PROLOG

1.1K 148 11
                                        

"Tolong panggilkan adikku."

Perintah dari seorang lelaki yang terbaring lemah di atas kasur rumah sakit itu terdengar begitu absolut. Tak peduli kepada siapa sasaran perintahnya, semua orang pasti akan tunduk tanpa terkecuali. Begitu pun bibinya, orang yang selama ini mengasuhnya, tak dapat membantah perintah tersebut.

Dua menit berlalu, yang berstatus sebagai adik dari lelaki di atas kasur pun masuk ke dalam kamar dengan berbagai mesin medis itu. Sang bibi menetap di luar, ruangan tidak boleh dikunjungi oleh lebih dari satu orang.

"Hyung," panggil si adik lesu. Ia dari dulu tidak pernah membayangkan orang yang ia anggap kakak satu-satunya akan terbaring lemah seperti ini, tak berdaya dengan sisa umurnya yang terbilang sangat pendek. Rasa bersalah semakin menggerogotinya. Jika ia berada di posisi sang kakak, mungkin ia telah menyumpah serapahi dunia ini yang begitu kejam dan tak berlaku adil untuk dirinya.

Ia duduk di samping ranjang sang kakak, menatap nanar pada wajah pucat pasi yang tetap terlihat tampan dan bijaksana itu. Tak dipungkiri, ia begitu menyayangi sang kakak sekalipun status mereka bukanlah saudara kandung. Tetapi ia berpikir mungkin kakaknya itu tak lagi menyayangi dirinya seperti dulu, sebelum semua fakta busuk yang disembunyikan orang tuanya terkuak.

"Jangan memasang wajah seperti itu. Kau tidak punya hak untuk mengkhawatirkanku," kata lelaki di atas kasur, memakukan tatapan dinginnya tepat di mata sang adik.

"Maaf, Hyung. Aku memang sudah melakukan kesalahan besar, aku mengakuinya." Hanya itu yang keluar dari mulut adik. Kata itupun sudah berulang kali ia sampaikan akhir-akhir ini, namun si kakak selalu menganggap permintaan maaf tersebut layaknya angin lalu.

"Benar, kau sudah melakukan kesalahan besar yang benar-benar merugikanku, merugikan orang yang aku cintai."

Si adik menunduk dalam, menahan tangisannya—bukan. Bukan menahan tangis. Lebih tepatnya, air mata tidak bisa keluar seakan kakak yang tengah menatap tajam dirinya itu membelenggu tangisannya, sengaja menyiksa dirinya agar tak mampu melampiaskan kesedihan sendiri.

"Kau harus menebus kesalahanmu, Mino."

Mino—si adik—mengangkat kepala, menatap kakaknya penuh harap. Ia akan melakukan apapun demi mendapatkan permintaan maaf kakaknya.

Apapun.

"Aku memiliki sebuah catatan penting yang kusimpan dengan sangat baik di brankas kamarku. Password brankas sudah aku kirimkan ke nomor ponselmu," kata sang kakak menyebutkan perintah pertamanya.

"Kau gunakan catatan itu sebaik mungkin, pahami isinya. Setelah itu, kau pasti akan tahu apa maksudku membuat catatan-catatan itu."

Sang kakak lantas menyentuh lembut puncak kepala Mino, memperlakukan lelaki itu layaknya seorang adik. Namun tidak bagi Mino, sentuhan dari kakaknya itu terasa begitu menyiksa. Ia merasa terintimidasi dengan telapak tangan sang kakak yang mengusap kepalanya dengan penuh arti itu.

"Dan terakhir, Mino. Ini adalah tugas paling berat untuk menebus semua kesalahanmu," lanjut si kakak tanpa melepas pandangannya pada Mino.

Mino menanti perintah selanjutnya yang akan keluar dari mulut lelaki di atas kasur. Ia mencoba membaca pikiran kakaknya, namun tak satupun emosi tergambar di air muka sang kakak selain wajah pucat dan tatapan dinginnya.

Detik berikutnya, lelaki di atas kasur menyebutkan tugas untuk Mino yang ia sebut paling berat itu. Mino mendengarkan dengan seksama, merekam tiap kata yang terucap dari mulut sang kakak. Tanpa bantahan, ia mengiyakan perintah kakaknya itu, berjanji untuk memenuhinya sekalipun begitu banyak pengorbanan yang harus ia relakan.

—————

vote and leave some comments about this prologue juseyo^^

fani🌸

Vengeance of Fault [MinRene]Stories to obsess over. Discover now