Menunggu

17 0 0
                                        

"Karena senja tak pernah memintamu menunggu"

---

"Astaga, La! Lo gue cariin juga," ujar seseorang yang tiba-tiba saja sudah duduk di sisinya.

Sheila, gadis yang sedari tadi melamun itu hanya melirik ke arah lelaki yang sudah dengan nyamannya duduk di sebelahnya.

"Lo tau sendiri, Vin, kalo gue kangen, gue bakal ke sini," balas Sheila sok sendu.

Alvin mencibir pelan. "Gue tau banget, La. Tapi masalahnya, lo ke sininya hampir setiap hari. Lo gak ada kerjaan lain apa?"

Hening.

Selama beberapa saat, mereka hanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga tiba-tiba, terdengar isakan kecil. Tanpa menoleh pun, Alvin tahu, bahwa Sheila sedang berusaha menahan tangisnya untuk tidak keluar.

Alvin mengulurkan tangannya untuk merangkul Sheila dan membawanya ke dalam pelukannya.

"Gue kangen banget, Vin," isak kecil Sheila.

Alvin diam tak menjawab. Hanya saja, pelukannya pada tubuh Sheila semakin mengerat.

"Ini udah senja ke 1024 yang gue lalui sendiri, setelah janji itu, Vin. Janji yang selalu gue tunggu. Janji yang udah buat gue kesini setiap harinya, cuma buat nunggu janji itu bakal ke wujud."

Alvin menghela napasnya perlahan. "Lo selalu nunggu dia disini, tapi, apa dia tau kalo lo selalu kesini setiap harinya? Lo nunggu dia dateng, apa dia bakal dateng, La?"

Sheila menjauhkan badannya dari tubuh Alvin, dan kembali menatap ke arah depan seraya menghela napas perlahan.

"Cuma gara-gara janji itu, Vin. Janji itu yang buat gue bertahan buat selalu nunggu dia. Janji itu yang jadi harapan gue. Gue juga gak tau, akhirnya nanti, dia dateng apa enggak. Cuma yang gue tau, gue bener-bener berharap sama janji itu, Vin."

"Cuma karna janji, lo rela nyiksa diri lo sendiri? Begitu hebatnya janji, bisa membuat orang yang awalnya gak ada harapan, jadi punya harapan sebegini besarnya. Tapi apa lo tau? Gak semua janji ditepatin, La. Banyak orang yang menjanjikan sesuatu, tapi apa hasilnya? Nol besar. Karna apa? Janji adalah kalimat penenang doang untuk mereka bisa lari, La," jelas Alvin sebisa mungkin menahan emosinya.

"Gue tau, Vin. Tapi, apa salah gue berharap? Berharap sama janji yang ada kemungkinan bakal terwujud meski hanya sepersekian persen?" air mata Sheila yang tadinya mengering, jadi muncul kembali.

Mereka diam sejenak. Hingga akhirnya, sang mentari tenggelam, menyisakan langit sore yang semakin menggelap.

"Sudah malam, La. Yuk, pulang," ajak Alvin pelan.

Dirinya bangkit berdiri, lalu menjulurkan tangannya di hadapan Sheila, yang kemudian di respon dengan sangat baik oleh Sheila. Selama perjalanan pulang, mereka hanya diam membisu, hanya saja, genggaman tangan mereka semakin mengerat setiap langkahan kaki.

---

Gadis itu kembali menangis. Menangis dengan derasnya. Sama seperti kemarin. Di tempat yang sama. Dengan alasan yang sama.Bedanya, kemarin dia menangis dengan masih menggengam janji, sekarang, dia menangis setelah kehilangan janjinya.

Tak dipedulikan sekitarnya, dia hanya terus menangis dan menangis. Bahkan, Alvin yang sudah duduk di sisinya 10 menit yang lalu saja tak dipedulikannya. Atau bahkan, dia tak sadar bahwa Alvin telah duduk disampingnya.

Disebelahnya, Alvin hanya diam menunggu, menunggu hingga gadis yang disayanginya itu lelah menangis. Lagi-lagi menunggu. Kenapa harus diciptakan menunggu? Manusia yang memiliki pengharapan, mungkin tak lelah menunggu. Tapi, bagaimana kabarnya manusia yang menunggu jika harapan itu tak ada?

Cukup lama, Alvin menunggu Sheila hingga tangisannya mereda sedikit demi sedikit.

Setelah dirasa gadis disebelahnya itu telah berhenti menangis, Alvin memecah keheningan yang dirasa telah lama.

"La, yuk! Kita pulang. Mereka semua nungguin lo, La."

"Enggak, Vin. Gue belum siap," jawab Sheila dengan bibir bergetar.

Dihadapkannya Sheila ke arahnya. Sebisa mungkin dirinya memberi kepada gadisnya tersebut.

"La, mau gimana pun juga, lo harus terima. Takdir gak bisa dihindarin gitu aja. Mau takdir itu seneng atau sedih, lo gak bisa nyangkal takdir yang hadir dalam kehidupan lo."

Dibiarkannya Sheila yang perlahan mulai menangis kembali. Alvin tahu, sangat tahu malah, bahwa Sheila sangat perlu menumpahkan kekecewaannya dalam bentuk tangisan. Maka dibiarkannyalah Sheila.

"Gimana mungkin, Vin. Orang yang udah janji bakal kembali sama-sama gue, malah pergi ninggalin gue. Tanpa ngomong apa-apa, Vin, bahkan. Lo tau segimana kecewanya gue?"

"Gue tau, La. Makanya, kemarin kan gue udah bilang sama lo. Lo jangan terlalu berharap sama janji yang dilontarkan seseorang. Karna janji, kemungkinan terbesar akhirnya adalah kekecewaan."

Sheila hanya diam. Kembali menangis dalam diam.

Alvin menghela napas perlahan. "Yuk, La, pulang. Mereka udah nunggu lo dari tadi. Lebih tepatnya, jenazah bokap lo udah nunggu daritadi. Mereka gak mau bokap lo disemayamkan tanpa kehadiran lo."

Sheila akhirnya mengangguk perlahan.

Dalam perjalan menuju rumahnya, Sheila kembali membuka pembicaraan. "Kenapa harus pas senja gue dapet kabar duka itu, Vin? Padahal, bokap gue meninggalnya udah dari pagi. Kenapa gak pas pagi aja jenazah bokap gue di bawa ke rumah gue?"

Alvin hanya tersenyum tipis. "Itu permintaan bokap lo, La. Dia minta supaya lo gak lagi nunggu dia setiap senja. Harusnya lo tau itu, La. Karna nyatanya, senja juga gak pernah minta lo untuk menunggu."

---

SenjaStories to obsess over. Discover now