Prolog

19 1 0
                                        

2012

Gadis kecil itu berjalan pelan menyusuri jalanan sepi. Membiarkan angin menerpa wajahnya.Berharap dengan begini angin dapat membantu nya mengurangi rindu yang hadir tanpa alasan atau juga angin akan membawanya terbang ke angkasa sana.

Tapi,apa mungkin opsi kedua terjadi?Gadis itu tertawa kecil.

Ditepi pesawahan yang sedang mulai dibangun oleh gedung-gedung tinggi,Nara berhenti sejenak. Menikmati indahnya matahari tenggelam untuk saat-saat terakhir,mungkin.
Sebelum akhirnya,gedung-gedung tinggi itu akan benar-benar menutup fenomena alam dilangit jingga.

Lanaira Padilla.Gadis kecil bermata bulat yang penuh dengan mimpi.Tak cantik memang,tapi ketika ia tersenyum kalian akan mengerti apa itu rasa damai.Rambut panjang hitamnya selalu terikat rapi.Dan itu membuatnya terlihat,,,manis.

Perlahan,matanya terpejam. Selain untuk menikmati angin,ia selalu senang saat otaknya mulai merangkai kata yang tersusun menjadi sebuah kalimat yang mampu mengutarakan isi hati. Mulutnya mulai berucap...

Seminggu sejak pertemuan kita, kamu tak pernah terlihat lagi. Kamu tau?Mata indahmu membekas.
Berubah menjadi rasa ingin bertemu yang menyiksa.
Setiap malam,bayangmu hadir.
Seolah mengejek aku yang berguling tak jelas menanti kantuk.

Entahlah, apa arti dari tatapan yang menggetarkan ini.
Sesaat tapi tak kunjung hilang.
Apa ini,cerita tentang bumi yang mencintai matahari itu?
Yang terdengar aneh,tapi nyata.
Seperti tak mungkin,tapi ada.
Seperti aku,yang paham tapi tak mengerti.
Ini memang rindu,tapi mengapa?

Nara berhenti sejenak untuk menghela nafas.Rasa aneh yang menyelimutinya selama seminggu ini membuatnya mudah mencetak bulir air keluar begitu saja dari mata indahnya.

Langit senja perlahan menghilang.Diantar angin untuk menjemput malam.

Saat Sang Surya hilang dan berhenti menyinari siang.
Aku yakin,ia tak benar-benar tenggelam.

LP : THIRTEEN JUNEHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora