Prolog

8.1K 879 99
                                        


"Ana, semua barang udah selesai kamu kemasin, belum?"

Suara Mama yang keras dari lantai dasar membuat cewek yang tengah melipat barang terakhirnya itu mendengus kesal. Dia melempar kasar bantal kesayangannya sebelum secepatnya menjawab, "Udah, Ma... Udah semua."

Setelah itu, Mamanya tidak lagi berteriak menanyakan barang-barang yang harus dia bawa. Ya, berkemas untuk pindah dari kota metropolitan ini. Sejujurnya, Ana berat hati meninggalkan kota kelahirannya tersebut. Semua teman-temannya ada di Jakarta. Hampir segala yang dia punya ada di sini. Namun, apa boleh buat ketika sang Papa mendapat tempat tugas di kota lain dan mengharuskan keluarganya untuk pindah.

Sebelum itu, Ana sempat berdiskusi dan merayu Papanya agar ia masih tetap tinggal. Dia menggunakan alasan yang paling masuk akal, yaitu tetap meneruskan studi yang sudah berjalan satu tahun di Jakarta. Tetapi, ternyata tidak semudah yang dia perkirakan. Pratama menolak mentah-mentah permintaan Ana. Pria paruh baya itu tak akan pernah bisa membiarkan anak gadis satu-satunya untuk tinggal di Jakarta sendirian. Maka, dengan segala keterpaksaan, Ana harus ikut ke Jogjakarta. Gadis itu terpaksa menghentikan kuliahnya di Jakarta dan meneruskan studinya di sana. Ana sudah tidak bisa berkutik lagi karena semuanya sudah diurus oleh sang Ayah.

"Mulai besok, gue nggak bisa ketemu Tika lagi. Nggak bisa ngisengin si kampret Umar lagi. Nggak bisa ngasoy di warung Mbok Jum lagi. Nggak bisa ketemu... Hmm... Yah... Bryan lagi. Haaah!" keluh Ana sebelum benar-benar membawa koper berisi baju-bajunya keluar dari kamar.

Cewek bermata agak sipit itu memandang tiap sisi kamarnya lalu berkata, "Dan gue... Bakal kangen sama lo, kamar." Helaan napasnya terdengar lebih keras. "Ah, gue harus bener-bener pergi sekarang."

"Anaaaa!!"

Ah, itu suara Mamanya lagi.

"Iya, Mama... Ini Ana turun."

Sungguh, rasanya Ana kehilangan mood-nya hari  ini. Tapak kakinya terasa sangat berat, tidak sanggup untuk melangkah dari rumah.

Pratama tentu tahu apa yang dirasakan putri satu-satunya itu. Dia berinisiatif  menghampiri Ana untuk merangkul anak gadisnya dan berkata, "Maafin Papa ya, Ana."

Hanya sebuah anggukan lemah yang menjadi balasan dari Ana. Dia juga tidak bisa menyalahkan Ayah sepenuhnya. Semua keputusan Ayah pasti juga yang terbaik untuknya, bukan?

Sepanjang perjalanan, cewek itu hanya diam membisu seraya memeluk bantal kesayangannya, bantal pemberian dari Bryan, cowok yang diam-diam ia sukai sejak masuk ke perguruan tinggi. Ana benar-benar tidak akan bertemu seseorang yang membuatnya semangat di pagi hari seperti biasa itu dalam jangka waktu yang tidak dapat ditentukan.

Membayangkan hari-harinya yangㅡakanㅡmembosankan saja, Ana seolah-olah kehilangan semangat hidup. Kepala Ana bersandar pada sandaran duduk. Kedua pandangannya mengarah ke jendela pewasat.

"Semoga beruntung, Ana," gumamnya pada diri sendiri.







●■●■●■●





Bearliana Aulia Hermita (Ana)

Bearliana Aulia Hermita (Ana)

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Ig: anabearliana

•°•°•

Jimmy Adji Pambudi Suryodiningrat (Jimmy)

Jimmy Adji Pambudi Suryodiningrat (Jimmy)

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Ig: jimadjijo

Kalian bisa follow ig Role Player mereka loh 😉 yuk yuk mampir.

I Hate Bejo!Where stories live. Discover now