Iseng aja, ku tempelkan jari telunjukku pada sebuah jendela kamarku, ku gambar bentuk bunga menggunakan jariku tadi. Sudah dua hari Hujan mengguyuri kota ini. Suhu udara di ruangan ini pun mencapai lima belas derajat celsius. Bagiku ini sudah sangat dingin. Akupun melangkah dan mematikan AC diruangan ini. Walau sudah dimatikan, hawa dingin dari AC tetap menusuk perutku. Kubaringkan tubuhku dikasur dan mulai menyelimuti tubuhku. Sesekali ku buka handphone ku untuk memastikan bahwa tidak ada SMS dan telphone. Dan benar saja, tidak ada. Yaudah lah, lagian aku jomblo juga. Berharap banget ada yang nelpon.
Ku taruh handphoneku di atas meja yang berada di sebelah kasurku. Kulihat jam masih menunjukkan pukul 20.38 . Sebenarnya ini terlalu cepat untukku untuk tidur. Tapi sudah tak ada yang bisa ku lakukan lagi. Aku memutuskan untuk mencoba memejamkan mataku perlahan. Tiga puluh menit telah berlalu, namun mataku masih belum bisa berkompromi untuk tidur. Aku mencoba mengubah posisi tidurku, dari mulai terlentang, miring ke kanan, miring ke kiri, tengkurap sampai jongkok diatas kasurpun tak membuatku nyaman. Ini pasti karena dingin. Aku benci suhu yang terlalu dingin karena selalu membuatku tidak bisa tidur. Aku pun beranjak dari tempat tidur menuju dapur untuk membuat segelas susu hangat. Setelah meminumnya, aku kembali berbaring ke atas kasur dan mencoba untuk memejamkan mataku. Aku yakin kali ini akan berhasil.
Saat aku mulai bisa sedikit terlelap, tiba tiba handphone ku berbunyi sangat keras beserta suara meja yang disebabkan oleh getaran dari handphone. Apalagi sekarang sudah pukul sepuluh malam dan kamarku sendiri terletak di lantai dua. Bayangkan kesunyian yang ada tiba tiba dirusak oleh sebuah telpon masuk.
Ku lihat layar handphone ku untuk memastikan siapa orang menyebalkan yang menelponku pukul sepuluh malam. Dilayar itu hanya bertuliskan sebuah nomor. Kuangkat telpon dari si pengganggu itu.
" Halo.. " ucap si penelpon.
" Iya " jawabku singkat
" Ini nomor gua yang baru, lu udah tidur ? Gua ganggu ya? " tanya si penelpon
" Ini siapa emang? " Tanyaku
" Ini gua Dika " jawabnya
" Oh Dika, ada apa? " Tanyaku lagi
" Engga gua cuman mau nanyain besok lu bisa ikut engga ke acara Osis? " Sekarang ia yang kembali bertanya
" Mau sih ikut, tapi gak ada yang nganterin, lagian juga itu kan acaranya malem, kalo ngendarain motor sendiri juga gabisa. Lu tau sendiri mata gua gimana " jawabku.
Sebenarnya aku ingin sekali mengikuti acara tersebut, namun aku juga sadar akan kekuranganku.
" Yaudah nanti gua jemput dirumah lu habis Maghrib ya. Lu harus udah siap gua gamau nunggu lama lama " ujarnya
" Serius lu mau jemput gua? Yaudah gua tunggu ya " jawabku seraya mematikan telphonya.
Aku seneng sekali bisa ikut acara itu, sebenarnya hanya makan makan saja, namun jika semua anggota dapat berkumpul itu merupakan kebahagiaan tersendiri dalam hidupku.
Kulihat jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Percakapan antara aku dan Diki memang sangat singkat, namun aku tak menyangka percakapan ku dengannya bisa sampai hampir satu jam. Entah kenapa, itu membuat perutku geli dan membuatku semakin sulit untuk tidur.
* * * * *
Pagi ini aku bangun kesiangan. Dan seperti perkiraanku, gerbang sekolahku sudah ditutup. 'shiiit' geramku dalam hati.
" Kanjeng Ayu Sekar Mangunkusomo! Kamu terlambat lagii! " seru seorang guru BK dari depan lobby sekolah. Padahal tempat ku berdiri masih di depan gerbang sekolah. Sedangkan jarak antara lobby dan gerbang kurang lebih sepuluh meter. Hal tersebut membuat seluruh siswa yang terlambat menengok ke arahku. Dan sesungguhnya, nama panjangku bukan itu, nama panjang ku Dyah Ayu Sekar. Entah apa yang membuat dia selalu memanggil namaku dengan sebutan itu. Dan terkadang itu terdengar sangat memalukan.
YOU ARE READING
HUJAN
Teen FictionHujan selalu menyimpan sejuta kenangan dan sejuta harapan, dari setiap tetes air yang jatuh hingga tiap detik yang dibutuhkan. Apa kau ingat saat kita berteduh dibawah atap usang? Hanya ada kau dan aku. Kita berbagi cerita, bercanda gurau dan saling...
