Satu

75 5 4
                                        

Bel sekolah berbunyi pertanda siswa masuk ke kelas masing-masing. Tetapi, khusus hari senin, bel ini menandakan bahwa para siswa harus segera menuju ke lapangan untuk mengikuti kegiatan upacara bendera. Hari ini bukan upacara bendera biasa, melainkan upacara pelantikan keanggotaan Organisasi Siswa Intra Sekolah atau yang disingkat menjadi OSIS.

Aku segera menempati barisan dengan bersemangat. Mataku mencari-cari seseorang yang seharusnya kutemui pagi ini. Tetapi mataku belum berhasil menangkap keberadaannya. Tidak apa-apa, memang tidak seharusnya dia bertemu denganku pagi ini. Dia pasti gugup.

"Upacara pelantikan keanggotaan OSIS akan segera dimulai." ucap si protokol dengan suara lantang.

Setelah semua murid berbaris dengan rapi menurut kelasnya masing-masing, upacara pun dimulai. Diawali dengan prosesi masuknya ketua osis dan jajarannya serta calon-calonnya. Mataku segera menangkap seseorang yang sedang berjalan tegap didepanku. Aku menahan tawa melihat wajahnya yang terlihat begitu tegang, seperti anak kecil yang mau disunat. Ini benar, aku tidak berbohong. Dilanjutkan dengan prosesi pelepasan gelar dan kini saat yang kutunggu tiba.

"Ketua OSIS SMA Brilliant tahun ajaran 2017/2018, Alvin Geovanni Erlando." kata Pak Heri yang kemudian disambut dengan tepuk tangan meriah dari seluruh siswa SMA Brilliant. Tak mau kalah, aku juga menepuk tanganku sekuat mungkin.

Alvin tersenyum singkat dan menerima sertifikat yang diberikan oleh Bu Ira, kepala sekolah SMA Brilliant. Terdengar beberapa siswa disampingku yang kini berbisik satu sama lain. Aku kurang yakin kalau mereka sedang berbisik, karena aku bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan. Kurang lebih seperti ini, "Ganteng.", "Eh, ganteng banget.", 'Gila, udah punya pacar belum, ya?", dan semacamnya.

Yap, aku mulai geram. Siapa yang tidak geram ketika pacar kalian dipuja-puja oleh wanita lain? Mataku melirik mereka tajam. Apa mereka tidak tahu kalau didekat mereka itu ada pacarnya? Atau mereka tidak tahu kalau aku pacarnya? Ugh, aku jadi kesal sendiri. Aku dan Alvin bukan termasuk murid yang famous ataupun most wanted. Sehingga, kabar tentang hubungan kami tidak terlalu dihiraukan oleh para penghuni sekolah ini.

Setelah puas melirik mereka-meskipun mereka tidak sadar-, aku mengalihkan pandanganku kearah Alvin yang secara kebetulan, melihat kearahku juga. Aku tersenyum lebar sambil mengacungkan kedua jempolku kearahnya. Dan dia membalas dengan senyuman mautnya. Ah, hatiku rasanya mau meleleh.

Kurasakan beberapa siswi sedang menoleh kearahku, khususnya yang tadi berbisik-bisik tentang pacarku. Aku menoleh balik kearah mereka dengan senyum kemenangan, sedangkan mereka memasang ekspresi kaget, sedih, dan masih banyak ekspresi lain yang tidak dapat kuartikan. Ingin kujulurkan lidahku, tetapi segera kukurungkan niatku karena mereka akan menganggapku aneh.

Setelah beberapa nama untuk jajaran pengurus OSIS yang baru dibacakan, upacara ditutup dengan prosesi masuknya beberapa pengurus OSIS yang baru dan lama. Seluruh siswa kembali ke kelas masing-masing, termasuk aku karena Alvin sedang berfoto bersama teman-temannya.

"Av," sapa Adera sambil menepuk pundakku.

"Oi." balasku.

"Tadi ada yang nanya ke gue tentang Alvin."

Aku menolehkan kepalaku secepat kilat. "Nanya apa?"

"Kelas berapa, udah punya pacar atau belum."

"Terus?"

"Ya gue jawab, 'Udah, pacarnya sahabat gue'." ucap Dera sambil menirukan nada bicaranya yang sinis, membuatku tertawa puas.

"Lo memang sahabat gue." kataku sambil menepuk-nepuk bahunya dan kami tertawa bersama.

**

Ctung!

Sebuah notifikasi pesan masuk berbunyi dari handphone ku. Segera kubuka untuk mengetahui isi pesan tersebut.

ALVAWhere stories live. Discover now