Prolog

98 7 3
                                        

Ingar-bingar dentuman musik menerjang telingaku, menggodaku untuk segera turun ke lantai dansa dan bergabung bersama puluhan manusia yang tengah menari mengikuti alunan musik menghentak yang disajikan oleh sang DJ. Alih-alih mengikuti hasrat, kutenggak wine yang berada dalam gelas berleher panjang sampai tandas.

Sudah hampir tiga jam ini aku terduduk di meja bartender dan tak mendapat pengunjung untuk kutarik ke dalam kamar yang telah disediakan club ini. Menunggu dalam jemu, kuselipkan sebatang rokok pada sela bibirku, di menit selanjutnya, liukan api kecil telah berhasil melumat ujung rokokku.

"Sialan." pekikku ketika seseorang-entah disengaja atau tidak-menubruk bahuku.

Menoleh kebelakang, kudapati seorang pria menggaruk tengkuknya rikuh. "Maaf," Suaranya sedikit teredam dentuman musik.

Alih-alih menjawab, kuhembuskan asap rokok tepat di wajahnya, menyebabkan ia terbatuk dan menepuk rongga dadanya beberapa kali. Jika dilihat dari tampang dan gerak-geriknya, pria ini pasti pengunjung baru di club ini.

Ah peduli setan lah, aku harusnya memikirkan nasibku. Kalau aku terus mematung di sini, kurasa tak mungkin ada pengunjung yang melirikku. Tanpa pikir panjang, kulempar puntung rokok yang masih menyala dan segera melumatnya dengan high heelsku. Melihat itu, si pria yang baru saja menubruk bahuku menelan salivanya dengan gugup. Kutepis bahunya dan mulai melenggang dengan elegan mengelilingi tempat pembunuh jenuh ini untuk menggoda beberapa pengunjung.

Mataku tertuju pada seorang pria yang tengah duduk seorang diri. Sepertinya ia sasaran yang tepat. Saat bokongku ingin mendarat di sampingnya, Pelita datang dari arah samping dan menggenggam pergelangan tanganku.

"Cetta! Lo dipanggil Mimi." bisiknya seraya menatap diriku beberapa saat.

Kutarik sebelah alisku seraya menghela napas malas. "Anjing. Baru juga gue dapet mangsa." ujarku setengah mengumpat.

Tanpa pikir panjang, kulajukan sepasang kaki jenjangku menuju ruangan yang terdapat gantungan nama bertuliskan MIMI PERI di atas pintunya.

Setelah mengetuk pintu dan mendapat persetujuan, kubuka pintu yang berada di depanku dengan sopan.

"Ada apa, Mi?" tanyaku yang disambut dengan tolehan kepalanya ke arahku.

Mimi duduk bersilang tungkai seraya meniup kuku-kukunya yang diberi cat berwarna merah mencolok. "Kamu," ujarnya seraya menunjuk diriku, "ditunggu sama Taka di lobi." Mendengar nama itu disebut, kuputar bola mataku jengah.

"Oke." terpaksa kuiyakan saja perintah tersiratnya.

Kalau saja tempat ini memperbolehkan para pelacurnya untuk menolak melayani pengunjung yang tak ia sukai, sudah barang tentu aku akan menolak untuk melayani Taka keparat itu. Jangan tanya kenapa, karena kau, Pembaca, akan tau dengan sendirinya.

Sayangnya bukan sekarang, bersabarlah sampai waktu berikutnya.[]

***

WOOHOO! Saya nggak tau mau ngomong apa, yang jelas ini baru awalan, makanya saya kasih sedikit aja wkakakakaka.

Omong-omong, saya baru pertama kali ada di genre ChickLit, jadi, kalau kurang gimana gitu, maaf ya hehehe. Akan saya usahakan agar tidak terjadi kekurangan apapun. InshaAllah.

Kayanya Cetta di sini ngeklop banget sama karakter Yunita Siregar, tapi kalau mau bayangin yang lain juga bolehhhh.

Meghana Rajani

Gurat Pena Lentera PetangStories to obsess over. Discover now