(Persahabatan Leopard dan Domba)
Desa Awan Putih adalah desa paling indah di negeri Dongeng. Desa ini cukup terpencil tapi cukup luas, dikelilingi oleh gunung-gunung hijau juga dikitari oleh aliran sungai yang sangat jernih. Jika dilihat dari langit, desa ini akan terlihat sangat hijau, karena masih banyak hutan-hutan lebat nan hijau gelap.
Desa Awan Putih ini sangatlah damai, tidak pernah ada kericuhan, semuanya teratur. Penduduknya adalah sekumpulan domba yang ramah dan selalu tersenyum. Tidak ada undang-undang, tidak ada peraturan dan tidak ada yang namanya penjara. Pun begitu, para domba tetap memiliki prajurit atau satuan pengaman yang terlatih.
Tugas prajurit domba ini adalah mencegah para warga untuk masuk ke dalam hutan, juga untuk menjaga desa, jika sekiranya ada tamu asing. Rakyat domba tidaklah tertutup, tapi demi keselamatan bersama, setiap tamu asing akan melewati gerbang pengamanan untuk diinterogasi tujuan dan akan berapa lama tinggal di desa Awan Putih.
Para tamu umumnya memiliki keramahan yang sama seperti para warga domba. Mereka biasanya adalah keluarga sapi, keluarga kuda, keluarga kambing, keluarga gajah dan masih banyak lagi keluarga ramah lainnya.
Yang ditakutkan warga domba adalah para pemangsa dari desa-desa yang gersang, dimana daging adalah menu utama untuk santapan pengisi perut. Mereka adalah warga bertaring panjang, berlari sangat gesit atau warga tanpa kaki, hanya merayap dan meliilit, seperti warga hyena, cheetah, singa, harimau, ular dan lain sebagainya yang serupa.
Yang paling dekat dengan desa Awan Putih adalah desa Angin Bara. Desa ini dihuni oleh sekumpulan warga leopard. Taring mereka sangat panjang dan tajam, mereka sangat cepat dalam berburu juga sangat licik. Beberapa desa yang berada di sekitarnya, perlahan tapi pasti, mengalami penyusutan populasi, yang kemudian menyebabkan para korban selamat memilih bermigrasi, meninggalkan desa kelahiran mereka.
Sejauh ini, desa Awan Putih masih selamat, tapi semakin lama, para tetua semakin gelisah. Seiring semakin kosongnya desa-desa tetangga, maka kemungkinan cepat atau lambat, desa Awan Putih akan diserang juga.
Penjagaan makin diperketat dan para domba pria diwajibkan ikut latihan bela diri. Dengan perasaan cemas, roda kehidupan di desa Awan Putih tetap berjalan seperti sedia kala.
Di suatu senja yang mulai temaram, desa Awan Putih sudah mulai sepi. Semua warga sudah masuk ke dalam rumah masing-masing. Mulai mengistirahatkan diri. Yang masih di luar adalah para penjaga. Semua aktifitas adalah biasa, sama seperti hari-hari yang lalu.
Tapi ada yang berbeda, yaitu para tetua yang ikut berpatroli. Hari sudah beranjak gelap, pertanda malam sudah menaungi desa Awan Putih. Dan para tetua semakin gelisah. Mereka sangat peka akan adanya perubahan pada alam. Sedari sore, tak terdengar kicau para warga Angkasa. Angin pun bahkan tak berhembus, hingga udara cukup panas. Sangat tidak biasa.
Malam semakin larut, beberapa sudah mulai terserang kantuk yang terpaksa ditahan. Udara kini semakin dingin, hasrat untuk lelap, semakin tak tertahankan. Beberapa penjaga menara melihat munculnya sebersit sinar di ufuk, tanda sudah subuh. Sebentar lagi pagi, pikir mereka tak ada salahnya lelap sekejap.
Tiba-tiba, para penjaga di gerbang desa, melihat kerlip noktah-noktah berwarna merah menyala. Mereka bergidik ngeri dan segera menyadari akan adanya bahaya. Seketika mereka membunyikan lonceng bahaya dan beberapa di antaranya kembali masuk untuk menjaga desa serta melakukan evakuasi.
Dalam sekejap, sekumpulan leopard dari negeri Angin Bara, bermunculan dengan auman dan seringai yang lebar. Jumlahnya sangat banyak dan begitu gesit. Para penjaga yang sempat terlelap, kelimpungan dan tidak siap saat mendapatkan serangan.
Desa Awan Putih menjadi kacau balau, teriakan dan tangisan bertumpuk jadi satu. Api membakar tempat tinggal mereka. Darah mengalir di rerumputan juga di pohon-pohon.
YOU ARE READING
Loka Fabel
Short StoryKumpulan Cerpen, dimana semua tokohnya adalah Hewan. Fabel sendiri memiliki arti suatu kisah fiksi yang menceritakan para hewan yang berperilaku dan memiliki sifat layaknya manusia. Zaman dulu, kisah fabel digunakan untuk sindiran pada penguasa atau...
