Part 1

98.2K 4.6K 107
                                        

Kenalin nama aku Seruni Anjani, aku seorang mahasiswi design interior tahun terakhir. Sekarang aku sedang pusing-pusingnya menyusun skripsi di sana-sini, membuat janji dengan dosen yang ntah kenapa sekarang kesibukannya menjadi berkali-kali lipat. Lebih parahnya lagi, di sela-sela kesibukanku ini kedua orang tuaku seperti tak perduli keadaan anaknya ini. Bahkan, mereka merecokiku dengan urusan jodoh, umurku baru saja 22 tahun bulan kemarin dan sudah dikejar deadline nikah.

Masih banyak impianku yang belum tercapai, aku masih ingin bekerja menjadi seorang designer interior yang terkenal, bukannya menikah muda. Sebelum-sebelumnya aku masih bisa menghindari acara-acara perjodohan tak jelas ini. Namun, sepertinya Bapak dan Ibu sudah menemukan kelemahanku saat ini.

"Terserah, kamu pilih mau naik bus setiap hari atau menikah dengan pilihan Bapak dan Ibu?" aku shock mendengar pilihan yang Bapak berikan, itu artinya mobilku sebagai alat transportasi yang paling setia mengantarku ke kampus akan disita.

"Bapak kok tega sih? Aku sekarangkan lagi nyusun skripsi Pak," rengekku kepada Bapak yang tak bergeming pada posisinya, duduk anteng di atas sofa kegemarannya. Aku membayangkan akan jadi apa diriku jika harus bolak-balik kampus menggunakan bus, kalau sekarang dalam jam kuliah biasa aku tak masalah dengan bus, tapi ini aku lagi SKRIPSI loh ya.

"Bu ...." aku beralih menatap Ibu meminta pertolongan beliau namun, apa daya Ibu sama saja dengan Bapak. Kali ini Ibu berada di kubu Bapak. "Bu Pak, Seruni ini masih remaja. Masa sudah mau dinikahin sih," aku mencoba membujuk mereka untuk membuka hati.

Aku memasang tampang semelas mungkin di depan Bapak dan Ibu, yang ada bukan rasa kasihan dan iba justru kata-kata sindiran dari Ibu yang aku terima, "Remaja? Sadar dirilah Ndok."

"Dicoba dulu aja kenapa? Nak Darsono anaknya sopan loh," promosi Bapak kepadaku sambil menatap aku dengan pandangan menusuk. Tunggu, tadi Bapak bilang siapa? Darsono? Astaga mampus aja itu pasti orangnya Mas-Mas atau mungkin Om-Om yang lebih parah lagi bisa saja Mbah-Mbah.

"Darsono? Aduh Pak, denger namanya aja Seruni langsung punya firasat buruk!" raungku dengan muka melas dan bibir manyun, masih berusaha untuk menggoyahkan keputusan Bapak dan Ibu.

"Lah emang sejak kapan situ berpikiran postif?" sindir Ibu dengan seenaknya, 'memangnya Ibu kira selama ini aku mikir jorok apa?' gerutuku di dalam hati.

"Lusa Nak Darsono datang dari Klaten, jadi kamu harus ikut Bapak dan Ibu makan malam dengan keluarganya!" titah Bapak dengan suaranya yang membuatku merinding disko. Klaten? Sudah pasti orangnya kolot dan berfikiran zaman dulu ini.

"Pak Bu, masa tega sih anaknya dinikahin sama Mas-Mas?" aku kembali memelas dan duduk memeluk kaki Bapak seperti anak kecil yang ingin dibelikan es krim.

"Jadi kamu lebih milih mobil kamu Bapak sita?"

Aku kalang kabut begitu melihat Bapak mengacungkan kunci dengan gantungan daun maple di depan wajahku 'Kunci MOBILKU!!' raungku di dalam hati. "Dicoba dulu gimana?" tawar Ibu di samping Bapak sambil tersenyum licik penuh kemenangan.

"Dicoba? Yang bener aja Bu, ini tuh pernikahan Bu bukan permainan petak umpet!" aku duduk pasrah dengan kedua kepala ditundukkan, biasanya gaya anak anjing nangis seperti ini akan meluluhkan hati Bapak dan Ibu.

"Bapak dan Ibu gak akan kemakan sama tipuanmu itu Ndok," jawab Ibu santai sambil mengemil kripik pisang. Aku yang mendengar perkataan Ibu langsung lemas tertidur di atas permadani ruang TV rumahku ini.

"Oke kali ini Seruni setuju," cicitku pelan seolah aku tak rela mengeluarkan jawaban seperti itu yang langsung membuat Bapak dan Ibu jingkrak-jingkrak tak karuan.

Mas Darsono?! (Dreame)Where stories live. Discover now