Prologue

33 2 0
                                        

Isak tangis memecah heningnya malam,membalas rintihan hujan yang kala itu deras, menciptakan senyuman dari dua insan yang telah lama bersatu.

Mungkin, kebahagiaan kedua insan ini, hanyalah sebutir pasir dari pantai-pantai yang terbentang di negri yang asri ini, tiada terlihat maupun istimewa.

Tapi bagiku, kebahagiaan merekalah yang membawaku kesini, pergi dari kasih-Nya dan menghadirkanku ke tempat ini, tempat dimana aku merasakan cinta yang tiada terbendung tiada hentinya berdatangan untukku. Suatu hal yang baru kurasakan, bunga-bunga menebarkan keharumannya, daun-daun menghijau, lengkingan hewan-hewan malam seakan-akan menyambut kehadiranku.

Aku disini sebagai titipan-Nya, makhluk lemah yang mengerang dan menangis, memohon kasih sayang dan perlakuan spesial. Menyita keseharian mereka, hanya untuk mengayomi, tanpa menghilangkan rasa cinta yang dalam kepadaku.

Kala itu aku adalah makhluk kecil yang egois,haus akan perhatian, hanya memikirkan kepentinganku sendiri. Wajar, ketika itu aku bahkan belum sanggup merangkak, belum mampu melihat dunia yang begitu kotor dan tiada maaf ini.

Hal-hal seperti itulah yang mengokohkanku, suatu saat aku akan melihat mukjizat-Nya yang selalu berdatangan untuk setiap insan yang beruntung, harapan di hitamnya noda tinta, cahaya di setiap mata yang kosong, tambal di hati yang berlubang, hingga emas dibalik busuknya bangkai.

Inilah aku, sosok kecil yang akan segera berenang melewati pengkhianatan, meringkih dalam sesaknya kerumunan, menggelayut di antara takdir, terikat dalam ikatan sakral.

Inilah aku, sosok besar yang pada dasarnya kecil, kecil namun tiada nilai, nilai namun tiada arti, selain menyembah kebesaran-Nya.

Inilah aku, tidak besar tidak kecil, hanya salah satu anggota masyarakat.

Inilah kisahku, saudara.


- Alija, manusia biasa 

PharisaicWhere stories live. Discover now