Gadis cantik berambut sepunggung dengan warna sedikit kecoklatan itu baru saja memarkirkan mobilnya. Ia hendak keluar ketika ponselnya bergetar menandakan ada panggilan yang masuk. Sembari berjalan meninggalkan tempat parkir, ia mengangkat panggilan tersebut.
"Iya ini gue lagi jalan dari parkiran," gadis itu menjawab perkataan lawan bicaranya. "Pada di foodcourt, kan?" sambungnya.
"Oke, ntar lagi gue nyampe," ujarnya sebelum menutup sambungan telepon tersebut dan mempercepat jalannya menuju termpat yang dimaksud tadi.
Foodcourt di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Malang tersebut cukup ramai. Apalagi hari ini adalah weekend, jadi wajar saja jika malam ini tempat tersebut dipenuhi orang-orang ntah untuk berbelanja atau sekedar nongkrong menghabiskan waktu dengan keluarga, teman atau pasangan.
"Hassa!" teriak seseorang memanggil dan mengakhiri kegiatan gadis yang masih berpakaian kantor tersebut dalam mencari keberadaan teman-temannya.
Hassa menghampiri meja yang terletak di tengah foodcourt kemudian duduk di kursi paling pinggir, merasa itu memang kursi yang disisakan untuknya.
"Maya nggak jadi ikut?" tanya Hassa setelah menyeruput es teh milik temannya, Dina, yang duduk tepat disebelahnya.
"Engga. Katanya sih mau pulang ke rumah mertua," jawab Dina dan mendapat anggukan paham dari Hassa. "Lo kapan gitu juga?"
"Apaan?" tanya Hassa balik seraya beranjak berdiri ingin memesan makanan.
Dina menyeringai. "Ke rumah mertua," jawabnya, kemudian menjauhkan kepalanya melihat Hassa hendak bergerak ingin menamparnya.
Sementara gadis bernama Hassa itu melanjutkan niatnya untuk memesan makanan, mengabaikan Dina yang tertawa kencang sampai mengundang lirikan pengunjung yang lain dan jelas temannya itu pasti mengabaikan. Kalau sudah begini, Hassa tidak mengakui Dina sebagai temannya.
Sekembalinya memesan makanan, ternyata sudah ada Rani dan Ergan yang sedang berbincang dengan Dina. "Kok telat sih lo berdua", gerutu Hassa.
"Kayak lo udah dateng dari sore aja sih," tukas Dina yang disusul dengan lirikan tajam Hassa.
"Lo baru balik kerja, Sa?" tanya Ergan dan mendapat anggukan lemah dari Hassa.
Hassa meneguk air mineral yang baru dibelinya sebelum melanjutkan. "Hari ini ada kunjungan dari pusat mau ada audit soalnya. Ya, tau sendiri lah ini akhir bulan apalagi gue urusannya sama duit."
Ketiga temannya hanya mengangguk paham.
"Eh, abis ini jadi ke Hugos, kan?" Hugos yang dimaksud Rani adalah salah satu club malam yang berada di Kota Malang. Hampir setiap akhir pekan mereka memang mengunjungi tempat itu. Melepas penat, katanya.
"Jadiin lah. Tapi nunggu Rakin dulu ya," sahut Hassa. Ia mengambil ponselnya dari dalam tas sebelum kemudian menghubungi salah satu nomor dari daftar kontaknya. Setelah menunggu beberapa saat, panggilan tersebut diangkat.
"Lagi dimana? Jadi ikut ngga?"
"Lama banget, sih. Naik G*jek aja kesini ntar kamu aku anter deh pulangnya." Ketiga temannya mulai menghentikan pembicaraan melihat wajah Hassa yang mulai masam. "Ngga usah ribet. Kan udah aku bilang tadi tinggal aja itu mobil di bengkel."
Hassa terdiam mendengar lawan bicaranya. Ia menghela nafas. "Yaudah, buru kesini. Hmm. Iya. Hati-hati dijalan."
Sambungan telepon itu pun ditutup.
"Kenapa, Sa?" tanya Dina.
"Rakin tuh ribet. Mobilnya lagi rusak, kan. Udah gue bilang tinggal aja di bengkel orang udah dari sore tadi, eh masih aja ditungguin. Biasanya juga pake mobil gue sok-sokan bilang ngga enakan apalah," gerutu Hassa.
ESTÁS LEYENDO
The Last Hope [COMPLETE]
Ficción GeneralPada akhirnya, manusia akan belajar mengapa ia terjebak dalam kehidupan yang mungkin tidak diinginkannya. Ini tentang, memperjuangkan harapan dalam kendali manusia yang terbatas. Malang, 18 Juli 2017 _______ This story originally made by me. All the...
![The Last Hope [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/114978193-64-k498940.jpg)