Mentari kembali bersinar, semua masih sama seperti biasanya. Rutinitas pagi dimulai pada tempat yang sama yaitu sekolah. Sepercik harapan yang masih sama, aku melangkahkan kaki dengan gontai. Mata yang tidak bisa bekerjasama, membuat pagi itu terasa sangat lengkap. Aku tidak memiliki alasan mengapa aku pergi ke sekolah, tetapi tidak ada alasan juga untuk tak datang.
Kebosanan yang penat seketika terpecahkan, oleh sesosok figur yang melangkah mencuri lamunan. Sepertinya hati sudah mulai terpikat pesonanya. Di tengah sulitnya mencari celah untuk menyapa, ternyata masih ada kode yang gagal membuat peka. Akhirnya aku paham, bila ini waktu yang salah. Sembari mengumpulkan keberanian, biarkan aku tetap menyapa mu dalam diam dan menatap mu dari kejauhan.
YOU ARE READING
Serpihan Kata Cerita Usang
Short StorySerpihan-serpihan rangkaian kata yang tersimpan menjadi cerita usang dimasa lalu.
