terbilang dingin. Berdiri di depan salah satu toko yang sudah tertutup sejak sejam yang lalu. Sesekali ia menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya barang mendapatkan sedikit kehangatan yang tercipta dari gosokan tersebut.
Terlalu lama berdiri menunggu seseorang yang sudah berjanji untuk segera datang secepat mungkin.
Andai orang yang di tunggunya datang agak lamaan lagi, mungkin dia sudah mati kedinginan di depan toko itu.

Senyumnya merekah saat melihat seorang pria datang menghampirinya. Memberikan sebuah cup minuman hangat seraya berkata, "Maaf, udah nunggu lama. Hujannya terlalu deras untuk di terjang."

"Nggak apa kok." Pria itu tersenyum dan menatap lembut ke arah gadis itu.

"Dingin ya," Ucap pria itu saat melihat tubuh menggigil gadis itu. Dengan cepat ia menarik tubuh gadis itu dan mendekapnya, memeluk, dan memberikan kehangatkan tersendiri.

"Dana, um, makasih ya. Pelukan kamu selalu hangat." Pria yang di panggil dengan sebutan Dana itu membalas ucapan gadis yang ada di sampingnya dengan senyuman tulus.

Sesaat kemudian pria itu terlihat seperti sedang memainkan ponselnya, "Aku udah hubungin taksi online buat ngantar kita pulang, sebentar lagi sampai." Katanya lalu kembali tersenyum.

Gadis itu tampak merasa bersalah, seharusnya ia tidak memberitahukan kepada pria itu kalau dia terjebak hujan di tempat gadis itu bekerja paruh waktu. Tapi, dengan cepat ia menyembunyikan raut wajah sedihnya, "Kamu sih, ngotot buat jemput aku. Jadinya kamu juga ikut kejebak hujan deh bareng aku." Nada yang di ucapkan gadis itu tampak sangat kelihatan kalau ia sedang khawatir.

"Tapi kamu suka kan," ucap pria itu dengan nada merayu.

Gadis itu tampak gelagapan saat ingin membalas ucapan pria di sampingnya, "Eh, nggak... Eh, iya sih. Hehe." Pria itu mengacak rambut gadis di sampingnya membuat gadis itu berdecak sebal. Karena dia sangat tidak suka jika tatanan rambutnya yang selalu ia usahakan buat tampil rapi harus berantakan karena ulah pria itu.

"Udah gak usah cemberut terus, taksinya udah datang. Hujannya juga semakin deras, yang ada ntar kita di tengah jalan malah kejebak macet karena hujan." Omel pria itu yang sudah terlebih dahulu beranjak dari tempatnya berteduh. Kemudian membukakan pintu taksinya, mengisyaratkan agar gadis itu segera masuk ke dalamnya.

"Tauk kok." Balas gadis itu ketus.Pria itu tersenyum mendengar nada ketus dari gadis itu. "Masih aja gemesin walau lagi ambekan."

"Ih, terserah deh." Gadis itu tampak mulai bete karena terus di ejek oleh pria itu. Bukannya merasa bersalah, pria itu malah tertawa mendengar kalimat dari gadis itu.

Tawanya pecah saat melihat gadis yang masih berdiri di depan toko tampak memasang wajah kesalnya. Membuat wajah itu semakin menarik keseluruhan perhatian pria itu. "Haha, yaudah ayo masuk. Gak usah berdebat mulu."

"Kamu kali, yang mulai."

Dirasa percuma saja jika harus melanjutkan perdebatan konyol tersebut, pria itu memilih untuk mengalah, "Oke-oke, aku nyerah. Udah, masuk gih. Aku kedinginan nih berdiri muluk di pintunya," kata pria itu seraya memeluk tubuhnya yang sudah mulai bergetar karena kedinginan.

"Huh, rasain." Balas gadis itu mengejek.

"Hah, untung sayang. Jadi bisa nahan sabar." Ucap pria itu dengan mengelus lembut dada bidangnya.

"What?" Tanya gadis itu "Nothing." Jawab pria itu.

Taksi yang mereka naiki kini meluncur mulus di atas permukaan aspal, jalanan yang licin semakin mepermudah taksi itu untuk melewati hujan deras. Tapi, masih harus memakai mata yang tajam agar tidak salah mengendarai yang pada akhirnya harus terpaksa berhenti kala sesuatu menahan perjalanannya nanti.

¿Hay amor por mí? Stories to obsess over. Discover now